Hijrah 2019: dari Hate Speech Menuju Love Speech dengan Persepsi Diri

Hijrah 2019: dari Hate Speech Menuju Love Speech dengan Persepsi Diri

- in Suara Kita
208
0
Hijrah 2019: dari Hate Speech Menuju Love Speech dengan Persepsi Diri

Kurun waktu tahun 2018, penulis bekerja di salah satu platform yang menampung ujaran kebencian (hate speech) dan diskriminasi yaitu kabarkan.org. Penulis mengetahui berbagai macam model ujaran kebencian di dunia nyata dan dunia maya, pun dengan kasus diskriminasi. Ada dua jenis ujaran kebencian yang marak di tahun 2018, yaitu berbasis agama dan politik. Porsi yang lebih besar dalam kasus ujaran kebencian adalah dalam bidang politik.

Menuju tahun politik 2019, jagat maya kita dipenuhi dengan ujaran kebencian walaupun kadang belum mengarah pada call to action. Kebencian-kebencian karena perbedaan pilihan politik praktis menjadi landasan, antara satu orang dan lainnya saling membenci. Calon presiden seolah-olah membawa perubahan yang besar, tanpa memerhatikan perannya sendiri sebagai masyarakat sipil justru sangat penting dalam membangun bangsa Indonesia.

Apalagi yang melakukan ujaran kebencian adalah tokoh agama, wakil rakyat yang di parlemen, serta mereka yang memiliki followers yang banyak, pasti kebencian akan semakin merebak. Bahkan kalau ujaran kebencian sudah pada taraf call to action, pertikaian antar kelompok akan sulit dihindari. Mengapa? Karena salah satu dampak ujaran kebencian bisa mendorong kebencian kolektif, pengucilan, diskriminasi, kekerasan, penghilangan nyawa bahkan genosida.

Hijrah Menuju Love Speech

Resolusi bersama masyarakat Indonesia adalah meminimalisir ujaran kebencian dengan menggalakkan ujaran cinta. Seperti halnya yang dilakukan oleh akun NU garis lucu dengan Muhammadiyah garis lucu, dua kelompok besar yang terkadang terjadi perbedaan pendapat, justru melalui kedua akun tersebut kita bisa merasakan suasana yang adem. Saling mengucapkan selamat tahun baru 2019, dan direspons oleh akun Muhammadiyah Garis Lucu dengan joke, metode hisab.

Baca juga : 2019: Menjadi Manusia Berkemajuan Bebas dari Kebencian

Ketika mendengarkan hijrah, apa yang ada dalam pikiran Anda? Mereka yang menebalkan jenggot, menaikkan celana ke atas mata kaki dan mereka yang menggunakan sapaan berbahasa Arab? Ketahuilah, bahwa hijrah bukan hanya sebatas itu, melainkan juga mengubah perilaku dan menjauhi larangan-larangan agama agar semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt. Pembahasan hijrah dari sisi sejarah sudah banyak diketahui oleh banyak orang, kali ini penulis menawarkan hijrah dengan metode psikologi.

Hijrah tidak melulu mencontoh apa yang dilakukan orang lain, melainkan juga harus bisa mengevaluasi diri kita sendiri. Sudah sejauh mana perilaku dan kedekatan kita kepada Tuhan, dengan mengetahui diri sendiri. Dalam kajian psikologi, tentang pengetahuan diri bisa kita lihat pada pembahasan persepsi diri.

Pengetahuan diri bisa menuntun kita pada evaluasi diri terhadap apa yang selama ini kita lakukan. Brehm dan Kassin (1996: 41) mendefinisikan pengetahuan diri atau konsep diri “self-concept is the total sum of individual’s beliefs about his or her own personal attribute”. Dari penjelasan mereka, kita tahu bahwa konsep diri merupakan keseluruhan keyakinan seseorang berkenaan dengan atribut personal dirinya. Keyakinan muncul dari berbagai sumber, misalnya pengalaman diri, sedangkan atribut seseorang identik dengan sesuatu yang melekat atau sesuatu yang menonjol di dalam diri seseorang.

Keyakinan seorang yang taat beragama adalah mereka yang tidak mudah marah, menyalahkan orang lain, bahkan membenci. Sifat-sifat demikian banyak dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. bagaimana menghargai kelompok lain, sekalipun berbeda keyakinan dengannya. Misalnya ketika nabi menghargai jenazah orang Yahudi yang lewat di hadapannya, beliau berdiri sebagai rasa hormatnya. Kemudian sahabat memberi tahu bahwa jenazah tersebut adalah orang Yahudi. Kemudian nabi merespons, “bukankah dia adalah manusia”.

Hijrah bukan hanya melulu pada pakaian yang melekat, tapi juga perilaku dan tindakan. Bukan pula sudah mempersepsikan sudah menjalankan sunnah nabi dengan mengubah tampilan fisik, namun lebih membenci terhadap kelompok lain atau mereka yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Hijrah pada tahun baru yang harus kita jalankan bersama adalah meminimalisir ujaran kebencian dan memperbanyak hate love.

Hate love dengan memegang keyakinan bahwa perintah agama juga menuntun kita untuk menghargai dan menghormati kelompok lain. Keyakinan tersebut harusnya dijadikan harga diri kita semua. Apabila kita tidak menghargai orang lain, melakukan ujaran kebencian, kita harus mengevaluasi diri. Brigham (1991:104) berpendapat bahwa harga diri merupakan “the evaluative part of the self-concept”. Apabila keyakinan saling menghormati dan menghargai orang lain tidak kita jalankan, kita patut mengevaluasi diri kita sendiri. Dari keyakinan tersebut, kita harus presentasikan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu mewujudkan pribadi yang menghargai dan dewasa menghadapi perbedaan. Dengan begitu, ujaran kebencian mudah tidak merebak, adapun kalau masih melakukannya kita patut mengevaluasi diri sendiri dengan sistem kepercayaan yang kita miliki.

Facebook Comments