Ramadhan, Corona, dan Tadarus Diri

Ramadhan, Corona, dan Tadarus Diri

- in Narasi
1997
3
Ramadhan, Corona, dan Tadarus Diri

Kehadiran bulan Ramadhan tahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan tahun ini datang berbarengan dengan situasi yang tidak kondusif di seluruh dunia karena wabah corona. Karenanya, keramaian ramadhan kali ini terasa lain dari sebelumnya. Jika pada ramadhan lainnya gaung shalat taraweh, tadarus Al-Qur’an, kajian keagamaan, hingga aksi bagi-bagi sedekah begitu terasa, pada tahun ini kegiatan-kegiatan tersebut terasa larut dalam kesunyian. Bukan karena ditiadakan, tetapi karena pemerintah dan ulama menganjurkan agar semarak ramadhan digaungkan dari rumah saja.

Gerakan ‘di rumah saja’ merupakan upaya dari pemerintah dan seluruh warga negara Indonesia untuk memutus mata rantai persebaran covid-19. Dengan ‘di rumah saja’, maka interaksi dengan orang lain bisa dibatasi sehingga kemungkinan tertular virus sangat minim. Apalagi pemerintah belum lama ini juga memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sebagai upaya sungguh-sungguh mencegah persebaran covid-19. Tujuan dari semua gerakan tersebut tentu saja agar pandemi covid-19 bisa segera berakhir, sehingga kehidupan sosial masyarakat menjadi normal kembali.

Meski ramadhan kali ini bersamaan dengan pandemi covid-19, bukan berarti ibadah di dalamnya tidak bisa maksimal. Di dalam rumah sekalipun masih bisa melaksanakan ibadah, mulai dari shalat jamaah fardu, shalat taraweh, tadarus Al-Qur’an, mendengarkan kajian agama secara online, bahkan bisa juga bagi-bagi sedekah gratis kepada mereka yang tidak mampu dengan cara dibagikan langsung tanpa harus berkumpul. Dengan berbagai aktifitas ini, maka nilai-nilai ramadhan tetap bisa diraih meski terlihat senyap.

Tadarus Diri

Yang tidak kalah penting dari aktifitas ramadhan, adalah mengkontekstualkan kegiatan tadarus kepada nilai-nilai yang bermakna. Jika selama ini kegiatan tadarus sebatas hanya untuk membaca dan mengkaji Al-Qur’an, maka pada ramadhan kali ini alangkah lebih menarik jika tadarus juga diarahkan untuk ‘mendedah’ kemanusiaan. Disinilah ‘tadarus diri’ menjadi porsi yang cukup penting.

Baca Juga : Tasawuf dan Wabah Covid 19

Tadarus diri yang dimaksud disini adalah membaca, menelaah, sekaligus muhasabah atas pribadi-pribadi dalam memaknai ramadhan di tengah virus corona. Dalam situasi ‘isolasi diri’ dari aktifitas-aktifitas sosial, merupakan kondisi yang tepat untuk merenung dan berfikir jernih, selain meningkatkan ibadah. Goal dari perenungan diri tersebut adalah bagaimana agar memiliki sikap yang bijak dalam menghadapi cobaan global berupa covid-19.

Tadarus diri yang disertai kejernihan nurani, akan membuahkan berbagai kejernihan langkah. Pertama, bagaimana bersikap terhadap persebaran covid-19 agar masyarakat tidak panik, tetapi senantiasa waspada. Sebagai warga negara yang baik, apalagi sebagai muslim yang melaksanakan puasa, menyebarkan ketenangan kepada masyarakat tentu sangat penting. Masyarakat dihimbau agar tidak panik terhadap persebaran covid-19 yang sampai hari ini masih terus menjalar. Tetapi disisi lain, masyarakat diminta untuk tetap waspada dan mengupayakan semua langkah untuk mencegah persebaran covid-19.

Menyebarkan ketenangan tentu sejalan dengan misi puasa, yakni sebagai sarana mentramkan batin. Puasa yang dijalani dengan kesungguhan akan membuat jiwa stabil, tidak mudah goyah, dan bersikap tenang menghadapi berbagai persoalan. Hal ini bisa dibuktikan bukan semata dari sudut pandang agama, sains pun telah membuktikan bahwa puasa memang menentramkan batin.

Allan Cott, M.D, seorang pakar dari Amerika Syarikat, telah menghimpun hasil pengamatan dan penelitian para ilmuwan berbagai negara, lalu menghimpunnya dalam sebuah buku Why Fast, yaitu berbagai hikmah puasa. Antara lain: merasa lebih baik secara fisikal dan mental, merasa lebih muda, membersihkan badan, menurunkan tekanan darah dan kadar lemak, lebih mampu mengendalikan seks, membuat badan sehat dengan sendirinya, mengendurkan ketegangan jiwa, menajamkan fungsi deria, memperoleh kemampuan mengendalikan diri sendiri dan memperlambat proses penuaan.

Kedua, bagaimana menghindarkan diri dari ragam provokasi, hoax, serta infomasi yang ‘menyesatkan’ seputar covid-19. Segala hal yang berbau negatif harus mampu dicerna dengan baik oleh tiap-tiap individu agar dirinya tidak termasuk bagian dari sisi negatif tersebut. Sehingga ia tidak mudah terbawa arus untuk ikut-ikutan dalam provokasi, turut menyebarkan informasi hoax, atau malah memproduksi kabar yang ‘menyesatkan’ seputar covid-19.

Hal ini juga sejalan dengan misi puasa, yakni menghindarkan diri dari aneka keburukan atau kemaksiatan. Imam Izzuddin bin Abdissalam dalam kitab Maqashid al-Shaum, menjelaskan bahwa kecenderungan orang yang kenyang adalah berbuat maksiat atau keburukan. Sedangkan orang yang lapar difokuskan untuk mencari makan dan minum semata, sehingga tidak terpikir untuk berbuat buruk. Semangat seperti inilah yang perlu diaplikasikan dalam berpuasa, yakni tidak berhasrat kepada keburukan di tengah pandemi corona ini. Kedua hal di atas adalah hal-hal yang bisa diraih ketika upaya ‘tadarus diri’ bisa dilakukan. Di tengah isolasi diri dan meningkatkan ibadah, tadarus diri juga difokuskan sehingga kehadiran ramadhan bisa menjadi solusi untuk mengatasi persebaran covid-19.

Facebook Comments