Masjid Kampus : Media Utama Penagkal Radikalisme di Kampus

Masjid Kampus : Media Utama Penagkal Radikalisme di Kampus

- in Suara Kita
167
0

Pengaruh paham dan ideologi radikal semakin merisaukan warga kampus di seluruh Indonesia. Gerakan militan kelompok radikal marak berkembang dengan pesat di kalangan mahasiswa. Hal tersebut sangat mengkhawatirkan karena hingga sekarang tidak sedikit mahasiswa yang telah masuk dalam kelompok-kelompok radikal. Yang akan lebih mengkhawatirkan lagi ideologi radikal tersebut akan mengakibatkan disintegrasi bangsa dalam beberapa dekade mendatang jika tidak ada tindakan yang serius dari pemerintah dan pihak kampus.

Hingga detik ini jerat radikalisme dan terorisme seolah tidak berhenti. Gerakan-gerakan deradikalisasi terus dilakukan semua kalangan, terlebih yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Seminar, Counter Media, Workshop, dan lain sebagainya gencar dilakukan di masyarakat maupun di lingkungan kampus. Perlu adanya trobosan dan gerakan yang efektif untuk melawan dan menolak radikalisme tumbuh di lingkungan masyarakat dan lingkungan akademik.

Masjid menjadi salah satu tempat yang paling strategis bagi umat Islam untuk melakukan dakwah. Hampir disetiap daerah di pelosok perkmpungan juga termasuk di dalam kampus-kampus memiliki masjid. Di masjidlah orang melakukan interaksi karena masjid bukan milik perseorangan namun milik jamaah. Dalam sejarah berkembangnya Islam di Indonesia juga tidak jauh dari masjid. Para Wali Songo yang diketuai oleh Sunan Ampel mengembangkan persebaran agama Islam di Nusantara salah satunya ialah melalui masjid. Sunan Ampel merintis sebuah masjid agung yang terletak di kota demak yakni masjid Bintoro. Dari situlah Islam mulai berkembang di bumi Nusantara.

Namun semakin gencarnya arus radikal dan terorisme yang muncul mengalih fungsikan masjid dari sebelumnya. Tahun 2010, Center for The Study of Religion and Culture (CRCS) Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta merilis hasil penelitiannya bahwa dalam jerat yang beragam, kelompok Islam radikal di Solo telah menggunakan masjid sebagai kendaraan untuk penyebaran ideologinya. Riset ini secara khusus mendalami aspek kebijakan dakwah di masjid yang diteliti, terkait jamaah dan kontrol takmir (pengurus) terhadap dakwah masjid. Peneliti juga menanyakan persepsi sikap dan perilaku takmir, juru dakwah dan jamaah masjid setempat terkait gagasan sistem pemerintahan, formalisasi syariah Islam, jihad, persamaan gender dan pluralisme. (Majalah Bangkit, Edisi Februari 2016)

Tidak hanya di Solo saja diberbagai kota besar di Indonesia tidak sedikit masjid yang condong kepada gerakan radikal. Di masjid-masjid kota besar di Indonesia, khutbah seringkali dijadikan sebagai media penyebar dan kampanye gerakan radikal, seperti menolak Pancasila, mendirikan negara Islam, jihad sebagai perang, kafir halal darahnya, dan lain sebagainya.

Tidak hanya Masjid kota-kota besar, Masjid kampus juga tidak luput dari serangan kelompok-kelompok radikal. Tercatat beberapa kampus didalamnya terindikasi terdapat gerakan-gerakan radikal. Gerakan radikal tersebut muncul dari masjid-masjid kampus. Dilansir dari TEMPO.CO. Said Aqil Siradj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menjelaskan nilai-nilai radikal sudah menyebar ke sejumlah lembaga pendidikan tinggi di Tanah Air. Seperti si ITB, IPB, ITS dan lainnya. Terutama ITB lewat Masjid Salman. Ujar Said pada peluncuran Pusat komando dan Kartu Pintar Nusantara di Kantor NU, Jakrta Pusat pada Senin 22 Mei 2017 Silam.

Penangkal Radikalisme

Sesuai dengan ajaran Islam, masjid adalah sebaik-baiknya tempat di muka bumi. Di masjid para hamba memohon do’a dengan bersujud kepada sang Pencipta, sholat, dzikir, sholawat dan beribadah yang lainnya dilakukan di masjid. Di masa Nabi Muhammad SAW masjid tidak hanya digunakan untuk sarana ibadah saja namun juga untuk kepentingan sosial kemasyarakatan. Disinilah titik temu sisi religius atau spiritual dengan sektor publik, seperti politik, ekonomi, kebudayaan dan pendidikan.

Rais ‘Aam PBNU, KH. Ma’ruf Amin mengatakan bahwa masjid adalah pusat segalanya dan tidak ada sejengkal tanah pun yang tidak terjangkau oleh pengaruhnhya . keberhasilan perjuangan Rasulullah SAW bukanlah dengan kekerasan melainkan dengan kebijakan dan keadaban, dimana masjid menjadi sarana praksis nabi Muhammad SAW dalam mengelola tatanan kebudayaan dan peradaban. Dari masjid, masyarakat ditata, negara di bangun.

Rekonstruksi Fungsi Masjid

Masjid harus kembali kepada fungsi dasarnya. Masjid harus menjadi tempat tempat yang terbuka, ramah dan moderat dimana Islam disebarkan dengan penuh rahmat bukan dengan kekerasan. Kita harus menciptakan kondisi masjid yang ramah dan tidak bersahabat bagi paham radikalisme dan terorisme.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengembalikan fungsi masjid agar dapat melakukan konter terhadap radikalisme. Modernisasi manajemen menjadi kunci utama mengembalikan fungsi masjid. Pengelolaan manajemen yang masjid yang profesional perlu diterapkan di masjid kampung maupun masjid kampus. Selama ini kebanyakan masjid dikelola dengan manajemen dengan model keikhlasan, sehingga masjid kurang terawat dan terkontrol dengan baik. Dengan modernisasi dan perbaikan manajemen yang berkualitas, takmir atau pengurus masjid akan mampu denganh mudah untuk mengelola kegiatan keagamaan di masjid lebih baik, kreatif dan inovatif sehingga memberikan kenyamanan kepada ummat.

Selain manajmen pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni juga sangat diperlukan untuk mengelola masjid. Takmir masjid harus profesional, untuk menunjang itu  perlu adanya kerjasama antar lini dari mulai pemerintah, lembaga pendidikian tinggi, maupun lembaga-lembaga pengelola masjid untuk membuat semacam pelatihan atau forum untuk mencetak kader takmir yang profesional. Jika takmir masjid profesional dan terjalin kerjasama yang baik dengan jamaah maka masjid akan berjalan lebih  baik, aman, nyaman dan makmur. Dari situ masjid akan kembali pada fungsi awalnya dan masjid akan terjaga dari serangan kelompok radikal dan teroris. Masjid harus menjadi media utama dalam menanggulangi serta menolak paham radikalisme dan terorisme yang akan masuk.

Facebook Comments