Cerita 1: Ancaman Intoleransi di Dunia Pendidikan

Cerita 1: Ancaman Intoleransi di Dunia Pendidikan

- in Faktual
461
0
Cerita 1: Ancaman Intoleransi di Dunia Pendidikan

Ancaman intoleransi itu tak sekadar menyasar orang-orang yang tak terdidik. Dia juga menyasar terhadap orang-orang yang terdidik. Sebab, propaganda intoleransi akan juah lebih transparant ketika orang terdidik menjadi intolerant.

Dalam contoh kasus, beberapa hari yang lalu, Saya bertemu dengan salah satu mahasiswa akhir STAI At-Taqwa Bondowoso. Dalam sebuah obrolan, dia mengatakan bahwa hukum agama lebih tinggi dibanding hukum negara.

Lebih lanjut, mahasiswa ini menunjukkan beberapa ayat kepada Saya. Yaitu: Qs An-Nisa’:59, Qs At-Taubah:29, Qs Al-Maidah:51. Dalam pandangannya: pemimpin harus dari Islam, bukan golongan kafir. Negara ini juga dianggap perlu menegakkan “syariat agama”.

Dalam kesimpulan yang Saya miliki. Mahasiswa ini cenderung ekslusif dan anti terhadap non-muslim yang disebut “kafir” itu. Kegandrungan atas “negara Islam” membuat dia lupa diri memahami substansi-makna fungsional serta konteks historis di balik ayat yang disebutkan itu.

Tentu, ini adalah bagian dari fakta dosa lembaga pendidikan di balik pola-pikir intolerant itu. Sebab, membandingkan hukum negara dan hukum agama sama-halnya membangun justifikasi reduksionis. Bahwa, hukum negara dianggap tak sakral, bukan dari Tuhan atau bahkan dianggap buatan manusia yang tak perlu ditaati.

Dalam konteks pemimpin dalam bernegara, Islam tak pernah membangun pengidentifikasian identitas bahwa orang yang beragama Islamlah yang hanya “layak” memimpin. Akan tetapi, Islam lebih condong mengacu terhadap “kualitas” dibanding identitas primordial.

Sebab, banyak umat Islam yang pernah menjabat di pemerintahan yang korup, tak adil dan hanya memperkaya diri. Maka, di sinilah letak fundamental, mengapa Al-Qur’an tak pernah membuat klaim sepihak berdasarkan identitas tertentu yang layak memimpin.

Al-Qur’an mengerucut ke dalam kualitas pemimpin yang membawa rasa adil, kesejahteraan, keamanan, kedamaian dan menjalankan visi-misi Islam rahmatan lil alamin itu jadi, Islam tak pernah menyebut identitas tapi kualitas.

Semua pemahaman yang semacam ini tampaknya perlu ditanam dalam dunia pendidikan. Sebab, klaim ekslusif dan rasa alergi atas keragaman. Tampaknya menjadi problem besar di lembaga pendidikan.

Seperti dalam kasus yang Saya temui ini. Merupakan satu fakta penting, bagaimana pola-pikir intoleransi dan alergi atas non-muslim itu masih terus mengakar-membudaya. Ini tidak bisa dibiarkan, karena akan membangun “regenerasi” pola-pikir yang sama itu.

Memang mahasiswa tersebut tak memiliki niatan untuk membunuh. Apalagi memerangi “orang kafir” seperti yang diklaim dengan ayat di atas. Tetapi, dia memiliki jihad untuk menyebarkan propaganda yang intolerant yang semacam itu.

Sebab, ini bahayanya tentu mengacu terhadap hubungan sosial di tengah keragaman. Karena, dengan pemahaman yang semacam itu, niscaya generasi bangsa akan semakin berjarak, acuh dan bahkan menganggap mereka yang berbeda agama dianggap musuh.

Facebook Comments