Membangun Keindonesiaan Melalui Lokal Wisdom

Membangun Keindonesiaan Melalui Lokal Wisdom

- in Suara Kita
645
0

Tonggak awal sejarah persatuan bangsa dimulai jauh sebelum kemerdekaan, sebelum penjajahan, bahkan sebelum islam mendiami tanah air. Gajah mada, nama yang besar karena sumpah palapannya, mengawali persatuan di bumi nusantara sejak abad ke-14. Kitab Negarakertagama karya Empu Prapanca menyebut wilayah di bawah kekuasaan Majapahit (Jawa) meliputi pulau Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Papua, Maluku, Malaysia, Brunei, Singapura, dan sebagian kecil Philipina selatan dengan nama nusantara.

Nama “nusantara” masih terus digunakan hingga berabad-abad setelahnya. Masih dikenal sebagai negeri agraris dan maritim oleh dunia. Hingga kini nusantara masih di gunakan untuk menyebut wilayah yang  menjadi bagian dari Negara Kedaulatan Republik Indonesia (NKRI).

Luasnya wilayah yang hendak ditaklukan Gajah mada sedari awal disadari memiliki ragam kepercayaan, agama, suku, kebudayaan, dan bahasa. Upaya menguasai dan menjaganya merupakan dua hal yang berbeda. Bahkan lebih sulit merawat apalagi hingga berabad-abad lamanya. Sejarah panjang nusantara inilah yang harus kita ingat kembali sebagai “jas merah” ala Sukarno.

Indonesia dan keragaman

Berawal dari sejarah panjang tersebutlah, Indonesia pada masa penjajahan sekali lagi dipersatukan dengan perasaan senasib sepenanggungan. Tanpa perlu didaftar apalagi dipaksa, semua sepakat angkat senjata melawan kolonialisme. Tak kala Sukarno beragitasi dan berseru persatuan semua sepakat bersatu Indonesia. Ketika sekelompok pemuda menelurkan ide sumpah pemuda, semua organisasi pemuda turut menyepakati. Bahkan yang luput turut karena terlambat mendapatkan wartapun mengamini. Tak ada kontrak sosial, tak ada paksaan, semuanya tergerak karena perasaan yang sama perasaan yang satu sebagai nusantara mimpi Gajah mada.

Mafhum kiranya jika Indonesia bukan satu agama, satu budaya, satu bahasa, satu kepercayaan, satu suku bahkan bukan satu pulau. Berdasarkan data BPS pada tahun 2010 di Indonesia terdapat paling tidak 1.340 suku bangsa. Karenannya keragaman harus dipahami lebih dari sekedar keniscayaan namun telah menjelma sebagai realitas sosial dan bagian dari kehidupan sosial Indonesia. Islam sendiri juga mengakui keragaman tersebut dalam Al Quran surah Al Hujurat (49) 13.

Bicara budaya dan keragamannya maka tak akan bisa dilepaskan dari perkara tradisi dan kearifan lokalnya. Local wisdom menjadi ciri pembeda yang unik dan istimewa dalam setiap suku budaya. Perbedaan cara pandang inilah yang menjadi warna sekaligus dewasa ini menjadi jurang perselisihan. Pertentangan cara pikir, cara pandang dan laku menjadi tirai untuk memahami hakikat yang sama sebagai inti tradisi lokal. Perdebatan dan konflik karena keragaman merupakan hal yang sia-sia. Hanya menguras energi tanpa menemui solusi. Justru berpotensi memunculkan masalah baru yang lebih rumit dan kompleks.

Muatan lokal sebagai pemersatu

Kearifan lokal setiap budaya memang berbeda-beda namun nilai-nilai yang tertanam didalamnya memiliki hakikat sama dan tak menyalahi nilai-nilai moral secara umum. Semisal mencuri, menindas, merusak bukanlah tindakan yang dianggap baik dalam budaya manapun. Berangkat dari hal tersebutlah, rasa nasionalisme dapat dibentuk dan dipupuk. Mengingat sejarah panjang keindonesiaan juga telah menguji keampuhan nilai-nilai universal sebagai satu titik temu antar budaya. Karena tak jarang satu titik menjadi sebab pertemuan banyak titik lainnya dan menjadi ikhwal persatuan dan solidaritas kebersamaan.

Setiap budaya di Indonesia memiliki nilai-nilai budi pekerti luhur yang dapat terus dipertahankan dan hakikatnya tidak bertentangan dengan agama maupun undang-undang apalagi pancasila. Pancasila merupakan hasil Disarikannya nilai-nilai adiluhung setiap budaya, karenanya mempelajari dan memperdalam kearifan lokal masing-masing merupakan salah satu cara memahami keindonesiaan.

Keberadaan lokal wisdom dalam ideologi Indonesia menjadi landasan penting untuk memahami dan mempraktekkan nilai-nilai bermuatan lokal tersebut. Kesadaran tersebut diharapkan menjadi titik tolak untuk terus menjaga dan menghidupkan nilai-nilai kearifan dalam setiap budaya. Sehingga norma-norma yang terkandung dalam budaya lokal terserap dengan baik dan menjadi bagian dari kepribadian pemiliknya.

Kemampuan memahami hakikat dari budaya masing-masing dan mengejawantahkannya dalam laku keseharian memungkinkan proses akulturasi dan asimilasi budaya berjalan dengan baik. Sehingga mampu menjadi filter atas budaya impor yang secara perlahan namun pasti mulai diadopsi tanpa uji kelayakan dan kesesuaian dengan karakter keindonesiaan.

Hadirnya proses akulturasi dan asimilasi antar budaya di Indonesia menjadi jalan untuk mengukuhkan persatuan sekaligus menjadi benteng baru terhadap krisis moral dan dehumanisme. Nilai-nilai universal dalam kearifan lokal sekali lagi akan membawa persatuan sebagaimana sejarah meneladankannya.

Harapannya dengan kemampuan setiap individu memahami dan menghayati budayanya mampu menjadi jembatan pemersatu. Nilai-nilai dalam kearifan lokal akan terus terawat dan diwariskan disetiap generasinya. Sehingga pertemuan budaya tak lagi menjadi fenomena gegar budaya di negeri sendiri melainkan pemersatu, alat mencapai perdamaian dan keadilan dalam keragaman budaya untuk membangun Indonesia raya.

Facebook Comments