Hakikat Puasa: Cara Islam Mengajarkan Bertuhan dan Berperikemanusiaan

Hakikat Puasa: Cara Islam Mengajarkan Bertuhan dan Berperikemanusiaan

- in Suara Kita
886
0
Hakikat Puasa: Cara Islam Mengajarkan Bertuhan dan Berperikemanusiaan

Hidup ini perlu interaksi. Interaksi sama Allah SWT (habluminallah) dan interaksi pada sesama manusia (habluminannas). Setiap ibadah pun juga memegang kedua prinsip interaksi ini. Kedua interaksi ini perlu keseimbangan maka umat Islam harus mampu mengaplikasikan ini disetiap perintah ibadah. Perintah ibadah puasa selain wujud interaksi hamba kepada Allah SWT tetapi juga memiliki sisi-sisi kemanusiaan.

Habluminallah dan habluminannas sudah tersirat dalam Al-Qur’an dan Hadist. Tinggal umat Islam mempelajari keduanya supaya bisa mengamalkan habluminallah dan habluminannas. Momentum bulan suci Ramadan ini marilah kita pupuk habluminallah dan habluminannas dengan berbagai amal baik. Habluminallah dalam Ramadan bisa dikuatkan dengan berbagai rangkaian ibadah.

Ibadah di bulan suci ini tentunya umat Islam mengalami peningkatan; baik ibadah puasa, sholat tarawih, tadarus Al-Qur’an, tadarus kitab dan pengajian-pengajian. Habluminannas dalam bukan ini juga tidak kalah program peningkatannya. Bisa kita lihat semangat berbagi, saling tolong-menolong, menghormati antarsesama manusia dibulan ini juga meningkat drastis. Semoga habluminallah dan habluminannas selalu terjaga dalam jiwa masyarakat Indonesia terlebih disaat pandemi Covid-19 melanda dunia.

Dasar hukum habluminallah dan habluminannas sudah tersampaikan dalam Al-Qur’an Surat Ali Imron ayat 112 yang artinya, “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.”

Baca Juga : Ramadhan, Covid-19 dan Kohesivitas Sosial

Ayat ini dalam tafsir jalalayn ditafsiri sebagai berikut, “(Ditimpakan atas mereka kehinaan di mana pun mereka berada) sehingga bagi mereka tak ada kemuliaan dan keamanan (kecuali) dengan dua hal: (dengan tali dari Allah dan tali dari manusia) yang beriman, yang merupakan janji dari mereka kepada Ahli Kitab bahwa mereka akan diberi keamanan dengan imbalan pembayaran upeti, maka tak ada jaminan bagi mereka selain dengan itu (dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan ditimpakan atas mereka kerendahan. Demikian itu bahwa mereka) artinya disebabkan karena mereka (kafir akan ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu) sebagai pengukuhan (disebabkan mereka durhaka) akan perintah Allah (dan mereka melanggar batas) artinya melampaui yang halal hingga jatuh kepada yang haram.” Sudah sangat jelas bahwasanya habluminallah dan habluminannas harus seimbang dalam kehidupan sehari-hari.

Dasar hukum habluminallah dan habluminannas juga dikuatkan hadist Nabi yang diriwayatkan At-Tirmidzi yang artinya, “Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambeliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskan (keburukan). Dan pergauilah manusia dengan akhlak yang mulia.” Jadi tambah jelas porsi habluminallah dan habluminannas dalam kehidupan beragama dan bersosial.

Habluminallah merupakan perintah bertaqwa kepada Allah setiap tempat dan setiap waktu. Maka dalam konteks dasar kenegaraan Indonesia sudah diatur dalam sila ke satu yaitu, “Ketuhan yang maha Esa.” Artinya semua warga Indonesia diwajibkan bertuhan dan dalam beragama memiliki tugas taqwa atas perintah maupun larangan tuhan-Nya.

Sedangkan habluminannas dalam kehidupan sehari-hari menjadi alat untuk mewujudkan sila ke-kedua sampai sila ke-lima. “Kemanusian yang adil dan beradab,” butuh habluminannas dalam konteks kemanusian dan budi pekerti. “Persatuan Indonesia,” butuh habluminannas keharmonisan sosial untuk mempererat persatuan. “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan,” butuh habluminannas dalam bernegara dengan upaya mengedepankan musyawarah untuk kepentingan negara dan masyarakat. Terakhir, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” butuh habluminannas untuk mewujudkan masyarakat dan pemimpin yang mampu menjaga hak maupun kewajiban masing-masing.

Bangsa Indonesia pernah punya teladan yang seimbang habluminallah dan habluminannas yaitu KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Aspek kemanusiaan menjadi perhatian utama seorang Gus Dur dalam setiap pemikiran, pandangan, dan gerak langkahnya. Maka dari itu, di dalam batu nisannya tertulis here rest a humanist (di sini istirahat seorang humanis). Sosok yang dekat siapa saja sekaligus mencintainya. Kalau soal bertuhan Gus Dur tak diragukan lagi. Gus Dur pernah berpesan singkat, namun mendalam dan penuh makna, “Mari kita wujudkan peradaban di mana manusia saling mencintai, saling mengerti, dan saling menghidupi” Beliau mengatakan tiga substansi soal hubungan antar-manusia. Ketiga substansi soal hubungan antar manusia ini bisa buat modal rakyat Indonesia dalam menghadapi wabah Covid-19. Marilah dibulan Ramadan ini kita jadikan madrasah (sekolah) menseimbangkan habluminallah dan habluminannas demi terwujudnya umat yang humanis dengan derajat ketaqwaan di tengah keperihatinan saat ini.

Facebook Comments