Pemuda, Semangat Jihad dan Persatuan Bangsa !

Pemuda, Semangat Jihad dan Persatuan Bangsa !

- in Suara Kita
59
0

“Jika para pemuda sudah tumbuh akan kecintaannya kepada bangsa dan negara, maka bangsa ini tidak akan mudah dipecah belah” (Habib Luthfi bin Yahya).

Ir. Sukarno pernah mengatakan “Beri aku 1000 orang tua niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia !” ucapan Sukarno yang menjadi motivasi bagi seluruh pemuda Indonesia kala itu berhasil membakar semangat para pemuda untuk berjuang meraih kemerdekaan Indonesia. Selain sukarno Moh. Hatta juga pernah menyampaikan semangat motivasi untuk anak muda dalam pembukaan Rapat Besar di Lapangan Ikada Jakarta pada 11 September 1944. Bung Hatta berkata “Saya percaya akan kebulatan hati pemuda Indonesia, yang percaya akan kesanggupannya berjuang dan merdeka”. Kalimat bung hatta tersebut juga tidak kalah memotivasi para pemuda kala itu untuk berjuang membela bangsanya.

Lalu sebenarnya siapa pemuda ini sampai-sampai semua tokoh mengandalkan energi para pemuda untuk berjuang. Princeton mendefinisikan kata pemuda (youth) dalam kamus websternya dengan kalimat “the time of life between childhood and maturity, early maturity, the state being young or immature or inexperienced, the freshness and vitality characteristic of a young person” yang artinya pemuda adalah rentang waktu antara usia kanak-kanak sampai dengan usia kematangan (kedewasaan). Atau seorang yang mengalami kedewasaan dengan usia dan pengalamannya.

Perjalanan sejarah bangsa Indonesia juga tidak terlepas dari peran generasi muda. Pemuda bagi bangsa Indonesia menjadi tonggak penentu perjalanan sejarah bangsa. Pergerakan-pergerakan pemuda seperti Budi Utomo yang berhasil melahirkan Sumpah Pemuda dan masih banyak lagi. Perjalanan perjuangan bangsa Indonesia dari mulai merbut, mempertahankan kembali kemerdekaan Indonesia juga dilakukan oleh para pemuda. Maka dapat dikatakan pemuda merupakan penentu perjalanan bangsa ini.

Namun semakin berkembngnya zaman dan semakin terbukanya arus globalisasi dengan masuknya ideologi-ideologi radikal membuat para pemuda sekarang lupa dengan sejarah. Sejarah mencatat betapa kuatnya jiwa nasionalisme para pemuda untuk merebut dan mempertahankan bangsanya dari penjajah. Namun sekarang banyak pemuda yang terprovokasi oleh ideologi-ideologi radikal untuk berjihad di jalan Allah dengan menjanjikan surga bagi mereka namun tanpa disadari telah merusak bangsanya sendiri.

Semangat jihad para pemuda tidak diimbangi dengan makna utama dari jihad itu sendiri. Ideologi radikal mengajarkan mereka berjihad berarti berperang melawan apa saja yang tidak sesuai dengan agama termasuk bangsa dan negaranya sendiri. Maka di atas ungkapan Habib Luthfi Bin Yahya tentang pentingnya para pemuda untuk menumbuhkan kecintaan kepada bangsa dan negara sangat cocok untuk direnungi oleh pemuda bangsa ini. Karena dengan kecintaan yang kuat terhadap bangsa dan negaranya maka tidak akan mudah di pecah belah oleh kelompok-kelompok radikal yang menginginkan perpecahan bangsa.

Gagal paham para generasi muda tentang makna jihad sangat berbahaya. Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya (Fiqih of Jihad : 2009), mengatakan “Tanpa jihad, garis batas ummat akan dilanggar, darah orang-orang yang ada di dalamnya akan semurah debu, tempat-tempat sucinya akan tidak lebih baik dari pasir di gurun, dan ummat tidak akan bernilai signifikan di mata musuh-musuhnya. Sebagai akibatnya, si pengecut akan mengambil hati untuk menyerang ummat, budak akan tampak di atas dengan arogan, musuh-musuh akan menguasai lahannya, mendominasinya, dan mengontrol orang-orangnya. Ini karena Allah SWT telah menjauhkan rasa takut dari hati para musuh dalam menghadapi umat.”

Pelopor Perubahan

Maka bukan hal yang aneh jika dikatakan bahwa pemuda merupakan pelopor perubahan bangsa. Peran pemuda sangat penting untuk keberlangsungan suatu bangsa. Kemampuan membawa perubahan untuk bangsa kepada yang lebih baik menjadi indikator keberhasilan suatu bangsa dalam membangun generasinya.

Generasi yang sekarang banyak dijuluki generasi millenial ini harus kembali pada khittahnya sebagai pemuda. Berhijrah untuk meneguhkan nasionalisme terhadap bangsa dan negaranya bukan berhijrah untuk menghancurkan bangsanya sendiri. Sejarah sudah jelas membuktikan jika pemuda merupakan tulang punggung bangsa karena pemuda merupakan generasi penerus estavet kepemimpinan. Sebagaimana ungkapan Syekh Musthafa Al Ghalayaini, seorang pujangga dari Mesir “Sesungguhnya pada tangan-tangan pemudalah urusan ummat dan pada laki-laki merekalah terdapat kehidupan umat”.

Pemuda Indonesia harus menjadi pemuda yang kuat dalam berbagai bidang kehidupan. Prof. Dr. BJ. Habibi mengatakan setidaknya ada lima kelemahan yang harus kita hindari, yakni lemah harta, lemah fisik, lemah ilmu, lemah semangat hidup dan lemah akhlak. Jika para pemuda dapat menghindari kelima kelemahan ini maka bukan tidak mungkin generasi muda akan kembali menjadi pelopor perubahan bangsa menuju bangsa yang bermartabat dan tidak mudah untuk dipecah belah. Pemuda harus kuat dalam merencanakan dan membangun masa depan bangsa Indonesia serta menjaga persatuan dari rong-rongan kelompok-kelompok radikal yang ingin memecah belah bangsa Indonesia.

Facebook Comments