Khilafah, Politik Kuda Troya dan Romantise Islam di Indonesia

Khilafah, Politik Kuda Troya dan Romantise Islam di Indonesia

- in Suara Kita
22
0
Khilafah, Politik Kuda Troya dan Romantise Islam di Indonesia

Memang sudah tidak asing lagi apabila membicarakan tentang Kuda Troya. Permainan politik dengan berpura-pura kalah yang diperankan oleh pasukan Yunani terhadap pasukan Troya, dan menyimpan pasukannya di dalam kuda besar untuk menghancurkan kota dan pasukan Troya sudah sangat melegenda. Yang menjadi daya tarik akan cerita ini ialah, bahwa strategi yang digunakan raja Yunani waktu itu, Raja Agamemnon berhasil  membuat kegagalan orang Yunani selama sepuluh tahun berhasil mengalahkan pasukan Troya dalam jangka waktu satu malam. Berangkat dari sinilah kemudian muncul film Troy yang berhasil menghipnotis banyak orang untuk mengenal politik Kuda Troya.

Pada saat ini politik Kuda Troya diyakini muncul kembali di tengah-tengah bangsa Indonesia, yaitu dilakukan oleh gerakan khilafah. Bisa dikatakan mereka bisa bersembunyi di balik selimut tebal NKRI. Bangsa Indonesia yang menjunjung tentang HAM dan demokrasi inilah yang kemudian dimanfaatkan khilafah untuk membentengi dirinya. Seperti misalnya mereka menyuarakan tentang khilafah, menebar kata kafir, murtad, sampai dengan jahiliyah. Karena ini dianggap tidak bertentangan dengan demokrasi dan merupakan hak bicara.

Kredo inilah yang harusnya diwaspadai bersama, bahwasanya tidak menutup kemungkinan khilafah akan dengan lantang menyuarakan tentang ajaran Islam yang berbeda. Sebagaimana yang diungkapkan Gus Dur, Kelompok dan gerakan ekstrim tersebut memiliki agenda yang sangat berbeda dengan ormas-ormas Islam moderat seperti NU dan Muhammadiyah. Merebaknya gerakan ini pasca reformasi telah sedikit memberi warna wajah Islam yang Intoleran, agresif, politis-ideologis, dan penuh penyebaran kebencian. Karena konsep mereka berasal dari dualism masyarakat Islam dan jahiliyah. Di luar kelompoknya adalah masyarakat Jahiliyah.

Baca Juga : Gerakan Khilafah, Nasionalisme Semu dan Ambiguitas Bela Pancasila

Menggunakan dua wajah yang untuk menggaungkan khilafah inilah yang kemudian menjadi perbincangan serius. Karena selain berusaha mendapat perlindungan dari NKRI, khilafah juga berusaha masuk ke pundi-pundi NKRI untuk menggantikan ideologi Pancasila. Hal ini terbukti dengan adanya banyaknya bibit-bibit yang hilafah berusaha melakukan pendekatan dengan pro Pancasila.

Berkaca dari sini seharusnya sudah sangat jelas bahwa, selain Indonesia merupakan bangsa yang multicultural, Islam yang ada di Indonesia juga berbeda dengan Islam yang diajarkan oleh khilafah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Gus Dur bahwa Islam yang ada di Indonesia lebih moderat dan Islam yang disebarkan oleh khilafah terkesan agresif, dan kerap kali juga tidak bisa dipungkiri, bahwa khilafah terlalu egois dengan menganggap dirinya benar dan apa yang dianut orang lain salah. Inilah yang sebenarnya bertolak belakang dari ideologi Pancasila yang mengedepankan bagaimana saling menghargai meskipun banyak perbedaan di dalam negara Indonesia.

Dari sinilah, romantisme Islam di Indonesia seharusnya menjadi bahan ajar yang sangat serius untuk ditularkan kepada banyak orang. Sehingga bisa menuai kebaikan-kebaikan yang menyenangkan ke depannya.  Dan Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi agar tercipta perdamaian dan terhindar dari kerusakan. Inilah yang seharusnya menjadi patokan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan juga dalam beragama. Sebab, hidup tidak Tuhan tidak hanya menilai manusia dari Ibadah dalam beragama saja, tapi ibadah dalam bersosial, seperti menolong sesama makhluk hidup juga memiliki kebaikan dan pahala yang sama. Untuk itu, tugas kita di dunia ini hanya menjadi lebih baik dan berguna bagi orang lain. Selebihnya biar orang lain yang menilai. Sebagaimana yang dikatakan Gus Dur, ketika kita sudah berbuat baik kepada orang lain, maka orang tersebut tidak akan mempertanyakan apa agamamu dan apa sukumu.

Facebook Comments