Social Distancing dan Self Isolation sebagai Teladan Nabi saw dalam Pengelolaan Wabah Penyakit

Social Distancing dan Self Isolation sebagai Teladan Nabi saw dalam Pengelolaan Wabah Penyakit

- in Suara Kita
1156
0
Social Distancing dan Self Isolation sebagai Teladan Nabi saw dalam Pengelolaan Wabah Penyakit

Wabah virus Corona  (covid-19) merupakan pandemi yang menggelobal. Setidaknya, data menunjukkan 185 negara telah terjangkit wabah yang belum ditemukan antivirusnya. Hal tersebut menunjukkan daya sebar virus yang luar biasa terhadap korbannya yaitu manusia. Mereka yang menjadi korban juga merupakan pejabat negara dan orang terkenal bahkan petugas medis pun terkena juga imbasnya. Kenyataan tersebut terjadi di Indonesia sebanyak enam dokter meninggal akibat menangani wabah ini.

Daya sebar vurus Corona menyebabkan penanganan dengan lockdown dan social distancing. Pola penanganan seperti itu diterapkan di tempat di mana  awal kasus merebak yakni di China khususnya di Wuhan. Kasus tersebut kini sudah tidak ada korban baru selama seminggu ini. Isolasi   menjadikan virus tidak berkembang yang memang disebarkan lewat interkasi manusia dengan jarak dekat. Atas hal ini Prancis juga menjadi banyak korban yang diakibatkan kurang taatnya masyarakat dalam masa pandemi tersebar yaitu diam di rumah. Sehingga kota yang melakukan ini nampak sepi tanpa aktivitas di keramaiaan. Dengan demikian, melalui isolasi dan lockdown penyebaran virus akan mudah tertangani dengan baik.

Virus Corona juga memaksa Indonesia melakukan hal yang sama dengan negara lain. Kegiatan itu dikenal dengan social distancing yang menjadikan banyak kerumunan masa sehingga memaksa peribadatan yang biasanya dijalankan sesuai jadwal ditiadakan atau dilaksanakan secara online. Bahkan, perluliahan di PT dan pembelajaran di sekolah dasar dan menengah atas tak luput pula diliburkan selama 14 hari. Kota-kota di Indonesia seperti Jakarta, Solo, Surabaya, Yogyakarta dan kota lainnya sudah melakukan upaya pencegahan. Dengan demikian, upaya tersebut menjadi bagian dari meminimalisir meluasnya wabah virus yang mematikan.

Fenomena wabah virus juga terjadi di masa Rasulullah saw.  Wabah tersebut dkenal dengan thoun. Penyebaran wabah tersebut mirip dengan wabah pandemi corona. Atas wabah tersebut Rasulullah saw. memerintahkan untuk menjauhi atau tudak boleh mendekat. Hal tersebut dapat di lihat dalam hadis:

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي حَبِيبُ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ قَالَ سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ سَعْدٍ قَالَ سَمِعْتُ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ يُحَدِّثُ سَعْدًا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا فَقُلْتُ أَنْتَ سَمِعْتَهُ يُحَدِّثُ سَعْدًا وَلَا يُنْكِرُهُ قَالَ نَعَمْ

Telah menceritakan kepada kami [Hafsh bin Umar] telah menceritakan kepada kami [Syu’bah] dia berkata; telah mengabarkan kepadaku [Habib bin Abu Tsabit] dia berkata; saya mendengar [Ibrahim bin Sa’d] berkata; saya mendengar [Usamah bin Zaid] bercerita kepada Sa’d dari Nabi saw.  bahwa beliau bersabda: “Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut.” Lalu aku berkata; “Apakah kamu mendengar Usamah menceritakan hal itu kepada Sa’d, sementara [Sa’d] tidak mengingkari perkataannya Usamah?” Ibrahim bin Sa’d berkata; “Benar.” (HR. Al-Bukhāriy)

Baca Juga : Corona, Solidaritas, dan Optimisme

Lockdown jika telah menjadi pandemi atau self isolation jika belum banyak mewabah di sekitar merupakan cara efektif. Hal tersebut dilihat dalam hadis tersebut. Arus manusia  baik ke dalam maupun keluar ditutup. Interaksi manusia yang berkerumun juga dibatasi bahkan dalam keadaan tertentu shalat jama’ah di masjis pun ditiadakan dan diganti di rumah masing-masing. Sehingga menyendiri adalah menyelamatkan yang lain. Namun, pada dasarnya eea kekinian berbeda dengan dahulu interaksi fisik dibatasi namun secara teknologi lewat medsos masih memungkinkan saling sapa di antara manusia. Kenyataan ini menjadikan informasi terus datang dan memudahkan untuk mengatur ritme kehidupan.

Sejak Jum’at tanggal 20 Maret 2020 beberapa masjid sudah meniadakan Shalat Jum’at dan bahkan shalat berjamaah lima waktu lainnya. Hal tersebut merupakan upaya sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad saw. dalam hadis di atas. Setidaknya upaya tersebut juga diamini oleh kaidah dalam ilmu ushul al-fiqh di mana menjaga diri dari segala mara bahaya ketika ada bahaya penyakit berbahaya yang mengancam manusia lebih didulukan dari pada menjaga agama dengan tetap shalat berjamaah baik untuk shalat Jum’at atau lainnya.

Upaya tersebut menunjukkan Islam sebagai ajaran yang mudah dan tidak memberatkan. Beragam kewajiban yang harus ditegakkan dengan keutamaan berkumpul atau berjamaah menjadi  shalat di rumah berjamaah atau sendiri di kala sakit sebagai self isolation yang sangat baik. Oleh karenanya, jika sesama manusia berkumpul adalah maka untuk sementara waktu dapat dilakukan melalui media online lewat smartphones atau tidak melalui kontaks secara langsung.Wujud ini akan menyelamatkan seluruh generasi anak bangsa Indonesia atas musibah ini. Dengan tetap berdoa dan berusaha, Allah swt. berkenan mengangkat segera musibah wabah pandemi corona dan segera memulihkan beragam akibat atasnya baik dalam materi maupun kehidupan sosial masyarakat. Hanya kepada Allah swt. meminta ini semua  cepat berlalu dan mereka yang gugur menjadi syuhada baik masyarakat luas terlebih para dokter dan tenaga medis lainnya.

Facebook Comments