MUI : Pancasila bagi Umat Islam Sudah Final, Tidak Ada Alasan Menolaknya

MUI : Pancasila bagi Umat Islam Sudah Final, Tidak Ada Alasan Menolaknya

- in Wawancara
550
0
MUI : Pancasila bagi Umat Islam Sudah Final, Tidak Ada Alasan Menolaknya

Pada tanggal 1 Juni 2023 diperingati hari lahirnya ideologi bangsa yaitu Pancasila. Setiap sila dari Pancasila bukan pemikiran baru, tetapi perasaan dari sari pati nilai, moral dan ajaran yang sudah lama dipraktekkan dalam kehidupan nusantara. Pancasila bukan barang impor dan asing, tetapi cara pandang yang telah menyatu dalam batin masyarakat yang mempersatukan perbedaan.

Namun, ada juga segelintir orang dan kelompok yang terus mempersoalkan Pancasila yang dianggap bertentangan dengan agama. Untuk menjernihkan cara pandang tersebut, berikut wawancara redaktur Pusat Media Damai dengan KH. Ahmad Zubaidi – Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat.

PMD : sering dipertanyakan apakah Pancasila sesuai dengan ajaran Agama atau justru bertentangan?

Ahmad Zubaidi : Baik, pada prinsipnya bahwa Pancasila sangat sesuai dengan agama Islam, karena tidak ada satupun norma yang terdapat dalam sila Pancasila yang bertentangan dengan Alquran maupun hadis yang menjadi pedoman kehidupan umat Islam.

Bahwa dalam kehidupan kita ini kan negara yang majemuk, suku, bangsa, ras, semua kita bisa dipertemukan dengan Pancasila ini dan dalam Quran ada kalimat yang disebut dengan kalimatun sawa, titik temu. Kita tidak mencari perbedaan-perbedaannya tetapi kita mencari persamaan-persamaannya.

Bagi umat islam tidak ada alasan tidak menerima pancasila, maka MUI mengatakan bahwa Pancasila adalah sudah final jangan diganggu gugat lagi, ini ideologi negara yang bisa dipegangi oleh semua warga bangsa termasuk umat Islam. Dengan Pancasila ini mudah-mudahan ya kita senantiasa bersatu dalam NKRI dan mempertahankan negara.

Sila pertama tentang tauhid atau menjaga agama. Pada poin yang kedua hifdzu-annafs, melindungi jiwa. Agama Islam itu sangat-sangat memperhatikan jiwa manusia, tidak boleh satu jiwa pun yang dizolimi. Islam sangat menghargai kemanusiaan.

Bahkan dalam satu surat dikatakan yang artinya begini bahwa barang siapa yang membunuh satu jiwa saja sama artinya dia membunuh semua orang gitu dan sebaliknya. Kalau orang bisa menghargai satu jiwa saja, maka dia telah menghargai semua jiwa umat manusia. Ini artinya kita sangat menghargai kemanusiaan bahkan manzolimi enggak boleh, bahkan menyakiti sedikit saja enggak boleh gitu.

Lalu sila ketiga Islam mengajarkan ukhuwah islamiyah, ukhwah watoniyah, ukhwah basariah dilandasi Al Hujurat ayat 13 yang mana Allah telah menciptakan manusia bersuku berbangsa-bangsa dan agar saling kenal. Maka tentu kita harus membangun persatuan dan kesatuan baik di dalam umat Islam, di kalangan warga negara Indonesia harus bersatu, ini yang dinamakan ukhwah watoniyah dan ukwah basariah.

Sila keempat, Wasawirhum fil amri. Islam mengajarkan kepada kita dalam setiap persoalan harus diselesaikan dengan cara musyawarah, dan prinsip kita adalah mencari solusi win-win solution karena wasathy moderat di tengah-tengah mencari jalan tengah, jadi menghindarkan egoisme dan jangan sampai ada kelompok tertentu agama tertentu atau suku tertentu ego ingin memunculkan apa yang jadi agamanya atau sukunya sementara pertentangan dengan yang lain.

Terakhir, sila kelima Islam mengajarkan wa tawa anu, ala birri watakwa wala taawanu ala isbal udwan. Islam mengajarkan bahwa kita tolong-menolong sesama umat manusia. Dalam Islam begitu banyak ayat-ayat yang mendorong supaya kita berbuat baik kepada orang lain.

Konsep zakat misalnya ya ini dalam rangka meratakan keadilan sosial, ekonomi supaya apa namanya harta benda itu tidak hanya berkumpul atau menumpuk pada orang-orang kaya saja tapi bisa menyebar ke seluruh umat manusia ini jelas sangat sesuai dengan Islam.

PMD : Apa pentingnya merayakan Hari Kelahiran Pancasila?

Ahmad Zubaidi : Kita memberikan penghargaan kepada para pendiri bangsa ini, para perumus Pancasila ini, karena bagaimanapun rumusan yang lima ini, Masyaallah jadi sebuah rumusan yang sangat komprehensif yang telah menjembatani kepentingan negara kita negara kesatuan Republik Indonesia ini. Karena itu, ya tentu kita harus ingat bahwa perjuangan para pendahulu kita perlu kita teruskan.

Semangat wasathiyah, moderasi, semangat mencari solusi ini yang sedikit terus berkembang dan sampai hari ini jangan sampai kita mengedepankan egoisme.

Kita lihat Bagaimana sesungguhnya pada waktu itu Islam pun sudah mayoritas ya dan pada rumusan yang pertama hasil Piagam Jakarta sangat jelas pada poin satu adalah kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya, kemudian direvisi pada tanggal 18 Agustus 1945 bahwa sila pertama menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Ini merupakan sebuah kedewasaan umat Islam dalam rangka membangun kebersamaan kita nggak ego gitu yang penting adalah poinnya esensinya didapatkan. Ini harus dikenang bagaimana para pendahulu kita dalam memikirkan bangsa ini memperjuangkan bangsa ini bagaimana mereka berpikir untuk semua bukan hanya berpikir untuk diri sendiri atau kelompoknya.

PMD : bagaimana kita bisa memaknai dan mengimplementasikan Pancasila?

Ahmad Zubaidi : Berdiskusi sampai ke akar-akarnya secara filosifis, terutama bagaimana kita memahami arti esensi dari ajaran Islam. Tentang maqosid syariah, tujuan syariat Islam adalah membangun atau mewujudkan kemaslahatan di tengah kehidupan manusia. Jadi apapun yang kita bangun dalam kehidupan ini ujungnya adalah kemaslahatan.

Kita punya ego tertentu, tapi tidak membangun kemaslahatan, berarti tidak sesuai dengan tujuan syariat. Dengan Pancasila ya, kita bisa damai kita bersama dan kita bersatu hidup indah ibadah kita bebas sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing Itu adalah sebuah Rahmah.

ini merupakan hasil perwujudan di mana kita disatukan dengan Pancasila tadi itu saya kira itu luar biasa Masyaallah.

PMD : kenapa masih ada orang yang mempertentangkan Pancasila dan Agama?

Ahmad Zubaidi : mereka tidak fokus kepada maqosidussyariah, ini karena pemandangannya mungkin terlalu sempit. Sehingga fokusnya kepada simbolisme. Kalau tidak sesuai simbolnya, dia enggak mau. Padahal dalam simbol itu belum tentu terwujud hakekat, kita mengedepankan simbol tetapi berujung kepada konflik.

Tapi simbol simbol kita satukan dengan simbol yang menyatukan kita, tetapi esensinya mendamaikan kita semua kan hebat itu sesuai dengan tujuan daripada syariat itu.

Facebook Comments