Kontra Narasi Radikalisme Lewat Media

Kontra Narasi Radikalisme Lewat Media

- in Suara Kita
1276
0

Upaya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengimbangi –bahkan jika dapat menghentikan– penyebaran paham radikal yang sangat masif oleh kelompok radikal anarkis adalah menayangkan dan menghidangkan kontra narasi, kontra propaganda dan kontra ideologi melalui media cetak dan media on line.

Hal tersebut mutlak diksanakan dan bahkan ditingkatkan secara terus menerus, berkesinambungan, menyeluruh dan komprehensif.

Menjadi atensi bersama bahwa kelompok radikal anarkis menanamkan kebencian dan menyebarkan permusuhan dengan cara  mengemas substansi ajaran agama Islam (syariat Islam) secara parsial.

Pemahaman terhadap konsep syariah tersebut tidak berdasarkan jejak sejarah perjuangan para nabi, keluarga dan sahabat-sahabatnya, ilmu penunjang seperti bahasa Arab, larat belakang sejarah turunnya wahyu, epistimologi syariah (ilmu ushul fiqhi) dan perspektif interdisipliner keilmuan lainnya di antaranya sosiologi dan antropologi.

Aplikasi syariat Islam yang diperkosa oleh kelompok radikal anarkis bukan hanya di Indonesia, tetapi juga telah mendunia. Ini ditandai dengan tumbuh suburnya, berkembang luasnya, komunitas anarkis tersebut dengan membentuk organisasi dengan berbagai macam nama, cara dan strategi yang digunakan.

Hal tersebut tidak boleh dibiarkan mewarnai pemikiran masyarakat Indonesia, mengisi relung-relung pemikiran generasi penerus bangsa dan membentuk mind set kalangan generasi muda yang haus akan sosok jati diri sebagai bangsa yang merdeka, bangsa yang memelihara keragaman bukan keseragaman, bangsa yang plural yaitu bangsa Indonesia.

Dalam upaya mengimbangi menyebarnya radikal anarkis, dan mencerdaskan masyarakat dengan informasi aksi terduga teroris. Pada tahun 2011 BNPT melaksanakan program peace jurnalism di kawasan Timur Indonesia yang dipusatkan di Kota Makassar.

Para awak media mengikuti pelatihan model peliputan kasus terduga teroris dan menerima materi model peliputan cipta damai selama tiga hari secara berkesinambungan, setelah mereka memahami strategi meliput kasus pidana kejahatan luar biasa tersebut dan memiliki wawasan cipta damai, para jurnalis secara berkala menghidangkan kabar tindak pidana terorisme secara proporsional komprehensif dan tuntas.

Mereka juga menghidangkan artikel dalam kolom tajuk dan kolom opini secara berkala tentang substansi kehidupan dengan nilai-nilai perdamaian dan ketenangan, urgensi kebersamaan dan persaudaraan, persatuan dalam keragaman.

Sayangnya, strategi tersebut kurang mendapat perhatian maksimal bahkan cenderung terlupakan dengan kegiatan seremonial yang tidak ditindak lanjuti berupa out put dengan tetap menuntut perhatian awak media konsisten menayangkan berita informatif dan kabar edukatif, informasi yang proporsional dan edukasi yang mencerdaskan.

Facebook Comments