Metamorfoshow; Geliat Eks-HTI di Tengah Riuh Pesta Demokrasi

Metamorfoshow; Geliat Eks-HTI di Tengah Riuh Pesta Demokrasi

- in Faktual
35
0
Metamorfoshow; Geliat Eks-HTI di Tengah Riuh Pesta Demokrasi

Di tengah keriuhan pesta demokrasi yang menyita perhatian sekaligus negeri seluruh komponen bangsa, ormas terlarang HTI ternyata menggelar hajatan besar. Hajat itu bertajuk “Metamorfoshow; It’s Time to be One Ummah“.

Acara itu digelar sehari pada tanggal 17 Februari 2024 bertempat di Teater Tanah Airku, Taman Mini Indonesia Indah. Tidak tanggung-tanggung, event itu dihadiri oleh 1200 peserta yang mayoritas adalah milenial dan gen-Z.

Acara itu dikemas ke dalam beragam varian, mulai dari talkshow, pameran, hingga stand up comedy. Hadir sebagai pengurus acara antara lain, Ismail Yusanto (eks jubir HTI), Aab el Karami (kreator konten berafiliasi HTI), M. Ikhsan Akbar (influencer HTI), dan sejumlah nama lain yang selama ini dikenal sebagai propagandis khilafah.

Ada beberapa poin yang patut disoroti dari kegiatan ini. Pertama, dari segi pemilihan waktu, yakni 17 Februari atau selang tiga hari pasca Pemilu dan Pilpres 2024. Hal ini seolah mengindikasikan bahwa mereka memanfaatkan kelengahan publik dan aparat karena tengah sibuk dengan isu Pemilu dan Pilpres. Bisa dibilang kita kecolongan atas terjadinya acara tersebut. Beredar kabar bahwa acara tersebut rencananya akan digelar di banyak kota di Indonesia.

Kedua, dari segi pemilihan tempat, yakni Taman Mini Indonesia Indah, tepatnya Teater Tanah Airku, barangkali ini juga bukan sebuah kebetulan, melainkan bagian dari skenario. Seperti kita tahu, TMII adalah ikon yang menggambarkan betapa Indonesia kaya akan budaya, agama, suku, dan tradisi yang beragam.

TMII adalah miniatur Indonesia, yang mencerminkan pluralitas budaya dan agama. Menjadi ironis, mengingat acara tersebut justru menjadi ajang cuci otak anak muda agar benci pada negaranya sendiri.

Propaganda Khilafah Tahririyah Menyasar Anak Muda

Ketiga, dari pemilihan judul atau jargon acara, yakni “Metamorfoshow; It’s Time to be One Ummah” menggambarkan acara ini mengajak kaum muda berhijrah secara ideologis yakni menjadi pendukung khilafah islamiyyah. Jargon acara ini juga menggambarkan bahwa sasaran utama mereka adalah kelompok anak muda, milenial dan generasi Z.

Pola propaganda dan cuci otak yang demikian ini adalah khas para pengusung khilafah,bterurama HTI. Mereka mengemas acara propaganda dengan nuansa anak muda, menggunakan jargon berbahasa Inggris agar tampak catxhy dan edgy, dan mengemas acara semenarik mungkin bagi kalangan milenial dan gen Z.

Keempat, dari segi isu yang dibahas yakni, kebobrokan negara demokrasi Indonesia, termasuk penyelenggaraan Pemilu, serta penegakan khilafah tahririyah kita bisa tahu skenario besar acara ini. Yaitu mencoba mendelegitimasi Pemilu dan Pilpres dengan narasi bahwa demokrasi kufur lalu mengajak anak muda mendukung tegaknya khilafah islamiyyah.

Bisa ditebak, dalam acara ini para pembicara pasti akan mengulit kebobrokan demokrasi dan berasumsi dengan polemik penyelenggaran Pemilu 2024. Bahwa demokrasi hanya menimbulkan kesenjangan dan krisis sosial.

Juga bahwa Pemilu diwarnai banyak kecurangan dan penyelewengan. Klimaksnya adalah tudingan demokrasi kufur dan khilafah sebagai solusi seluruh problem kebangsaan dan kebangsaan.

Jangan Lengah dan Permisif Pada Gerakan Khilafah

Lantas, bagaimana kita seharusnya bersikap? Di alam demokrasi seperti Indonesia, kegiatan berkumpul dan mengemukakan pendapat memang dilindungi oleh konstitusi. Namun, itu bukan berarti bahwa setiap individu atau kelompok bebas mengemukakan apa saja.

Kebebasan berpendapat dalam sistem demokrasi selalu dibatasi oleh aturan hukum. Apa yang dilakukan oleh para aktivis khilafah itu bukan wujud kebebasan berekspresi melainkan lebih tepat disebut sebagai tindakan subversi.

Maka, yang harus dilakukan adalah menutup celah bagi para eksponen HTI dan ormas pengusung agenda khilafah Islamiyyah lainnya untuk menyebarkan ideologinya. Sebagai ormas, HTI menang telah tiarap.

Namun, sebagai sebuah jejaring ideologis, HTI nyatanya masih eksis. Diperlukan langkah preventif untuk memastikan jejaringnya tidak mendapat ruang gerak yang leluasa.

Tidak kalah pentingnya adalah membentengi kaum milenial dan gen Z dengan literasi keagamaan yang mumpuni. Meliputi pengetahuan tentang akidah, syariah, tarikh (sejarah), filsafat, dan seluruh aspek keislaman. Memahami agama terutama Islam memang tidak boleh parsial, melainkan harus komprehensif sehingga mendapatkan insight yang luas.

Anak muda harus punya pemahaman yang komprehensif tentang istilah-istilah kunci yang saat ini populer di ranah Islam haraqiyah (gerakan). Seperti istilah “hijrah”, “ummah”, “khilafah”, dan sebagainya. Pemahaman yang sahih akan menghindarkan anak muda dari sikap latah alias ikut-ikutan tren yang sebenarnya salah.

Sekian, seluruh komponen bangsa temesusk aparat keamanan dan masyarakat kiranya tidak boleh lengah. Pesta demokrasi dan polemik setelahnya memang menguras energi dan perhatian kita semua.

Namun, jangan sampai kita kecolongan apalagi bersikap permisif pada geliat eks-HTI. Sikap lengah dan permisif kita rawan dimanfaatkan sebagai momentum kebangkitan gerakan khilafah yang selama ini cenderung tiarap.

Facebook Comments