Puasa dan Momentum Berbagi di Tengah Pandemi

Puasa dan Momentum Berbagi di Tengah Pandemi

- in Suara Kita
1630
17
Puasa dan Momentum Berbagi di Tengah Pandemi

Puasa tahun ini suasananya berdeda dari tahun-tahun sebelumnya. Mulai awal tahun 2020 dunia telah diguncang wabah Covid 19. Dampak Covid 19 bukan cuma dirasakan negeri ini tetapi semua negara merasakan dampaknya. Covid 19 membuat roda perekonomian banyak yang macet. Bagaimana tidak macet? Sebab saat ini manusia memiliki tugas untuk tetap survive (bertahan) di tengah Covid 19. Survive di sini meliputi di bidang kesehatan dan ekonomi supaya yang umat Islam tetap bisa menjalankan ibadah puasa.

Urusan ekonomi tentu menjadi problem rakyat yang diharuskan stay at home. Mungkin sebagian orang yang mampu masih bisa menyukupi kebutuhan sehari-hari ditengah pandemi ini. Lalu, bagaimana dengan orang yang bekerja Senin buat makan Selasa, bekerja Selasa dibuat makan Rabu, bekerja Rabu buat makan Kamis? Anjuran dirumah saja bagi orang yang bekerja harian dan orang terkena PHK tentu menjadi problem ekonomi keluarganya.

Pemerintah tentu menyikapi ini juga tidak diam. Pemerintah juga sudah melakukan upaya-upaya membantu rakyat. Kini pemerintah sudah mengulirkan bantuan sembako bagi masyarakat terdampak Covid 19. Pemerintah juga telah mengalokasikan sebagian dana desa untuk didistribusikan sebagai Bantuan Lansung Tunai (BLT) bagi masyarakat yang layak dibantu. Ormas-ormas juga sudah saling gotong-royong mengalang dana sosial Covid 19 ini.

Mumpung momentumnya tepat di bulan puasa alangkah baiknya kita galakkan lagi budaya berbagi di negeri ini. Individu yang mampu sudah selayaknya tergugah untuk berbagi sebagian rezekinya buat orang yang ekonominya kurang dan tidak bisa bekerja akibat Covid 19. Pada hakikatnya puasa adalah melatih diri ini merasakan bagaimana seseorang yang tidak bisa makan. Mungkin bagi orang yang mampu saat puasa bisa makan sahur dan berbuka, tetapi saudara kita yang kekurangan masih banyak yang sahur dan berbuka dengan seteguk air putih.

Baca Juga : Ramadhan, Corona, dan Tadarus Diri

Sudah saatnya kita yang mampu tergugah hatinya untuk berbagi di saat pandemi ini. Berbagi merupakan wujud kepedulian sosial yang perlu disemarakkan apalagi amal di bulan puasa akan mendapat berlipat ganda pahala. Puasa ini akan lebih bermakna ketika kita menjadi dermawan dengan sesama. Apalagi disaat pandemi seperti ini negara sangat butuh para dermawan untuk membantu ekonomi rakyat.

Para Ulama sepakat menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak sedekah dan berbuat baik secara masif apalagi di saat krisis sebab pandemi Covid 19 ini. Sebab, ganjaran kebaikan di Bulan Ramadhan dilipatgandakan sebagaimana keterangan Hasyiyatul Baijuri berikut ini:

 ومبادرته لإكثار الصدقة لأنه صلى الله عليه وسلم كان أجود ما يكون في رمضان، وبالجملة فيكثر فيه من أعمال الخير لأن العمل يضاعف فيه على العمل في غيره من بقية الشهور

Artinya, “(Orang berpuasa) dianjurkan segera memperbanyak sedekah karena Rasulullah SAW adalah orang paling murah hati di Bulan Ramadhan. Seseorang dapat melakukan kebaikan secara umum karena ganjaran amal kebaikan apapun bentuknya akan dilipatgandakan dibandingkan ganjaran amal kebaikan yang dilakukan di luar bulan Ramadhan,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1999 M/1420 H], cetakan kedua, juz I, halaman 562).

Kita jangan sempit memaknai sedekah. Sedekah dapat berbentuk uang, pikiran, maupun tenaga. Bersedekah di bulan puasa bisa dalam bentuk apapun itu, bisa bentuk bahan makanan, makanan siap saji dan uang. Ini sebagian bentuk sedekah, melarisi dagangan seseorang itu juga sedekah. Sebab dengan membeli dangan seseorang itu sedekah yang tanpa menyinggung orang itu karena ada ijab qobul jual beli barang. Waktu genting seperti ini perlu digalakkan saling melarisi dagangan tetangga demi ketahanan ekonomi bersama.

Pemerintah saat ini juga menganjurkan membayar zakat mal (zakat harta) di awal Ramadhan. Harapan zakat yang dikeluarkan di awal Ramadhan supaya bisa didistribusikan demi menopang dapur umat penerima zakat. Memang konsep zakat dibentuk sebagai pengingat bahwa di harta kita ada sebagian hak orang lain dan hak orang lain ini perlu dikelurkan. Adaikan umat Islam menerapkan konsep zakat harta maka orang yang kurang secara ekonomi akan teratasi kebutuhan hidupnya. Saling memberi seperti ini penting sebagai makhluk sosial.

Manusia sebagai makhluk sosial merupakan mahkluk yang berhubungan secara timbal-balik dengan manusia lain. Dalam sosiologi, mahkluk sosial adalah sebuah konsep ideologis dimana masyarakat atau struktur sosial dipandang sebagai sebuah “organisme hidup”. Semua elemen masyarakat atau makhluk sosial memiliki fungsi yang mempertahankan stabilitas dan kekompakan sesama. Dengan kata lain, manusia tergantung satu sama lainnya untuk menjaga keutuhan masyarakat. Hal inilah yang mendasari budaya berbagi perlu dilestarikan kapan pun, lebih-lebih saat bulan puasa.

Kesimpulan yang dapat diambil bahwa kontribusi dan kebaikan kita terhadap orang lain akan bernilai dua kali lipat dibanding kebaikan kita di bulan lain. Oleh karena itu, kita sebaiknya mengambil kesempatan Ramadhan ini untuk berbagi dan berbuat baik sebanyak-banyaknya. Berkah berbagi dan puasa semoga Covid 19 ini segera diangkat oleh Allah SWT. Adanya kesadaran berbagi semoga kita juga diberi kemampuan survive di tengah wabah Covid 19 dan tetap sabar hingga berakhirnya pandemi ini.   

Wallahu a’lam

Facebook Comments