Mengurai Interseksionalitas Radikalisasi Perempuan

Mengurai Interseksionalitas Radikalisasi Perempuan

- in Faktual
39
0
Mengurai Interseksionalitas Radikalisasi Perempuan

Tanggal 8 Maret telah ditetapkan sebagai Hari Perempuan Internasional untuk memperingati inklusi perempuan dalam dunia politik. Berbagai permasalahan lain yang dihadapi oleh perempuan saling berjalin juga dengan peminggiran perempuan di dunia politik publik. Salah satunya adalah ancaman radikalisasi terhadap perempuan.

Permasalahan seputar radikalisme, terlebih yang terjadi di antara perempuan, merupakan masalah yang interseksional. Interseksionalitas adalah sudut pandang yang melihat kesaling-terkaitan antara satu isu dengan isu-isu lainnya. Sudut pandang ini membawa kesadaran tentang sebuah permasalahan bahwa permasalahan tersebut tidak hanya disebabkan oleh satu hal saja. Ia disebabkan oleh berbagai isu yang saling menumpuk, yang saling memperparah satu sama lain. Dengan begitu, melihat interseksionalitas dalam permasalahan di seputar radikalisme di antara perempuan berarti melihat kesalingterkaitan antara isu tersebut dengan isu-isu lainnya.

Tulisan ini akan menelusuri sebagian kecil irisan yang dapat diperhatikan dari permasalahan tersebut. Tiga isu yang beririsan dengan masalah ini di antaranya adalah permasalahan agama, gender, dan lingkungan. Namun, tentu interseksionalitas tidak terbatas pada tiga hal tersebut saja. Tulisan ini akan berfokus pada tiga masalah tersebut untuk memperlihatkan interseksionalitas yang paling mudah hingga yang paling sulit untuk diperhatikan.

Pertama, isu agama adalah yang paling mudah untuk kita perhatikan. Bahkan, permasalahan radikalisme seakan-akan tidak pernah lepas dari isu agama. Tidak jarang dalam dunia modern radikalisme yang berbalut keagamaan dikaitkan dengan identitas Islam. Padahal radikalisme dan agama, termasuk Islam, adalah dua permasalahan yang terpisah dan berbeda satu sama lain. Pemisahan ini penting karena asosiasi berlebih antara agama dengan radikalisme dapat memudahkan kelompok radikal untuk memancing polarisasi berlebih melalui balut wacana keagamaan.

Kedua, radikalisme perempuan berkaitan juga dengan isu gender. Posisi perempuan di masyarakat seringkali berada di posisi rentan. Secara ekonomi perempuan masih sering dianggap sudah selayaknya untuk bergantung pada laki-laki, sehingga ide kemandirian perempuan menjadi asing di kepala mereka sendiri. Masih berkaitan dengan itu, dalam hal pendidikan perempuan juga masih seringkali dicap tidak perlu mendapatkan pendidikan setinggi laki-laki. Dua hal yang saling berkait ini menimbulkan pola ketergantungan di pikiran perempuan pada sosok-sosok lain di luar dirinya, yang lantas dapat dengan mudah dieksploitasi oleh para oknum radikal yang mencari korban radikalisasi.

Ketiga, sering tidak disadari bahwa isu radikalisme berkait juga dengan isu lingkungan. Penelitian Melissa Farley di tahun 2022 telah memperlihatkan adanya hubungan erat antara rusaknya lingkungan dengan naiknya tingkat prostitusi di suatu tempat. Penelitian tersebut memperlihatkan bagaimana kerusakan lingkungan mengakibatkan pemiskinan yang dipicu oleh hilangnya tempat tinggal dan permasalahan sosial lainnya, yang kemudian berdampak pada naiknya tingkat prostitusi di daerah tersebut. Permasalahan tersebut juga menimpa berbagai daerah di Indonesia. Menurut catatan PBB, banjir dan kenaikan air laut telah mengancam berbagai tempat di Indonesia, baik kota besar maupun desa-desa kecil, yang mengakibatkan pemiskinan melalui hilangnya tempat tinggal. Tentu pemiskinan, tekanan secara psikologis, dan berbagai permasalahan yang dapat timbul melalui isu lingkungan ini dapat menjadi ladang subur bagi radikalisasi, terutama bagi perempuan, yang telah kita lihat kerentanannya di dua poin sebelumnya.

Tiga masalah ini adalah sebagian kecil saja contoh dari berbagai masalah lain yang saling berkaitan dengan masalah radikalisme di Indonesia. Permasalahan dalam hal kesadaran dan norma sosial yang tidak seimbang, pendidikan yang tidak memikirkan kesehatan psikologis anak didik, kebijakan yang meminggirkan kepentingan perempuan, dan berbagai permasalahan lain dapat membuka celah yang menjadi jalan masuk bagi agen-agen radikalisme.

Hari Perempuan Internasional tahun ini adalah kesempatan yang baik bagi para pegiat perempuan dan aktivis anti-radikalisme untuk menanamkan kesadaran tentang pentingnya melihat berbagai isu dalam menangani permasalahan yang saling berkait ini tentang radikalisme perempuan. Oleh karena itu, melihat interseksionalitas yang saling berjalinan di sekitar masalah radikalisme ini, maka strategi untuk meretas permasalahan tersebut juga harus menggunakan kesadaran interseksional. Peran pemaknaan agama yang terbuka pada keragaman, kesadaran tentang pentingnya kemandirian ekonomi dan akses pendidikan yang melintasi perbedaan gender, dan keterhubungannya dengan permasalahan lingkungan yang terjadi secara global dan dihadapi oleh masyarakat lokal harus diperhatikan untuk mengatasi permasalahan radikalisme.

Facebook Comments