Khilafah sebagai Solusi Palestina : Propaganda Penuh Emosi dan Ilusi

Khilafah sebagai Solusi Palestina : Propaganda Penuh Emosi dan Ilusi

- in Narasi
135
0

Konflik antara Palestina dan Israel telah menjadi salah satu konflik terpanjang dan paling rumit dalam sejarah dunia. Selama puluhan tahun, warga Palestina dan Israel terlibat dalam pertempuran yang mengakibatkan penderitaan yang mendalam dan hilangnya banyak nyawa, khususnya warga Palestina.

Di tengah konflik ini, beberapa kelompok mempropagandakan ide khilafah sebagai solusi yang ideal dan mutlak untuk mengakhiri pertikaian tersebut. Mereka berpendapat bahwa dengan mendirikan khilafah, semua permasalahan di Timur Tengah, termasuk konflik Palestina-Israel, akan terselesaikan secara ajaib.

Dengan mengutip kejayaan masa lalu khilafah khususnya Turki Ustmani mereka mengandaikan lagi membangunkan khilafah dari liang kuburnya untuk menyelesaikan konflik yang ada. Namun, apakah solusi ini benar-benar realistis atau hanya ilusi yang mengalihkan perhatian dari fakta-fakta sejarah yang rumit?

Memahami Konfli Konflik Terlebih Dahulu

Konflik Palestina-Israel telah berlangsung selama lebih dari setengah abad dan menyisakan luka yang dalam bagi kedua pihak, terutama bagi rakyat Palestina yang terasing dari tanahnya sendiri. Meskipun berbagai upaya perdamaian telah dilakukan, kesepakatan yang memadai untuk mengakhiri konflik ini tetap sulit dicapai.

Faktor-faktor seperti klaim atas Yerusalem, perbatasan wilayah, pemukiman Israel di Tepi Barat, hak-hak warga Palestina, dan status Gaza terus menjadi pemicu ketegangan. Dalam konteks konflik yang rumit ini, egoisme semakin kuat untuk tidak pernah mengikuti kesepakatan yang sebenarnya sudah dimediasi sebelumnya.

Konflik ini tentu persoalan tanah kelahiran dan teritori negara. Rakyat Palestina hanya ingin mendapatkan kembali hak tanahnya untuk hidup damai di negerinya sendiri tanpa penggusuran dan darah yang tumpah. Rakyat Palestina dari berbagai kalangan termasuk Nasrani memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Dalam perjuangan itu kelompok pejuang kemerdekaan banyak memiliki pendekatan yang beragam dari pendekatan lunak diplomatik hingga militer kekerasan. Semuanya ingin dicapai untuk kembali meraih hak kemerdekaan atas tanah kelahiran mereka. Dalam konteks inilah, perjuangan kemerdekaan Palestina adalah perjuangan nasionalisme untuk kemerdekaan sebuah negeri yang diidamkan.

Ilusi Khilafah Menghampiri

Para pendukung ide khilafah mengklaim bahwa dengan mendirikan kembali sistem pemerintahan khilafah, semua masalah di dunia Islam akan terselesaikan. Mereka percaya bahwa khilafah akan menyatukan seluruh umat Islam di bawah satu bendera, memberikan mereka kekuatan kolektif yang tak terkalahkan. Tetapi, pandangan ini terlalu sederhana dan idealis.

Untuk memahami kompleksitas solusi khilafah dalam konteks konflik Palestina-Israel, kita harus melihat ke masa lalu. Kekhalifahan Utsmaniyah, salah satu khilafah terakhir dalam sejarah Islam, adalah contoh nyata tentang tantangan dan ketidakmampuan khilafah dalam mengatasi konflik.

Meskipun Utsmaniyah memiliki wilayah yang luas, mereka gagal melindungi wilayah Palestina dari invasi Inggris dan sekutu Perancis selama Perang Dunia I. Selain itu, banyak negara di Timur Tengah yang pada saat itu mencoba memisahkan diri dari kekuasaan Utsmaniyah karena merasa diabaikan atau diperlakukan tidak adil. Ini membuktikan bahwa konsep khilafah bukanlah jaminan perdamaian atau kesatuan.

Ada beberapa alasan mengapa solusi khilafah tidak realistis dalam konteks konflik Palestina-Israel. Pertama, khilafah modern dengan cakupan geografis yang luas dan kontrol atas berbagai entitas negara adalah ide yang tidak realistis. Keadaan politik dan geografis saat ini sangat berbeda dari masa khilafah pada abad pertengahan.

Memasuki dunia yang multipolar ide khilafah seakan ingin menghidupkan imperium baru yang akan menjadi musuh baru bagi berbagai negara. Bukan tidak mungkin, akan banyak negara-negara Islam yang enggan bergabung dalam sistem ini. Konsep khilafah lama dalam sistem emperium adalah konsep usang di tengah dunia multipolar saat ini.

Kedua, ada keraguan tentang bagaimana khilafah akan mengatasi berbagai perbedaan etnis, agama, dan budaya di wilayah Timur Tengah yang heterogen. Sejarah telah menunjukkan bahwa tugas ini sangat sulit untuk dilakukan tanpa melibatkan penindasan atau konflik internal. Bangkitanya negara-negara di Timur Tengah menjadi negara sendiri adalah bagian sejarah keengganan mereka untuk berada dalam kampium khilafah pada masanya.

Ketiga, upaya untuk mendirikan khilafah bisa menjadi sumber konflik lebih lanjut. Negara-negara di wilayah tersebut mungkin tidak akan bersedia untuk menyerahkan kedaulatan mereka kepada entitas khilafah, dan ini dapat mengakibatkan konflik bersenjata yang lebih besar.

Artinya, secara logika sederhana bagaimana khilafah akan memberikan solusi jika di awal ia sudah tertolak dan menyimpang kerumitan tersendiri. Sebagai sebuah propaganda mungkin sah-sah saja sebagai bagian dari impian.

Butuh Solusi yang Realistis

Solusi yang realistis untuk konflik Palestina-Israel harus mempertimbangkan kedua pihak dan melibatkan proses diplomatik yang melibatkan banyak pihak. Persetujuan damai yang dapat diterima oleh kedua pihak harus didasarkan pada prinsip-prinsip dasar hak asasi manusia, persamaan hak, dan penghormatan terhadap kedaulatan dan kepentingan masing-masing pihak.

Negosiasi yang diperantarai oleh masyarakat internasional dapat membantu mencapai kesepakatan yang adil dan berkelanjutan. Ini juga harus mencakup komitmen untuk menghentikan kekerasan dan terorisme, serta pembangunan ekonomi dan sosial di wilayah tersebut.

Tentu saja, bersatunya kekuatan negara-negara Islam dengan nasib yang sama di jazirah Arab di tambah dengan kekuatan dunia yang anti penjajahan seperti Indonesia harus terus bergerak dan berkomitmen menyelesaikan konflik tersebut.

Persoalan ini tidak sekedar meneriakkan khilafah sebagai solusi di media sosial. Berbagai kekuatan di Palestina sendiri harus disatukan dengan komitmen untuk menjaga Palestina damai. Negara-negara yang berbatasan dengan Palestina juga harus menunjukkan komitmen untuk kemanusiaan atas nama kemerdekaan Palestina.

Facebook Comments