Viral tidak Selamanya Benar dan Rasional

Viral tidak Selamanya Benar dan Rasional

- in Suara Kita
147
1
Viral tidak Selamanya Benar dan Rasional

Kebenaran tidak selamanya mendapat pujian dan simpati publik. Sebaliknya, kesalahan tidak selamanya dicela untuk selanjutnya dijauhi. sebagai misal, seorang kiai mengajarkan kebaikan kepada masyarakat atau bahkan nabi kepada umat sering kali tidak diikuti. Namun, seorang pimpinan rampok yang jelas-jelas mengajarkan taktik licik (baca: kesalahan) sering kali diikuti oleh anak buahnya.

Di era dunia maya, kata-kata yang banyak dibahas atau sering dikunjungi (baca: viral) merupakan kata-kata yang cukup diperhitungkan. Bahkan dengan adanya ke-viral-an sebuah kata mampu menutup objektivitas masyarakat dalam menanggapi sesuatu. Ketika ada seseorang yang viral karena melakukan hal positif maka publik akan menganggap bahwa orang tersebut benar dan baik. Padahal, bisa jadi orang yang dianggap selalu baik tersebut hanya kebetulan berbuat baik dan selebihnya selalu berbuat kejahatan. Sebaliknya, ada orang yang dalam kesehariannya selalu berbuat baik namun suatu ketika terpeleset hingga “berbuat salah” sehingga kesalahan tersebut menjadi viral, maka ia dianggap oleh publik sebagai seorang yang selalu salah.

Itulah kenyataan akhir zaman ini, di mana media internet mampu memutar-balikkan fakta. Hanya karena setitik orang melakukan sesuatu, karena ke-viral-annya, maka akan menutup perbuatan harian yang sejatinya berkebalikan. Padalah, anggapan publik terhadap orang ini tidak sekadar khusnuzan (berbaik sangka) atau suuzan (berburuk sangka) dalam hati saja. Lebih dari itu, anggapan atas sesuatu yang viral tersebut bisa memicu perdebatan di media sosial atau bahkan mengubah perilaku sebagian besar masyarakat.

Terhadap masalah ini, kita secara bersama-sama dan masif memiliki pekerjaan rumah (PR) yang mesti diselesaikan. Masyarakat kita mesti dididik untuk bisa cerdas dalam menggunakan media maya. Mereka harus bisa menilai perkara yang positif dan negatif dengan menggunakan akal sehat masing-masing. Mereka mesti menyikapi berita yang ada dengan akal dan pikiran. Jika ada perkara yang irasional, jangan sampai ia terpikut ke dalamnya. Karena, jika hal ini terjadi maka diri masyarakat akan menerima segudang dampak negatif.

Baca Juga : Pendidikan Moderasi, dan Literatur Pro-Keberagaman

Sebagai misal, belum lama ini kita disuguhkan dengan adanya kabar keberadaan Keraton Agung Sejagat. Bagi masyarakat yang berpikir rasional, tentu mereka akan langsung menolak keberadaan keraton ini. Sehingga, segala bentuk tipu daya yang mengarah kepada dirinya akan dengan mudah ditangkis. Namun bagi masyarakat yang berpikir irasional, mereka akan dengan mudah mempercayai keberadaannya. Bahkan, bukan tidak mungkin masyarakat kita terkena tipu dayanya. Bisa jadi mereka yang percaya akan keberadaannya diberikan janji akan menempati kedudukan tinggi dengan gaji yang tinggi pula. Dan dalam pada itulah, masyarakat kita yang sudah mengiyakan akan dengan muda ditipu dengan cara membayar sejumlah uang sehingga nantinya dirinya bisa menempati kedudukan tinggi dengan gaji yang tinggi tersebut. Mereka tidak sadar bahwa iming-iming menjadi pejabat tinggi dengan gaji tinggi tersebut hanyalah berada di angan-angan karena sejatinya irasional.

Hal lain yang mesti selalu dilakukan masyarakat dalam menggunakan media maya adalah selalu bersikap preventif terhadap diri sendiri. Jangan sampai ada virus negatif merasuki diri gara-gara adanya berita yang sedang viral. Pengguna dunia maya mesti bisa memilah konten positif dan negatif. Setelah bisa memilah, mereka juga harus bisa memilih berita positif untuk dijadikan referensi perilaku kehidupan nyata. Sementara, berita dengan konten negatif jangan sampai merasuk ke dalam jiwa yang akhirnya akan berbuah ke perilaku negatif pula. Jika publik sudah berpikir rasional serta mampu memilah dan memilih konten berita di dunia maya, insyaallah mereka akan aman dari segala bentuk berita hoax, fitnah, dan sejenis meskipun berita-berita tersebut sedang viral.

Wallahu a’lam.

Facebook Comments