Sapantoek wahyoening Allah Gya doemilah mangoelah ngelmoe bangkit Bangkit mikat reh mangoekoet Koekoetaning jiwangga Jen mangkono kena sineboet wong sepuh Liring sepoeh sepi hawa Awas roroning atunggil —Serat Wedhatama, Mangkunagara IV Konon, setiap anak adalah milik zamannya dan, sebagaimana “keharaman” dalam ilmu sejarah, menerapkan ukuran zaman tertentu pada zaman yang lain adalah sebentuk anakronisme. Orang tak mungkin mencela ataupun memuji generasi X, misalnya, sebagai sebuah generasi yang asing dengan ...
Read more 0 Archives by: Heru harjo hutomo
Heru harjo hutomo
Heru harjo hutomo Posts
Dalam kebudayaan Jawa, demokrasi sebagai substansi sebenarnya sudah dikenal sejak lama, bahkan sebelum istilah “demokrasi” itu tercipta. Tak sekedar sebentuk konsep sosial-politik-ekonomi, dalam kebudayaan Jawa demokrasi sebagai substansi itu justru untuk pertama kalinya berkaitan dengan hubungan antara Tuhan (Gusti) dan insan (kawula). Dalam kebudayaan Jawa, sebagaimana yang tercermin dalam pagelaran wayang kulit, Tuhan tak selamanya didudukkan sebagai sang dalang sebagaimana yang selama ini diasumsikan. Lepas dari citra totalitarianisme dan otoritarianisme, ...
Read more 0 Tentang arti dari sebuah kedaulatan, barangkali Sri Sultan Hamengku Buwana I adalah salah satu sosok yang paling kentara dalam memperjuangkan dan kemudian meraihnya. Apabila sosok-sosok lain hanya cukup memperjuangkan dan kemudian meraih kedaulatan entah pada bidang politik, ekonomi, budaya, dsb., raja pertama Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat itu nyaris memperjuangkan dan kemudian meraih kedaulatan di segenap lini kehidupan, termasuk agama dan spiritualitas. Kita semua tentunya cukup paham tentang bagaimana sikap Pangeran Mangkubumi, ...
Read more 0 urip iku entut gak urusan jawa utawa tionghoa muslim utawa Buddha kabeh iku padha neng ngendia ae tetep entut terus geneya padha rebut? —Semar Mubal, Heru Harjo Hutomo Di sebuah gelaran karawitan, seorang yang tahu bahwa saya adalah seorang yang pernah bersekolah filsafat, mengatakan bahwa sebenarnya orang-orang Jawa itu menyembah leluhur, yang dikenal dengan sebutan “Eyang.” Saya pun tak menampik penafsiran semacam itu ketika istilah “leluhur” hanyalah pengembangan lebih ...
Read more 0 “Allah,” ucap seorang anak di sela-sela keasyikannya berlari dan berbicara sebagai sebentuk aktifitas kemanusiaan yang baru saja lancar dilakukan. Bisa jadi, ucapan “Allah” itu terbentuk karena TV, pengajaran orangtua atau orang lainnya. Namun, satu hal yang pasti, saya selaku bapaknya belum pernah mengajarinya dan tontonan TV ataupun pengajaran para orangtua awam tak semata kalimat “Allah” yang berdiri sendiri yang lazim diajarkan. Tak pula anak itu, Pandam namanya, saya ukur dengan ...
Read more 0 Apa yang tampak baik, dan secara sekilas seperti hal yang dianjurkan, terkadang adalah hal yang akan berdampak buruk atau tak baik. Contoh paling kentara dari pemahaman itu adalah agama. Di antara berbagai dimensi yang dimiliki manusia, dimensi religiositas adalah dimensi yang paling dalam ketika menggigit, hingga rasanya, ironisnya, ada yang kurang ketika seumpamanya gigitan itu dilepaskan. Pada tahap itulah orang kemudian dihadapkan pada satu bentuk hijab teragung yang sekilas seperti ...
Read more 0 Eskapisme kerapkali menjadi stigma dari sebuah spiritualitas, entah itu spiritualitas yang berbasiskan agama ataupun spiritualitas yang berbasiskan budaya-budaya yang terwariskan. Dalam sejarah peradaban Islam pernah pada suatu masa spiritualitas Islam atau tasawuf dituding sebagai sumber dari kemerosotan peradaban Islam. Bagi golongan yang memang terkesan meletakkan agama sebagai sesuatu yang lebih besar daripada Tuhan itu, tasawuf seolah-olah seperti platonisme yang meyakini bahwa kesejatian itu adalah di alam ide dan bukannya di ...
Read more 0 Dalam sepanjang sejarah republik Indonesia, atau bahkan jauh sebelum NKRI terbentuk— khususnya pada masa Adipati Unus yang pernah mengobarkan perang dengan portugis ketika Malaka (yang bukan Jawa) terjajah—, pernahkah orang Indonesia ataupun Nusantara tergelegak jiwa jantannya dan berperang untuk orang-orang syi’ah? Ketika tak ada rasa simpatik dan bahkan empatik terhadap orang-orang Nusantara pada kepedihan orang-orang syi’ah, maka lantas patut dipertanyakan tentang status orang-orang syi’ah di kalangan muslim Indonesia ataupun Nusantara. ...
Read more 0 Nasionalisme, sejauh ini, selalu saja dihadapkan pada agama sebagaimana dua entitas yang sama sekali berbeda dan bahkan bertentangan. Sekali pun terjadi penggabungan, seperti halnya pada ideologi nasionalisme-religius, masih saja terdapat pengandaian dasar bahwa nasionalisme atau agama adalah dua entitas yang serba berkekurangan dan hanya akan lengkap ketika mereka digabungkan, seakan-akan pada kebangsaan sama sekali tak ada nilai-nilai yang dapat dianggap agamis atau pada agama sama sekali tak ada nilai-nilai yang ...
Read more 0 Pada sebuah kesempatan, seorang Bhante mengatakan pada saya, Buddhisme itulah yang sebenarnya dipraktikkan oleh orang orang-orang kejawen. Bagi saya, ungkapan itu memang tak terlalu berlebihan. Apalagi ketika sepuluh tahun kemudian saya sempat berdiskusi dan mewawancarai seorang pendeta Buddhis, yang berbeda dengan seorang Bhante, boleh menggauli perempuan (Berpijak di Akar Budaya yang Sama, Heru Harjo Hutomo, https://jalandamai.org). Namun, ternyata kejawen tak hanya cukup apik dalam menganyam Buddhisme sehingga tak tampak asing ...
Read more 0
