Membersihkan Noda-noda Terorisme di Sekolah

Membersihkan Noda-noda Terorisme di Sekolah

- in Faktual
418
0
Membersihkan Noda-noda Terorisme di Sekolah

Baru-baru ini Detasemen khusus atau Densus 88 menangkap seorang oknum guru Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah karena diduga berpaham radikal. Dalam penangkapan itu, Densus 88 berhasil mengamankan sejumlah buku yang mengajarkan radikalisme. Selain itu, di rumah terduga, Densus 88 juga menyita sejumlah barang bukti berupa telepon seluler dan dua laptop.

Penangkapan oknum guru SD di Sigi, Sulteng itu sebenarnya bukan kasus yang pertama. Pada Oktober 2022 lalu, Densus 88 juga telah menangkap seorang guru sekaligus kepala sekolah di Kabupaten Sumenep, Madura, yang diduga terafiliasi dengan jaringan terorisme dan radikalisme.

Meski tren radikalisme di dalam dunia pendidikan tidak seberapa jika dibandingkan dengan tren radikalisme di lembaga atau institusi lain. Akan tetapi, meski begitu, tren radikalisme di dunia pendidikan itu tetap harus menjadi kekhawatiran kita bersama. Dunia pendidikan adalah dunia di mana para generasi muda dididik dan dibentuk guna menjadi manusia yang seutuhnya.

Jika dunia pendidikan kita semakin hari semakin terinfiltrasi oleh paham radikal, maka tentu dampaknya akan sangat mengkhawatirkan. Karena itu, meski tren radikalisme di dalam dunia pendidikan tidak seberapa, lebih kecil dibandingkan proses radikalisasi di lembaga lain, namun hal itu patut untuk menjadi perhatian kita bersama.

Deradikalisasi guru

Belajar dari beberapa kasus yang ada, sumber utama yang menyuburkan paham radikalisme di sekolah tak lain ada guru. Menjadikan guru sebagai sumber utama suburnya paham radikalisme di sekolah ini tidak serta merta hendak menjadikan guru sebab kambing hitam. Akan tetapi, berdasarkan beberapa kasus yang telah terjadi, sosok guru diketahui kerap kali menjadi agen kunci dalam penyebaran paham radikal di sekolah.

Selain fakta lapangan tersebut, sebagai pusat informasi keilmuan di sekolah, gurulah yang juga paling berkesempatan menyebarkan paham radikal-intoleran di sekolah. Karena itu, bagaimana pun, tanpa bermaksud mengkambinghitamkan guru, faktanya memang gurulah yang berpotensi dan memiliki banyak kesempatan untuk menyebarkan paham radikal di sekolah.

Karena itu, agenda sapu bersih paham radikal di sekolah yang semakin menyubur itu saya kira harus dimulai dari deradikalisasi guru. Sebagai sumber dan agen utama penyuplai paham radikal di sekolah, guru mesti disterilkan dari paham radikal-intoleranradikal-intoleran yang dapat membahayakan dan mengancam proses dan serta pertumbuhan pola pikir siswa/murid. Tanpa adanya proses deradikalisasi guru itu, saya kira akar permasalahan radikalisme di sekolah tidak akan menemukan titik akhir. Tetapi sebaliknya, akan semakin merebak dan meningkat seiring dengan berjalannya waktu.

Deradikalisasi guru: TWK berbasis Pancasila

Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk melakukan deradikalisasi guru. Salah satunya adalah dengan menerapkan tes wawasan kebangsaan (TWK) berbasis Pancasila kepada setiap guru atau pengajar. Baik yang ada di sekolah negeri (SD/SMP) ataupun sekolah swasta (MI/MTS) dan seterusnya. TWK berbasis Pancasila itu penting guna memastikan bahwa setiap guru atau pengajar yang berada di setiap sekolah memiliki wawasan kebangsaan yang memadai dan serta bebas dari pengaruh radikalisme.

Dengan TWK berbasis Pancasila itu, maka akan diketahui oknum-oknum guru yang secara orientasi sosial-keagamaan, memiliki pandangan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan yang ada. Sehingga, dengan begitu, langkah kita untuk membersihkan sekolah dari paham radikal bisa terpetakan secara lebih terang yang hal itu, akan membuat kita lebih mudah membuat kebijakan deradikalisasi sekolah.

Facebook Comments