Memaafkan, Awal dari Persaudaraan

Memaafkan, Awal dari Persaudaraan

- in Suara Kita
422
1
Memaafkan, Awal dari Persaudaraan

Beberapa waktu lalu, di media sosial tersebar bagaimana tindakan seorang ibu yang memaafkan pelaku pemerkosaan terhadap anaknya. Ibu korban pemerkosaan yang terjadi di SMU Steubenville, di Kota Steubenville, Negara Bagian Ohio, Amerika Serikat,hari ini memaafkan satu dari dua pelaku yang telah memperkosa dan merendahkan martabat anak perempuannya.

Surat kabar the Daily Mail melaporkan, Senin (18/3), tindakan yang sangat luar biasa ini muncul setelah pelaku, Malik Richmond, tertunduk lesu dan menangis saat mendengar putusan pengadilan. Saat itu juga, pelaku langsung menghampiri ibu korban dan mengatakan dirinya meminta maaf atas apa yang telah dia perbuat. Namun, usai pelaku mengatakan hal itu, ibu korban langsung merespon pernyataan pelaku. “Saya tahu itu dan saya memaafkan kamu,” ucap ibu korban.

Kata-kata yang diucapkan ibu korban itu tentu saja sangat luar biasa mengingat anak perempuannya belum menunjukkan bagaimana perasaannya dan belum bisa memaafkan kedua pelaku yakni Malik Richmond (16 tahun) dan Trent Mays (17 tahun) atas apa yang mereka perbuat kepadanya.

Apa yang dilakukan, merupakan sebuah tindakan yang luar biasa. Bagi sebagai orang, perbuatan itu tidak dimaafkan. Tetapi menelisik lebih jauh, perbuatan ini memiliki dampak yang luar biasa dalam kehidupan masyarakat saat ini. Di mana masyarakat yang mudah amarah terhadap apa yang menyinggung perasaannya.

Sebagai orang yang memiliki budaya timur yang lebih lembut, terlebih agama Islam, setidaknya harus bisa meniru apa yang dilakukan ibu tersebut. Kita bisa meniru Muhammad bagaimana dia merupakan sosok yang dapat memaafkan kepada siapa saja. Terlihat sewaktu, kemenangan demi kemenangan yang diraih Rasulullah Saw. selama menyebarkan Islam, tidak serta-merta menjadikan dirinya sombong atas apa yang dicapai.

Kerendahan hati itu nampak sewaktu Rasulullah dapat menyebarkan secara merata seluruh dataran tanah Mekkah, serta musuh-musuhnya mengakui bagaimana kekuatan dan kecerdasan beliau. Kemenangan atas wilayah Mekkah secara menyeluruh bukan berarti untuk bales dendam dengan orang-orang yang telah memusuhinya.

Rasulullah Saw. saat dihadapkan dengan orang-orang masih memiliki pemahaman yang berseberangan dengan dirinya, beliau berkata, “Orang-orang Quraisy. Menurut pendapat kamu, apa yang akan kuperbuat terhadap kamu sekarang?”

Mendengar pernyataan tersebut, membuat beberapa orang Quraisy merasa bingung. Kenapa mereka masih dikasih pilihan? Dalam benak mereka, padahal dalam pengalaman mereka perang, tatkala kalah akan dijadikan budak atau disiksa semau pihak yang menang. Tetapi ini berbeda, Rasulullah Saw. memperlakukan berbeda dengan tradisi sebelumnya, beliau memanusiakan manusia meskipun ia tidak suka dengan dirinya.

Di sela kekaguman tersebut, salah satu mereka menjawab, “Yang baik-baik. Saudara yang pemurah, sepupu yang pemurah.” Selang beberapa lama kemudian, Rasulullah Saw. menjawab, “Pergilah kamu sekalian. Kamu sekarang sudah bebas!

Mendengar jawaban tersebut, orang-orang Quraisy semakin kagum, tetapi mereka tidak dapat berbuat banyak, sebab mereka sudah kalah dalam peperangan maka mereka harus mengikuti apa yang dikatakan oleh pihak pemenang. Mereka pun bergegas untuk meninggalkan Makkah. Semakin cepat mereka meninggalkan Makkah semakin bagus sebelum Rasulullah Saw. berubah pikiran, pikir mereka.

Alangkah indahnya pengampunan itu di kala ia mampu! Alangkah besarnya jiwa ini, jiwa yang telah melampaui segala kebesaran, melampaui segala perasaan duniawi, telah mencapai segala yang di atas kemampuan insani! Orang-orang Quraisy sudah dikenal betul olah Rasulullah Saw., siapa-siapa yang berkomplot hendak membunuh dirinya, siapa-siapa yang telah menganiayanya dan menganiaya sahabat-sahabatnya dulu. Tapi apa yang dilakukan Rasulullah Saw.? Beliau mengampuni tanpa menyakiti sedikit pun pada diri mereka.

Sesudah memasuki Makkah, Rasulullah Saw. sudah mengeluarkan perintah jangan sampai ada pertumpahan darah dan jangan ada seorang pun yang dibunuh. Oleh karena itu, mereka suami-istri lalu menyembunyikan diri, ada pula yang lari. Tetapi keadaan semakin membaik, terkendali, aman dan tenteram, serta orang melihat betapa Rasulullah saw. berlapang dada dan memberikan pengampunan yang begitu besar kepada mereka.

Ada beberapa orang sahabat yang minta supaya mereka yang sudah dijatuhi hukuman mati itu juga diberi pengampunan. Seperti, Usman bin Affan –yang masih saudara susuan dengan Abdulllah b. Abi’s-Sarh- juga datang lepada Rasulullah Saw., memintakan jaminan pengampunan. Seketika lamanya Rasulullah Saw. diam, kemudian memberikan ampunan.

Sedangkan Umm Hakim (Bint’l-Harith bin Hisyam) telah pula memintakan kepada Rasulullah Saw. jaminan pengampunan buat suaminya, ‘Ikrima bbin Abi Jahl yang telah lari ke Yaman. Dia pun diampuni dan wanita tersebut kemudian pergi menyusul suaminya dan dibawanya kembali menemui Rasulullah Saw. Tidak hanya itu, Rasulullah Saw. juga telah memaafkan Shafwan bin Umayya yang telah menguyah jantung Hamzah –paman Rasul sesudah gugur dalam peperang Uhud, telah dimaafkan.

Apa yang dilakukan Muhammad pada waktu itu memberikan ruang terbuka umat manusia untuk menjalin hubungan persaudaraan. Atau tidak bisa membayangkan, tatkala maaf tidak bisa diwujudkan? Apa jadinya bales dendam aka selalu menjadi-jadi. Persaudaraan akan sulit tersebut. Tatkala ini terjadi, maka perdamaian sulit terwujud.

Facebook Comments