Cerdas Lawan Radikalisme: Pemuda Harus Melek Media

Cerdas Lawan Radikalisme: Pemuda Harus Melek Media

- in Suara Kita
132
0

Pemuda menjadi target utama doktrinasi ideologi radikal terorisme bagi gerakan kelompok radikal. Bahwa hampir mayoritas pelaku bom dan kekerasan teror di Indonesia berumur antara 19-35. Fakta bahwa 80% dari 600 terduga teroris yang ditangkap adalah remaja berumur 18-30 tahun. Saya sontak merinding sekaligus merenung ketika disuguhkan data mengenai hal ini pada saat mengikuti pelatihan duta damai dunia maya Mataram beberapa waktu lalu.

Mengapa anak muda?. Fakta bahwa anak muda selalu memiliki semangat menggebu-gebu dalam mencoba segala hal yang baru. Tak bisa dipungkiri bahwa pemuda menjadi pewaris penerus bangsa ini. Sehingga terkadang tanpa sadar dalam proses pengembangan diri dan pencarian jati diri ,mereka salah langkah dan terperangkap untuk dijadikan tumbal oleh kelompok ekstrimis dengan iming-iming surga.

Salah satu dari sekian bejibun penyebab adalah karena pemuda tidak melek literasi. Pemuda tidak peka bahkan terkadang acuh dengan informasi perkembangan gerakan-gerakan teroris di nusantara baik melalui buku maupun dunia maya. Kalaupun sangat aktif di media sosial tapi seringkali menelan mentah-mentah setiap informasi tanpa cek and ricek. Pun  tidak sadar bahwa dirinya sedang dibidik dan menjadi Incaran. Mangsa empuk.

Urgensi Melek Literasi bagi Pemuda

Literasi seperti yang kita fahami adalah kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Education Development Center (EDC) juga menyatakan, literasi lebih dari sekedar kemampuan baca tulis. Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan keterampilan (skills) yang dimilii dalam hidupnya. Dengan pemahaman bahwa literasi mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia.

Saya tegaskan kembali melek literasi tidak hanya dimaknai membaca kata, tapi membaca dunia. Artinya dalam menangkal radikalisme, pemuda harus menjadi agen cerdas dengan strategi jitu anti mati kutu apalagi mati gaya. Berikut beberapa tips menjadi pemuda cerdas lawan radikalisme.

Pertama, pemuda harus progresif dan cermat dalam melihat setiap juta informasi yang berseliweran per sekian detik. Teliti melihat sumber informasi dengan membiasakan diri saring sebelum sharing. Tidak asal yang penting posting tapi memposting hal-hal yang penting. Wabilkhusus tentang anti radikalisme dan terorisme.

Kedua, aktif menulis konten-konten positif. Hal tersebut sebagai penangkal konten negatif yang mengancam integritas bangsa yang bhineka tunggal ika. Terus menggalakkan narasi-narasi damai, persaudaraan, dan toleransi baik di dunia maya maupun dunia nyata. Sehingga pemuda zaman now tidak hanya dianggap sebagai generasi millennial yang tak banyak memberikan manfaat bagi negeri. Buktikan pemuda bisa.

Ketiga, menjadi katalisator menyuguhkan media alternatif yang berimbang dan memberikan kesejukan. Barangkali maraknya konten-konten radikal anti NKRI yang dengan gampang bisa ditemukan dan dikonsumsi di dunia maya adalah karna kurangnya media tandingan yang menyuguhkan konten-konten cinta damai dan NKRI harga mati.

Keempat, melakukan gerakan secara offline memberikan pemahaman tentang bijak bermedia sosial agar tidak menjadi korban kelompok radikal, baik di tempat umum seperti car free day hingga goes to school.

Well, demikian tips dari saya bagaimana cara pemuda cerdas lawan radikalisme. Sebagai penutup jangan lupakan pesan dari pak presiden Joko Widodo: terorisme, radikalisme, ekstrimisme harus dihadapi tanpa kompromi. Jangan sampai ada kompromi dengan hal-hal yang berkaitan dengan terorisme. Negara harus menang.

Facebook Comments