Spirit Komunikasi Terapeutik dalam Idul Fitri

Spirit Komunikasi Terapeutik dalam Idul Fitri

- in Suara Kita
784
0
Spirit Komunikasi Terapeutik dalam Idul Fitri

Idul Fitri atau jika diterjemahkan ke dalam kultur sosial Indonesia ialah lebaran, nyatanya mengandung muatan memperbarui, bahkan menyembuhkan hubungan yang ‘sakit.’ Kiranya, momentum ini sangat tepat untuk memperbarui rasa persaudaraan, semangat persatuan, toleransi, dan juga empati. Setelah satu bulan menahan nafsu biologis yang diiringi dengan upaya menahan diri dari menyakiti orang lain—baik  secara verbal atau nonverbal—nyatanya kita merasakan sebuah kenikmatan yang luar biasa. Hati kita kembali bersih, dihapuskan-Nya penyakit hati yang dapat memperkeruh jiwa, sehingga kita siap untuk menjalin dan memperbarui hubungan dengan sanak saudara, tetangga, dan siap membuka pengalaman baru terhadap siapa saja.

Satu hal yang paling menakjubkan dalam spirit Idul Fitri ialah, tradisi saling mengunjungi, saling memaafkan, dan hati yang saling mendoakan. Dalam tradisi sungkem, misalnya. Setidaknya, orang yang lebih muda akan menghaturkan rasa hormat, memohon maaf, dan meminta doa restu kepada orang yang lebih tua. Penghormatan, permohonan maaf, dan permintaan doa merupakan tiga hal yang mengandung efek komunikasi yang menyembuhkan. Terutama bagi orang-orang yang tersakiti hatinya, tiga hal tersebut mengandung unsur penyembuhan. Dengan tiga hal tersebut, komunikan akan merasa lebih positif.

Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan yang rusak (baca: perpecahan) dapat bermula dari komunikasi yang menyakitkan. Ujaran kebencian, perang tagar, hasutan, dan permusuhan yang mencederai perdamaian banyak berawal dari perkataan yang menyakitkan. Dalam kadar sekecil apa pun, perkataan yang menyakitkan merupakan awal sebuah hubungan yang rusak dan tidak berfungsi penuh. Jika suatu hubungan antara individu sudah tidak berfungsi penuh, maka perasaan seperjuangan, perasaan persatuan, akan hilang diganti dengan permusuhan yang menodai keharmonisan.

Kita beruntung, dalam tradisi lebaran di Indonesia, kita mengenal adanya tradisi saling mengunjungi, saling meminta maaf, dan meyajikan komunikasi yang menyembuhkan. Saling memaafkan dapat membuat dua orang yang saling membenci menjadi dekat kembali. Saling memaafkan dapat memantikkan rasa damai dan menyemai kesejahteraan  batin. Ujaran kebencian pun akan berganti dengan perasaan yang lilih. Terajut kembali rasa persaudaraan yang dicabik-cabik oleh kamunikasi yang menyakitkan.

Spirit inilah yang amat penting dalam membangun kedamaian raga dan batin. Jika perkataan bisa menyakitkan, maka selepas ini, kita harus bijak memilih kata; agar setiap apa yang kita ucapkan bisa menjadi proses penyembuhan. Tidak perlu mengkritik dengan menyakiti, sebab kritik adalah jenis komunikasi yang paling buruk dan tidak efektif. Setiap individu hakikatnya ingin menghindarinya.

Sebagai bangsa yang dominan dalam penggunaan bahasa lisan (daripada tulisan), kita harus meyakini bahwa perseteruan besar sering lahir dari kata-kata yang menyakitkan dan menyalahkan. Oleh karena itu, obatnya ialah saling memaafkan dan membiasakan untuk melahirkan kata-kata yang tidak menyakiti, sehingga mengandung kekuatan yang memberdayakan. Pujian, penghargaan, dan kalimat toleransi dapat melanggengkan persaudaraan.

Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi etika hubungan antar manusia menganjurkan umatnya untuk saling berkata-kata yang baik. Kata-kata yang buruk, sedapat mungkin harus bisa ditahan agar tidak sampai keluar dan menyakiti orang lain. Rasulullah Saw. selalu mengajarkan kita untuk menahan lisan. Keterampilan menahan lisan akan membawa pada keselamatan dan perdamaian. Sebaliknya, kata-kata yang menyakitkan dapat menimbulkan sengketa yang berujung pada permusuhan.

Lebaran memang merupakan momentum yang singkat. Mungkin, kita akan selalu merindukannya. Sebab saat itu, hati kita selalu diliputi rasa persaudaraan, kerukunan, dan hubungan yang produktif dan bahagia. Meski demikian, lebaran hanya soal waktu. Kita memiliki kesempatan untuk selalu merasakan lebaran ketika kita berhasil menahan diri dari perkataan yang menyakitkan, dan selalu berusaha merajut persaudaraan dengan komunikasi yang positif dan terapeutik (menyembuhkan). Pertanyaannya, siapkah kita menyediakan hati untuk selalu memaafkan dan merajut persaudaraan tanpa harus bergantung pada momen lebaran? Kita memang perlu belajar bersama tentang dua hal yang dapat memperbaiki persatuan dan keharmonisan, yaitu saling memaafkan dan komunikai yang menyembuhkan, bukan yang menyakitkan. Wallahu’alam.

Facebook Comments