Diplomasi Soekarno Dan Duka Palestina

Diplomasi Soekarno Dan Duka Palestina

- in Narasi
177
0

Soekarno sebagai seorang pemikir dan pemimpin pergerakan yang terbesar sepanjang sejarah bangsa Indonesia. Bahkan Michael Leifer dalam bukunya Indonesia Foreign Policy, sebenarnya Soekarno telah berpikir maju satu dekade lebih cepat dari Jamannya. Dalam sejarah dunia belum ada suatu organisasi yang tidak disponsori oleh negara maju.

Namun, dengan adanya Konfrensi Asia-Afrika, Soekarno tampil mempesona, karena kemampuan menggalang solidaritas negara terjajah. Seorang pemimpin dari suatu negara dari belahan dunia berkembang yang tidak pernah diperhatikan mampu membentuk organisasi yang mengimbangi kekuatan negara maju.

Jejak-jejak pemikiran Soekarno muda dia, hingga menjadi kepala Negara, konsisten melalui retorikanya membangun kesadaran dan konsisten terhadap anti Imprealisme dan kapitalisme. Dia menyadari bahwa bangsa Indonesia dan Negara-negara terjajah tidak hanya mengahadapi satu negara atau beberapa negara Imprealis dan kapitalis, tetapi menghadapi suatusistem imprealisme dan kapitalisme internasional. Untuk itu dia giat membangun kesadaran dan solidaritas negara terjajah membangun kekuatan mengahadapi sistem tersebut.

Soekarno menyadari peta politik Internasional bahwa selain Nasionalisme, dan ideologi Marxisme, Islam sebagai kekuatan yang mampu mengimbangi Imprealisme dan kapitalisme internasional. Melalui konfrensi Islam Asia – Afrika, soekarno dalam pidatonya membangkitkan kesadaran dan persatuan untuk membangun kekuatan dalam menghadapi Negara-negara imprealis-kapitalis.

Sebagai pemikir dan pemimpin pergerakan Soekarno menyempurnakan pemikirannya melalui retorikanya di Sidang Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada tahun 1960, melalui pidatonya To Build The Worl New, dia menawarkan membangun dunia kembali yang lebih Adil, dan mengusulkan Pancasila sebagai piagam PBB.

Dalam komunikasi Internasional Soekarno memainkan peran “diplomasi tingkat tinggi” summit diplomacy, dimana peran kepala negara dominan dalam pelaksaan diplomasi. Dia tampil bukan hanya membawa pesan bahkan dirinya adalah pesan itu sendiri. Sehingga dunia mengenal Indonesia melalui dirinya. Kemampuannya dalam menggalang opini publik internasional dilihat bagaimana reaksi para pemimpin dunia menanggapi retorika dan sikap politik Soekarno. Sehingga dimanapun berada terutama diluar negeri menjadi sorotan media massa internasional.

Kenyataan dalam kehidupan politik menunjukkan, bahwa seorang pemimpin politik adalah orang yang memiliki kemampuan memobilisasi opini publik; dan kegiatan memobilisasi opini public komunikasi (Onong, 2000:159). Sehingga Soekarno kemudian tampil sebagai komunikator yang bepengaruh dan tampil terdepan mewakili Negara Asia-Afrika.

Seorang pemimpin dengan kemampuan retorikanya, mampu membangun suatu pemahaman dari pemimpin dan rakyat dari Negara-negara terindas tentu memiliki kredibilitas, dan kemampuan untuk mempengaruhi dan membangun solidaritas bersama Negara-negara terjajah tentu isi pesan dalam retorikanya mampu mengidentifikasi semua yang mendengarnya dengan apa yang dirasakan oleh Pemimpin retorikanya.

Konflik Palestina

Pada konteks ini, kekuatan diplomasi Soekarno perlu ditiru oleh masyarakat Indonesia. Meskipun sebenarnya, Indonesia sudah berupaya melalui kementrian luar negeri—Retno Marsudi—menyuarakan di forum internasional tentang dukungan Indonesia terhadap Palestina dan meminta organisasi internasional untuk mengambil sikap tegas atas serangan Israel kepada masyarakat sipil di sana.

Akan tetapi, diplomasi tersebut masih belum membuahkan hasil. Semoga dengan upaya-upaya diplomasi yang sudah dilakukan perwakilan kementrian luar negeri Indonesia, mampu membuahkan hasil yang bagus. Sehingga, tidak ada lagi korban jiwa di antara kedua belah pihak.

Facebook Comments