Melawan Narasi-Narasi Pro Radikal dan Anarkis Di Kalangan Generasi Muda

Melawan Narasi-Narasi Pro Radikal dan Anarkis Di Kalangan Generasi Muda

- in Suara Kita
1224
0

Sejatinya, berbagai iklim kekacauan yang melanda negeri ini, entah dalam skala nasional atau regional, tidak bisa lepas dari berbagai narasi-narasi yang dibangun untuk melancarkan berbagai aksi radikal dan anarkis. Di balik semua itu, tentu ada pihak-pihak yang memberikan sokongan dana yang besar. Bisa dibilang, jika suatu daerah telah larut dalam chaos dan intrik politik yang panas, di situlah para ‘penunggang’ mulai melancarkan aksi, sehingga apa yang diinginkan ‘penunggang’ tersebut, bisa tercapai.

Bonus demografi yang melanda negeri ini, memang menguntungkan. Indonesia memiliki jumlah generasi muda yang lebih banyak ketimbang generasi yang berusia tua. Tentu, dalam teori ekonomi dikatakan bahwa negara yang memiliki banyak SDM yang usianya bisa terbilang muda, menjadi untung karena dari segi otak maupun tenaga lebih produktif dari pada yang berusia tua. Dan ini, saya kira menjadi modal yang penting bagi kemajuan dan perkembangan Indonesia ke depannya.

Namun, menjadi paradoks bila melihat realita pemuda zaman sekarang. Di era yang serba digital ini, memungkinkan untuk mudah mengakses segala macam keilmuan, informasi, ataupun sekedar hiburan. Dalam sebuah penelitian yang digagas oleh UNESCO pada tahun 2019, mengungkap bahwa anak-anak muda Indonesia memiliki minat baca yang sangat rendah. Persentasenya menunjukkan 0,01 persen. Itu artinya,  setiap dari 10.000 anak-anak muda Indonesia, hanya ada satu saja anak yang senang membaca. Berarti, bisa saya simpulkan bahwa anak-anak muda zaman sekarang lebih condong pada hiburan atau game dari pada mengakses keilmuan.

Jika membaca pernyataan di atas, maka sangat mungkin anak-anak muda zaman sekarang mudah terpengaruh narasi-narasi radikal dan anarkis, yang notabenenya dibangun dari fakta atau pernyataan yang bersifat hoaks. Apalagi ditambah dengan kecanggihan media digital, semakin cepat tersebar narasi-narasi bahaya tersebut.

 Dengan analisa yang rendah dan bahan bacaan yang minim, generasi muda menjadi mudah terdoktrin, terprovokasi, dan percaya dengan narasi-narasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya itu. Perlu diketahui, seseorang yang jarang membaca, maka hanya akan menemukan kebenaran dalam satu perspektif saja.  Ketika telah merasa yakin bahwa apa yang dibacanya benar, maka dalam jiwanya tertanam semangat untuk memaksakan kehendak agar lingkungannya menjadi seperti yang ia baca tersebut.

 Imbasnya, mereka dengan cepat akan langsung turun ke jalan dengan menggelar aksi-aksi demo atau unjuk rasa,. Dengan segala perbuatan radikal dan anarkis yang tentunya akan merusak fasilitas umum, atau bahkan akan ada korban yang berjatuhan. Tentu akan merugikan rakyat sendiri. Generasi muda yang digadang-gadang menjadi penerus bangsa, malah menjadi bumerang yang mematikan. Nah, di titik inilah generasi muda hanya menjadi korban politik bagi oknum yang berkepentingan. Jika sudah seperti itu, Pemerintah bisa melakukan apa?

Pembenahan dan pendampingan generasi muda, memang menjadi tanggung jawab penuh bagi Negara (Pemerintah). Pendidikan, dalam kaitannya sebagai wadah pendampingan generasi muda, seharusnya bisa mencetak generasi yang senang membaca dan paham dengan berbagai cabang keilmuan. Jika pun sampai detik ini pendidikan Indonesia belum bisa mencetak generasi yang senang membaca, maka ada yang salah dengan kurikulum pendidikannya. Dan hal itu, menjadi tugas para akademisi agar mampu mencipta kurikulum yang sempurna.

Selain sisi pendidikan, Pemerintah juga harus membangun komunikasi yang baik dengan generasi muda. Jika citra pemerintah di mata generasi muda buruk, maka ke depannya tidak akan saling percaya dan berimbas akan saling konfrontasi. Generasi muda cenderung akan memusuhi pemerintah dan malah ikut bergabung ke kelompok yang ingin menghancurkan NKRI.

Dalam kaitannya dengan komunikasi, semua elemen pemerintahan harus seragam dalam bersuara. Maksudnya, antar anggota pemerintahan pun jangan sampai ada informasi yang berbeda ketika disampaikan ke generasi muda. Sehingga, generasi muda semakin percaya dengan ke-validan informasi dari Pemerintah.

Jika semua hal-hal di atas bisa dilakukan dengan sempurna, maka narasi-narasi radikal dan anarkis di kalangan generasi muda, akan hilang dengan sendirinya. Generasi muda akan lebih percaya kepada Pemerintah. Tinggal bagaimana pemerintah semisal ada narasi-narasi radikal dan anarkis yang muncul ke permukaan, langsung dicari dan diklarifikasi. Cari siapa dalang pembuat narasi-narasinya, kenakan sanksi yang tepat, agar pembuat narasi-narasi yang tidak bertanggung jawab tersebut bisa jera dan tidak mengulanginya lagi.

Facebook Comments