Puasa dan Strategi Mengajar Nilai Pancasila

Puasa dan Strategi Mengajar Nilai Pancasila

- in Suara Kita
161
0

Ramadan tahun 2017 adalah momentum sangat strategis dalam membumikan Pancasila. Keseharian dalam puasa ramadan sangat tepat untuk menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan. Ini selaras dengan keutamaan ramadan sebagai bulan belajar. Sayangnya, strategi mengajar di tengah puasa seringkali terkendala dengan puasa itu sendiri. Seolah mereka yang puasa menjadi lemas, lapar dan dahaga, sehingga aktivitas belajar menjadi tidak maksimal. Padahal, di tengah puasa inilah, potensi anak sedang berada dalam kondisi yang sangat baik, disentuh dengan strategi yang baik, maka akan menghasilkan pribadi unggul (bertaqwa) yang teguh dalam menjaga Pancasila dan NKRI.

Ada banyak strategi yang bisa dilakukan para guru dalam mengajarkan nilai Pancasila di tengah puasa. Pertama, menekankan pada cerita dan kisah keteladanan terkait Pancasila. Ini sekaligus menjadi titik awal dalam mengajar. Bukan saja mengajarkan ihwal karakter dan keteladanan, juga akhirnya masuk dalam materi pelajaran. Kalau dalam materi ilmu sosial dan agama, materi kisah terkait Pancasila sangat menarik dan tepat, karena bisa langsung masuk dalam kerangka materi yang sedang dipelajari. Tetapi dalam ilmu eksakta, kisah dan cerita juga bisa, guru harus berani berinovasi sehingga materi pelajaran tetap menarik, siswa tidak merasa “lelah”, “lapar” dan “lemas”, dan semangat menjadi generasi pancasialis tetap menyala di ruang kelas.

Kedua, bermain untuk tingkat dasar atau menengah pertama. Bermain yang cerdas dan mencerdaskan akan menjadi pintu masuk yang menarik dalam belajar. Bermain di sini bukan berarti bermain yang menghabiskan banyak tenaga, melainkan bermain cerdas untuk menggali makna Pancasila sehingga mampu mengasah nalar kecerdasan berbasis Pancasila. Ramadan adalah materi utama untuk menerjemahkan permainan dalam konteks berpancasila. Dengan bermain, pelajaran yang dikaitkan Pancasila sangat menarik dan siswa mendapatkan materi nilai Pancasila yang cukup, yang disinergikan dengan nilai puasa sebagai bekal hidup.

Ketiga, memasukkan materi Pancasila dan ramadan sebagai pembuka dalam materi kelas. Misalnya, tidak salah kalau membaca ayat-ayat dalam al-Quran yang terkait Pancasila, seperti ayat tentang ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Semua itu ada dan sangat jelas dalam al-Quran. Dengan begitu, suasana ramadan mampu mengilhami semangat belajar Pancasila di dalam kelas. Siswa mampu menemukan makna Pancasila di kelas, sehingga kelas menjadi tempat yang nyaman bagi siswa dalam belajar. Pelajaran apapun bisa memasukkan materi Pancasila dan ramadan, sehingga siswa mampu menangkap banyak makna untuk bekal karakter hidupnya.

Keempat, membuat kuis belajar dalam kelas. Agar suasana belajar tidak membosankan, maka bisa membuat kuis pendidikan Pancasila. Guru bisa memanfaatkan materi Pancasila dan ramadan sebagai salah satu materi kuis, sehingga terjadi sinergi materi antara materi ramadan dan materi Pancasila. Ini momentum sangat menarik, karena kuis belajar ini mampu memberikan suasana mengasyikkan dan memacu semangat belajar lebih rajin lagi. Pancasila bisa dinikmati dengan suasana yang nyaman dan menyenangkan.

Kelima, mengadakan acara outbond. Acara di luar kelas ini sangat penting, karena mampu memberikan suasana segar untuk membangun etos berpancasila bagi siswa. Suasana belajar luar kelas juga mampu membuka mata para siswa akan Pancasila dan antangan dunia nyata yang sesungguhnya. Para guru juga mendapatkan momentum memberikan materi pelajaran dalam membentuk karakter siswa yang bervisi nilai-nilai luhur nusantara dan nilai luhur agama.

Berkarakter

Dalam strategi tersebut, guru harus memahami dengan baik bahwa ramadan merupakan momentum dalam membentuk karakter siswa yang bervisi dari Pancasila. Ada banyak nilai yang bisa dipetik. Pertama, ibadah puasa dapat menjadi sarana pelaksanaan pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Di dalam ibadah puasa semua orang merasakan rasa lapar dan dahaga tanpa pandang bulu baik orang kaya ataupun miskin, tua maupun muda, semua sama dihadapan Allah swt. Persamaan ini sesungguhnya wujud internalisasi sila-sila dalam Pancasila, baik musyawarah dan keadilan sosia. Ini bisa melahirkan perasaan yang membekas dan menjadikan Pancasila sebagai prinsip kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Kedua, mendidik siswa untuk bersikap jujur dan amanah. Melalui ibadah puasa, orang yang beriman dilarang makan, minum dan berhubungan antara suami istri pada siang hari, hal ini dikarenakan Allah hendak memperlihatkan faedah besar dari larangan itu. Pancasila sejatinya adalah latihan bersikap jujur dan amanah pada diri sendiri. Ketiga, mendidik siswa untuk hidup sederhana. Nilai-nilai kesederhanaan yang bisa diperoleh dari puasa dan amaliah-amaliah Ramadhan, lebih jauh lagi akan menyadarkan orang-orang yang beriman bahwa harta, benda, kedudukan, dan memperoleh kesempatan memperoleh kanikmatan dunia, semuanya adalah amanat Allah. Kesadaran ini sangat pancasialis, sehingga melahirkan individu yang siap berjuang total untuk kedaulatan NKRI dan teguhnya Pancasila.

Keempat, puasa mendidik siswa untuk bersifat sabar. Pancasila mengajarkan kita untuk sabar dalam menghadapi cobaan (musibah), sabar dalam mengelola demokratisasi, dan sabar dalam memberikan kesejahteraan bagi rakyat. Kelima, puasa sebagai pendidikan perubahan. Puasa adalah pengendalian diri dari hal-hal yang pokok seperti makan dan minum. Pancasila mengajarkan kita untuk mengendalikan diri dari hal-hal yang pokok semestinya membuat kita mampu mengendalikan diri dari kebutuhan kedua dan ketiga, bahkan dari hal-hal yang kurang pokok dan tidak perlu sama sekali.

Nilai-nilai inilah yang akan membentuk karakter siswa mempunyai komitmen Pancasila dan NKRI. Ramadhan harus dijadikan momentum strategis, sehingga Pancasila benar-benar menemukan momentumnya dalam setiap keseharian warga.

Facebook Comments