Hakikat Insan Fitri: Steril dari Fanatisme dan Ekstremisme

Hakikat Insan Fitri: Steril dari Fanatisme dan Ekstremisme

- in Narasi
580
0
Hakikat Insan Fitri: Steril dari Fanatisme dan Ekstremisme

Ramadan tinggal menyisakan hitungan hari. Sebentar lagi umat Islam akan merayakan Idul Fitri. Tahun ini, perayaan Idul Fitri akan berbeda hari. Muhammadiyah berdasar metode hisab menetukan 1 Syawal pada Jumat 21 April 2023. Sedangkan pemerintah dan NU yang menggunakan metode ru’yatul hilal kemungkinan besar menentukan Idul Fitri tahun ini bertepatan pada hari Sabtu 22 April 2023.

Hal itu ini tentu bukan fenomena baru. Umat Islam Indonesia sudah terbiasa dengan perbedaan penentuan Idul Fitri. Namun demikian, masih saja ada pihak-pihak yang menggoreng isu ini untuk mengadu-domba sesama umat Islam. Bahkan, muncul narasi yang menyebutkan bahwa jika Indonesia berhasil menegakkan sistem khilafah, maka hari raya Idul Fitri akan selalu dirayakan serempak.

Jika kita masih berdebat ihwal khilafiyah seperti perbedaan hari Idul Fitri, apalagi dibarengi sentimen kebencian, pada dasarnya kita belum lulus menjalani Ramadan. Bagaimana tidak? Hakikat puasa ialah menjinakkan segala hawa nafsu negatif. Termasuk nafsu menebar intoleransi dan kebencian terhadap kelompok yang berbeda pandangan keagamaan.

Bagi muslim yang lulus ujian Ramadan, Idul Fitri ialah titik balik atau semacam gerbang menuju dimensi kehidupan baru. Ibadah mahdhah selama bulan Ramadan menjadi sarana penggugur dosa-dosa vertikal. Yakni dosa manusia terhadap Tuhannya. Di momen Idul Fitri, umat Islam saling bermaafan satu sama lain. Tradisi halal bi halal ini mampu merontokkan dosa-dosa sosial. Yakni dosa yang tercipta dari hubungan sosial sesama manusia.

Antara Doktrin Insanul Fitri dan Konsep Tabularasa

Manusia yang bersih dari dosa vertikal dan steril dari dosa sosial itulah yang layak menyandang gelar sebagai “insanul fitri” alias manusia suci. Jika ditilik dari perspektif filsafat, hakikat insanul fitri ini mirip dengan konsep “tabularasa” yang diperkenalkan pertama kali oleh John Locke. Tabularasa adalah konsep yang meyakini bahwa manusia pada dasarnya ialah lembaran kertas putih yang kosong dan suci. Lingkungan dan pergaulan sosiallah yang mengotori kertas putih tersebut.

Di dalam Islam, Rasulullah Muhammad Saw pernah bersabda bahwa “Setiap bayi lahir dalam keadaan suci. Orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. Hadist ini menyiratkan pesan bahwa semua manusia pada dasarnya suci. Lingkungan dan kehidupan sosial yang membentuknya menjadi pribadi yang berbeda-beda. Konsep “insanul fitri” dan tabularasa ini juga mendapat validasi dari teori psikologi.

Di dalam psikologi diyakini bahwa setiap manusia memiliki potensi baik. Manusia bisa menjadi yang jahat karena pengaruh eksternal yang masuk ke jiwa dan pikirannya. Maka, menjadi penting bagi manusia untuk menjaga kesehatan mentalnya sehingga bisa terus menjaga potensi baik tersebut.

Pendek kata, dari sisi agama (Islam) fitrah manusia ialah baik, sedangkan dari sisi filsafat manusia itu pada dasarnya murni alias kosong layaknya kertas putih. Terakhir, dari sisi psikologi manusia itu pada dasarnya memiliki kecenderungan baik dan bijak.

Ritual puasa Ramadan yang dilakukan satu bulan saban tahunnya kiranya bisa menjadi semacam latihan fisik dan mental untuk menjaga seluruh potensi manusia tersebut. Dengan berpuasa, manusia dikondisikan untuk berpikiran positif (sabar, ikhlas, dll) serta meredam kecenderungan destruktif yang muncul dari dalam maupun datang dari luar dirinya. Capaian tertinggi muslim yang berpuasa ialah ketika ia sehat fisiknya, stabil mentalnya, dan bersih jiwanya.

Insan Fitri dalam Konteks Indonesia Kekinian

Lebih spesifik dalam konteks keindonesiaan, salah satu indikasi insan fitri ialah steril fanatisme politik dan ekstemisme agama. Fanatisme politik dan ekstremisme agama adalah dua fenomena yang begitu populer dalam lanskap kehidupan politik dan agama kita belakangan ini. Fanatisme politik melahirkan polarisasi dan perpecahan di tengah masyarakat. Sedangkan ekstremisme agama melatari maraknya intoleransi, teror, dan kekerasan atas nama agama.

Fanatisme politik dan ekstremisme agama tidak diragukan merupakan momok menakutkan bagi bangsa yang majemuk seperti Indonesia. Ironisnya, fenomena fanatisme politik dan ekstremisme agama itu tidak hanya mengemuka di dunia nyata, namun juga mewabah di dunia maya. Buktinya, kanal-kanal media sosial belakangan ini didominasi oleh konten dan narasi yang bertendensi provokasi. Medsos yang idealnya menjadi ajang silaturahmi berevolusi menjadi corong untuk memaki. Jika dibiarkan, kualitas moral dan etika bangsa ini akan merosot ke titik paling nadir.

Perayaan Idul Fitri 1444 Hijriah ini kiranya bisa melahirkan sebuah gerakan kebangsaan kembali ke fitrah manusia Indonesia. Jika merujuk pada peradaban Nusantara, karakter manusia Indonesia dikenal moderat, toleran dan inklusif. Nusantara ialah prototipe ideal bagaimana mengelola kemajemukan agama, suku, dan bangsa dalam bingkai persatuan. Fitrah Nusantara sebagai bangsa yang majemuk namun toleran itulah yang seharusnya kita jadikan acuan untuk kembali.

Facebook Comments