Jihad Bela Negara untuk Pembebasan, Bukan Pemusnahan

Jihad Bela Negara untuk Pembebasan, Bukan Pemusnahan

- in Suara Kita
143
0

Indonesia sebagai negara yang pernah mengalami pengalaman pahit dalam belenggu penjajah, tentu hal tersebut tidak ingin dialami kembali untuk kesekian kalinya, apapun bentuk penjajahan tersebut. Oleh sebab itu semangat resolusi jihad yang pernah di Fatwakan atau diserukan oleh KH. Hasyim Asy’ari harus ditanamkan pada generasi penerus bangsa ini.

Namun hal yang perlu dipahami bahwa memaknai jihad haruslah dengan makna pembebasan, jika dalam pendidikan, maka jihad nya adalah pembebasan dari kebodohan, jika melawan kemiskinan, maka jihadnya adalah dengan pembebasan dari kemiskinan, jika jihad melawan “melawan mereka yang “radikal” maka jihadnya adalah dengan deradikalisasi. Bukan jihad dengan memusnahkan mereka yang dianggap “bodoh/Jahili”, memusnahkan mereka yang “miskin” atau memusnahkan mereka yang “radikal”.

Jihad Deradikalisasi 

Dengan semangat deradikalisasi tentu banyak hal yang dapat disumbangkan untuk mencegah adanya jihad secara”radikal” seperti bom bunuh diri, memerangi mereka yang dianggap tidak sepaham dan lain-lain.

Bangsa indonesia hari ini menghadapi masalah yang sangat serius yang meliputi krisis global dan juga terorisme. Untuk menghadapi dua keadaan itu, kita bisa semakin mengokohkan dan menguatkan sendi-sendi kehidupan kita dengan cara menumpuk pemahaman dalam keragaman secara benar dan sekaligus mengambil peran-peran yang baik sebagai warga negara.

Hal tersebut dilakukan agar kita dapat mengantisipasi pelbagai macam perkembangan yang terjadi di lingkungan kita. keadaan ekonomi yang serba sulit, jika tidak dilandasi pemahaman agama yang benar, maka masyarakat akan mudah terombang-ambing untuk turut dalam aktivitas yang pada akhirnya justru merugikan sesama. (KH. Said Aqil Siroj: 2016)

Deradikalisasi Dalam Bentuk Keteladanan

Nabi Muhammada SAW dalam melakukan deradikalisasi kepada mereka yang jelas-jelas mendeklarasikan diri sebagai musuh kepada beliau, selalu dengan penuh kesabaran dan ketenangan serta pemahaman yang mendalam bahwa orang yang memusuhi beliau sebenarnya belum paham dengan apa menjadi tujuan dakwah beliau.

Betapa indah akhlak beliau. Kematangan akhlaknya salah satunya tampak ketika beliau menjadi orang pertama kali menjenguk orang yang setiap hari meludahinya, ketika orang tersebut jatuh sakit. Bahkan beliau mendoakan untuk kesembuhannya. Keluhuran akhlaknya menjadi cermin benggala yang bersih nan indah bagi kita semua. Kita meniru akhlak beliau pasti menjadi orang yang selamat dan bahagia dunia dan akhirat.

Setelah sekian lama orang yang sering meludahi beliau melakukan aksinya, akhirnya menyatakan masuk Islam dan menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW setelah mendapati betapa mulianya akhlak beliau. Karena setelah hampir setiap hari dianiaya ternyata beliaulah orang yang pertama kali datang menjenguk ketika pelaku terror secara “radikal” tersebut jatuh sakit.

Imam Al Gazali menjelaskan bahwa akhlak adalah wajah batiniah manusia. Ia bisa indah dan bisa juga buruk. Akhlak yang baik adalah akhlak yang mampu meletakkan kejernihan fikir, emosi, keinginan-keinginan syahwat, dan angan-angan secara proporsional, dalam jiwa manusia, serta mampu meletakkan dan menggunakan secara adil dalam dirinya. Manusia yang berakhlak baik adalah orang yang tidak melampaui batas dalam empat hal di atas, dan juga tidak mengabaikannya secara total. Ia akan sangat adil dan proporsional dalam menggunakan ke empat anugerah ilahi tersebut. (Amin Mustofa: 2015)

Kemudian kita tau bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, belasan ribu pulaunya terbentang asri, ratusan juta ummat manusia di dalamnya dengan keanekaragaman yang tak ada bandingannya di seatero dunia, baik agama, suku, budaya, bahasa dan masih banyak keragaman lokal lainnya. Untuk menyikapi semua itu tentu tidak ada kata lain kecuali membentenginya dengan nasionalisme dengan pondasi toleransi yang mapan. Satu kata “Jihad satukan perbedaan untuk Indonesia yang rahmatan lil alamin”

Facebook Comments