Pewarta bukan Propagandis Radikalisme

Pewarta bukan Propagandis Radikalisme

- in Keindonesiaan
433
0
ilustrasi : jpnn.com

Pewarta (wartawan) atau jurnalis merupakan pembuat berita (laporan) secara objektif untuk diturunkan di media massa secara teratur. Berbeda dengan propagandis, ia merupakan individu atau wakil dari kelompok tertentu yang menyampaikan berita kepada massa (publik) secara subjektif agar menghasilkan reaksi emosional daripada reaksi rasional. Propagandis sering kali menyajikan berita secara faktual, namun tetap dengan seleksi yang sangat ketat sehingga tujuan mempengaruhi komunikan (masyarakat luas) tetap berjalan. Bahkan, fakta-fakta tersebut hanyalah fakta yang dipilih guna memuluskan “tujuan” yang akan dicapai.

Kini, media massa (baik cetak maupun online) banyak yang menyuguhkan berita bernuansa propaganda kekerasan. Dalam menyajikan berita, media-media ini (seakan) tidak menghendaki para komunikannya mengetahui informasi yang ada secara benar. Komunikan yang berjubel di seluruh penjuru dunia diajak untuk aktif menanggapi informasi yang disampaikan. Uniknya, ajakan tersebut bernilai provokatif agar masyarakat melakukan hal-hal yang berbau kekerasan.

Kondisi semacam ini menjadi indikasi paling autentik betapa para pewarta kita sudah tidak “suci” lagi dari sikap objektif yang mesti dipegang teguh. Demi kepentingan diri atau kelompok, mereka rela melakukan “penodaan” terhadap profesi mulia di jagat kewartawanan. Idealisme yang mestinya mereka junjung tinggi justru tergadaikan dengan kepentingan sesa(a)t.

Atas perbuatan para pewarta kita yang tidak lagi memegang teguh idealismenya ini, kita dapat menyimak betapa di masyarakat sudah banyak insan yang memiliki jiwa radikalis. Mereka yang awalnya merupakan korban dari propaganda yang disebarkan oleh para pewarta kita, lama-lama menjadi pelaku radikalis sekaligus bagian dari mata rantai propagandis-propagandis baru. Karena ketidaksadarannya, meski menjadi korban mereka tetap enjoy menjadi perpanjangan tangan dari para propagandis radikalisme awal.

Atas realita menyedihkan semacam ini, kita mesti memutar otak dalam rangka “menyelamatkan” diri, keluarga, dan masyarakat dari virus radikalis yang telah banyak mengakar di masyarakat. Karena salah satu sebab mewabahnya virus radikalis di masyarakat adalah adalah semakin lemahnya idealisme para pewarta, maka kita mesti menyikapi para pewarta dengan baik. Ada banyak hal yang mesti dilakukan bagi para pewarta yang dengan sengaja melakukan propaganda radikalisme melalui media massa.

Langkah pertama yang mesti dilakukan adalah dengan memberikan punishment kepada para pewarta yang dengan sengaja melakukan propaganda. Dalam hal ini, para pemegang kekuasaan mesti aktif memberikan sanksi kepada para pewarta tersebut. Orang-orang yang bisa memberikan hukuman adalah pemerintah dan juga lembaga pers yang menjadi “induk” dari para pewarta. Mereka adalah lembaga-lembaga yang memiliki kewenangan untuk memberikan teguran sekaligus hukuman.

Kedua, apabila propaganda radikalisme merupakan salah satu tujuan dari adanya media massa, maka pemerintah mesti memberikan hukuman. Karena, tidak mungkin dari pihak media akan memberikan hukuman kepada para pewarta yang melakukan tugas sebagaimana visi dan misi yang telah ada. Justru, mereka bekerja sama dalam melakukan propaganda. Para pewarta membuat berita dan media menyebarkannya. Dan, langkah pemerintah dalam mengatasi hal ini sudah cukup memuaskan. Keaktifan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam melaporkan situs-situs radikalis kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) merupakan langkah praktis yang perlu mendapat apresiasi tinggi dan harus terus dilestarikan.

Ketiga, masyarakat sebagai komunikan atas konten berita bernuansa radikalis mesti terus diedukasi sehingga tidak mudah terprofokasi. Upaya ini sungguh berat dilakukan karena komunikan kita sangat beragam, baik beragam usia, pekerjaan, hingga kelas ekonomi. Padahal, pada setiap perbedaan harus mendapatkan “pelayanan” yang berbeda sehingga edukasi yang diberikan bisa mendapatkan hasil maksimal.

Langkah edukasi kepada masyarakat yang dapat dilakukan adalah dengan menggandeng tangan kepada seluruh pihak untuk bersatu padu mewujudkan cita-bersama. Hal ini bisa dilakukan dengan cara setiap individu berusaha memberikan edukasi kepada diri, keluarga, dan masyarakat sekitar untuk tidak mudah terprofokasi atas berita yang santer terjadi di media. Tentu, setiap individu mesti berkaca diri terhadap kemampuan dan kedudukan sehingga orang yang diedukasi tidak “berontak” atas edukasi yang diberikan. Jangan sampai ada individu yang memberikan edukasi kepada individu lain yang memiliki tingkat strata lebih tinggi sehingga akan “mentah” di lapangan.

Dengan langkah-langkah semacam ini, harapannya para pewarta propagandis radikalisme semakin hari semakin berkurang dan masyarakat tidak mudah terprofokasi. Alhasil, virus radikalisme sedikit demi sedikit akan tercerabut dari masyarakat. Kedamaian pun akan kita rasakan bersama. Semoga!

Facebook Comments