Gus Dur dan Urgensi Dakwah ala Nusantara

Gus Dur dan Urgensi Dakwah ala Nusantara

- in Narasi
1183
0
Gus Dur dan Urgensi Dakwah ala Nusantara

“…Akeh kanga pal Qur’an Haditse, Seneng ngafirke marang liyane, kafire dewe dak digatekke, yen isih kotor ati akale,,,”. (Syi’ir Tanpo Waton, yang dipopulerkan Gus Dur.

Gubahan Syair Gus Dur ini seketika menjadi oase baru di tengah peliknya fenomena keberagamaan kita hari ini. Gus Dur dahulu menjadi kritikus kepada pendakwah yang provokatif dan cenderung normatif dalam menyampaikan dakwahnya. Mengingat fenomena ruang publik kita semarak dengan isu seputar problem sosial keagamaan, terutama semenjak kedatangan Muhammad Rizieq Shihab ke Indonesia.

Di tengah kondisi demikian, penulis kemudian merindukan sosok Gus Dur yang dalam sejarahnya selalu meneduhkan ruang publik dengan berbagai titah dakwahnya. Karena fenomena keberagamaan saat ini kian tak menentu, penuh dengan intrik politik dan ideologis. Dakwah Gus Dur itu sangat ngeNUsantara, hal ini bisa dilihat dari busana yang ia gunakan. Di tengan masifnya para ulama mengenakan jubah agamanya, Gus Dur sebagai ulama besar tetap konsisten menggunakan baju sederhana sesuai dengan konteks lokalitasnya.

Sejak kedatangan Rizieq di Indonesia, seketika membuat gaduh publik dengan berbagai dakwah provokatifnya tentang isu-isu sosial-politik. Kondisi ini secara tidak langsung merupakan serangan sipil bagi pemerintah, bahkan beberapa pengamat menyebutkan, “serangan tak langsung” berbasis sipil yang dilakukan oleh massa FPI khususnya hasutan kebencian oleh Imam Besarnya (Rizieq) ini telah menyebabkan pemerintah kelabakan.

Apalagi di tengah kondisi pandemi seperti ini, mengakibatkan realitas masyarakat semakin runyam di saat sedang bertarung dengan virus mematikan covid-19. Jika kita sadari, akhir-akhir ini narasi dakwah sangatlah politis, yang banyak dibumbui oleh hasutan kebencian, terutama sebagian besar yang diserap oleh netizen dari kalangan muslim urban sangatlah kontraproduktif dengan dakwah Islam yang sejati, Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

Berkenaan dengan hal itu, dalam momentum bulan Gus Dur ini, penulis hendak merefleksikan kembali pemikiran Gus Dur tentang spirit keberagamaan yang sejati, yang ia peras dari relung nadi tradisi keislaman klasik yang kemudian dikontekstualisasikan dengan zaman modern. Dalam dakwahnya, Gus Dur itu menggunakan spirit keislaman berbasis lokal disesuaikan dengan audiensnya.

Kita ketahui bersama bahwa Gus Dur merupakan sosok tokoh yang sangat dikagumi oleh masyarakat dalam ranah gagasan Intelektualnya dan daya magis spiritualnya. Ia adalah tokoh lintas agama, Budayawan, Ulama, Penggerak HAM, dan seabrek identitas yang multidimensional lainnya. Tidak diragukan lagi, Gus Dur dengan kejeniusan pemikirannya telah menembus batas-batas kemanusiaan, yang dalam ranah ke-Indonesiaan begitu menjulang tinggi bak mercusuar.

Dalam konteks ke-Indonesiaan, Gus Dur sendiri diibaratkan sebagai lokomotif Kereta api cepat Jepang, sedangkan kita sebagai Civil Society ibarat gerbong kereta Api Indonesia yang lajunya lambat. Ini menunjukkan kapasitas Gus Dur sebagai pemikir dan cendekiawan Muslim tidak bisa diragukan otoritasnya. Gus Dur pun ketika itu, berdakwah bukan hanya melalui majelis taklim di kalangan Nahdlatul Ulama, namun hingga ke Gereja, Klenteng dan sebagainya, serta juga di media massa, yang ketika itu sangat digandrungi oleh kalangan elit-akademis.

Gus Dur di masa hidupnya selalu berupaya mengangkat derajat kemanusiaan, yang mana pada masa Orde Baru selalu mengalami represi yang bahkan sangat over lapping. Meninjau pemikiran Gus Dur dalam Konteks saat ini sangatlah penting untuk kita aktualisasikan dalam rangka bukan menjadi Gus Dur, tetapi dalam rangka meneruskan perjuangan pemikiran dan intelektual Gus Dur.

Karena kondisi covid-19 ini, kita telah banyak kehilangan para ulama dan tokoh agama yang meneduhkan hati. Kita pun sejatinya perlu merefleksikan hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan yang perlu perjuangkan dalam rangka memanusiakan manusia. Saat ini, kita mengalami krisis tokoh pejuang kemanusiaan seperti Gus Dur, maka tidak berlebihan jika kita meninjau dan menelaah secara mendalam pemikiran Gus Dur. Gagasan Gus Dur diantaranya, Pluralisme, Pribumisasi Islam, Relasi Islam dan Negara, Pesantren dan Tradisi, serta gagasan yang lainnya. Idealnya kita perlu mengasah dan refleksikan agar dapat memaknai hidup lebih optimal nan proporsional.

Dalam salah satu bukunya, “Islamku, Islam anda, Islam Kita” (2010), Gus Dur mengatakan bahwa Islam tidak perlu diformalisasi, karena agama lebih luas dari hal itu. Formalisasi agama akan menyempitkan peran agama itu sendiri. Beragama pun hendaknya memanusiakan manusia dan harus disertai dengan nilai moderatisme. Jika dalam dakwah seorang tokoh terdapat intrik politis untuk memformalkan agama, maka ia sejatinya dia telah mendistorsi agama itu sendiri. Agama itu hanya perlu dikontekskan dengan situasi lokalitasnya.

Di masa hidupnya, Gus Dur tidak pernah memilah dan memilih untuk berdakwah, semua tempat ibadah ia kunjungi dalam rangka untuk menyampaikan kebenaran Islam. Karena bagi Gus Dur, kita hanya bertugas untuk menyampaikan kebenaran agama, bukan untuk memaksa orang lain untuk berkeyakinan sama dengan dirinya. Beragama haruslah menjadi petunjuk dan pengarah ke jalan yang benar dan tidak menyesatkan orang lain dengan paradigma normatif yang mengenyampingkan historisitas agama itu sendiri.

Facebook Comments