Menghidupi Tradisi, Menyemai Toleransi

Menghidupi Tradisi, Menyemai Toleransi

- in Suara Kita
309
0
Menghidupi Tradisi, Menyemai Toleransi

“Klepu, Desa Terpencil di Ponorogo 40 Tahun Lebih di Kuasai Salibis,” judul sebuah narasi ketika saya searching di internet tentang desa Klepu (www.suara-islam.com 27/01/2015). Atau narasi lainnya yang masih mengobarkan semangat yang sama: sentimen antar agama. Seperti alasan pendirian Gedung Pembinaan dan Pelatihan Mualaf, di mana sumber dananya berasal dari kedubes Saudi Arabia, di samping untuk memujudkan kemandirian ekonomi juga untuk “mengokohkan akidah” (www.republika.com 02/06/2016).

Dalam narasi-narasi itu Klepu selalu digambarkan sebagai sebuah daerah “rawan akidah,” sudah bertahun-tahun desa ini “terjadi upaya pendangkalan akidah,” atau adanya misi “Katolik-Kristenisasi.” Logika yang berusaha dikembangkan di sini adalah bahwa kemiskinan dan keterpencilan sebangun dengan dangkalnya akidah.

Saya teringat Snouck Hurgronje, dalam alur berpikir Foucault dan Edwar Said, narasi-narasinya tentang Indonesia pra-kolonialisme menyebabkan bekunya atau bahkan matinya orang Indonesia secara diskursif, yang pada gilirannya juga matinya mereka secara politis. Narasi-narasi “perendahan” yang terbangun semacam ini kemudian menjadi pembenaran mereka untuk memperadabkan atau, dalam kata kasarnya, menjajah.

Apa yang menimpa Klepu pada aras diskursif di atas tak jauh beda dengan apa yang menimpa orang Indonesia di waktu lampau, hanya saja yang menjadi pihak “pemberadab” di sini bukanlah Belanda. Tapi, kalangan Islam puritan, kalangan Islam yang notabene anti-kearifan lokal, kalangan Islam yang berasal dari luar wilayah Klepu—atau paling tidak, kalangan yang mencoba mengembangkan varian Islam yang sama sekali tak memiliki akar historis di Klepu.

Berjarak sekitar 30 km dari pusat kota Ponorogo, desa Klepu sebenarnya adalah wilayah yang dikaruniai potensi alam yang elok. Pegunungan, hamparan sawah dan kali berbatu merupakan pemandangan yang lumrah menghiasi jalanan menuju Klepu. “Terus saja, mas. Susuri jalan kecil setelah jembatan,” jawab ramah sejoli petani yang tengah menjemur jagung hasil panenannya di tepi jalan, ketika saya tanya letak Gua Maria Fatima.

Mayoritas masyarakat Klepu berprofesi sebagai petani. Keramahan dan kerukunan memang cukup terasa di sini, tanpa dibuat-buat—sebentuk sikap sosial yang masih jamak saya temui di desa-desa pegunungan.

Seperti sejoli petani yang jelas muslim di atas, di mana sang isteri berkerudung, dengan ramahnya mereka menunjukkan jalan berkelok dan menanjak menuju Gua Maria Fatima, salah satu tempat peziarahan umat Katolik terbesar kedua di Jawa Timur. “Pinarak, mas,” ucap lelaki itu sembari menepuk pundak saya ketika saya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.

Tak lebih dari 100 meter dari posisi gua di ketinggian bukit terdapat sebuah masjid beratap susun tiga. Adhem dan hening, begitulah suasana Gua Maria Fatima. Selain gua, di tempat ini juga terdapat sendang atau mata air yang kini sedang direnovasi. Sendang ini bernama Sendang Waluyajatiningsih di mana airnya terkenal higienis, langsung dapat diminum di tempat.

Di sekitar sendang ada tiga tanaman langka yang dilestarikan masyarakat Klepu: tanaman jambe, andong, dan puring. “Dahulu, pada tahun 1986, seorang bocah berusia 5 tahun dikabarkan hilang tenggelam di sendang,” cerita Bonari, seorang keamanan di Gua Marima Fatima.

Tak disangka, bocah itu ternyata masih hidup. Justru dengan gamblangnya ia bercerita telah ditolong oleh sesosok ibu berpakaian serba putih. Umat Katolik setempat pun kemudian bersepakat untuk membangun tempat untuk berziarah dan berdoa, membangun sebuah gua. “Selain tenang dan damai, dulu tempat ini memang dikenal angker,” tambah Bonari.

Di depan gua terdapat halaman yang cukup luas, dengan dihiasai 14 lukisan bertekstur berbahan dasar semen. Lukisan-lukisan itu mengisahkan perjalanan Yesus, dari mulai “Yesus Jatuh Untuk Pertama Kali” hingga “Yesus Dimakamkan.” Menurut Bonari, karya-karya rupa ini menggambarkan sejarah Paskah, kisah sengsaranya Yesus.

Bagi Bonari sendiri, dan mayoritas masyarakat Klepu, hidup saling berdampingan antar umat beragama bukanlah hal yang aneh. Toleransi antar umat beragama di desa ini sudah berlangsung sedemikian lama. Sejak 1983, kerukunan masyarakat Klepu sudah terkenal secara nasional. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kenapa perbedaan agama dan toleransi terajut dengan baik. Menurut Bonari, hal itu disebabkan oleh adanya perbedaan agama dalam satu keluarga. Seumpama sang suami Islam, sang isteri adalah Katolik. Fenomena ini masih banyak dijumpai di Klepu. Lagi pula, “Katolik itu, kan, mirip NU, mas,” tambah pria berperawakan gagah ini.

Seperti yang saya duga, baik NU maupun Katolik, memang terkenal dengan sifat kontekstualnya. Dalam pendekatan kemasyarakatan, mereka sama-sama berprinsip di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Tradisi  Jawa—semisal ritual-ritual pernikahan, kelahiran dan kematian—adalah sebentuk kearifan lokal yang mampu mengatasi sekat-sekat perbedaan, baik perbedaan sosial maupun agama.

Taruhlah slametan atau genduren, tradisi-tradisi ini khas Jawa, bukan tradisi yang melulu milik Islam (NU) maupun Katolik. Tradisi-tradisi yang merupakan warisan leluhur ini selain memiliki fungsi sosial juga memiliki fungsi simbolik-spiritual. Ritual slametan beserta ubarampe-nya, secara simbolik mengandung pesan-pesan kemanusiaan yang sesungguhnya bersifat universal, di mana baik dalam sistem agama Islam maupun Katolik dapat menemukan titik kesepahamannya. Masing-masing seolah lebur dalam kultur dan kosa-kata kosa-kata Jawa tanpa perlu berpikir, adakah tradisi ini menyalahi agama yang dianutnya.

Selayaknya desa-desa pegunungan, kearifan-kearifan lokal di atas memang masih kuat mengakar. Dan justru kearifan semacam itulah yang membuat kohesi sosial di Desa Klepu terbangun dengan begitu kokohnya.

Desa Klepu sendiri terdiri dari 4 Dusun. Berdasarkan keterangan Bonari, sekitar separuh orang Klepu beragaman Katolik dan separuhnya lagi Islam. Selain Gereja Katolik Sakramen Mahakudus, Sendang Waluyajatiningsih dan Gua Maria Fatima, di desa ini juga saya jumpai adanya beberapa masjid. Dua di antaranya adalah Masjid berarsitektur Jawa yang tak lebih dari 1 km dari Gua Maria Fatima, Masjid al-Hidayah.

Gereja Sakramen Mahakudus Klepu

Tak berbeda dengan Bonari, Harwan, seorang muslim yang hidup di lingkungan NU, juga mengatakan bahwa selama ini tak pernah ada ketegangan ataupun gesekan antar umat beragama di Klepu. Ketika saya singgung tentang maraknya hoax atau pun isu-isu yang bernuansa sentimen SARA belakangan ini, desa Klepu luput dari perpecahan dan tetap kondusif serta terjaga kohesi sosialnya. “Kuncinya adalah komunikasi dan saling menghormati,” kata pria yang tinggal di samping masjid Jogorogo ini.

Biasanya, dewan gereja dan ta’mir masjid di Klepu saling bertemu dan berkoordinasi, tak pernah memutus komunikasi. Dan masing-masing komunitas beragama di Klepu juga tetap menjalankan aktifitas keagamaannya masing-masing. Seperti aktifitas ibu-ibu yang beragama Islam, mereka rutin mengadakan tahlilan dan Yasinan. “Ketika rapat PKK, masing-masing komunitas agama melebur,” jelas seorang perempuan berkerudung yang tinggal tak jauh dari Gua Maria Fatima.

Untuk kegiatan atau urusan-urusan desa, semisal rembug desa ataupun rembug RT, masyarakat Klepu berbicara sebagai warga desa Klepu, bukan sebagai orang Katolik atau orang Islam. Kesadaran sebagai warga desa inilah yang saya kira juga salah satu faktor kenapa toleransi antar umat beragama di Klepu tumbuh dengan sedemikian kuatnya. Tak usah jauh-jauh mengulik Rosaldo Rhenato soal cultural citizenship ataupun public reason-nya John Rawls, masyarakat Klepu telah mempraktikan kesadaran sebagai warga desa ini sejak lama.

Ketika di ruang sosial, masyarakat Klepu sudah sadar dengan sendirinya bahwa pertama-tama mereka adalah warga Desa Klepu, bukan warga Katolik maupun warga muslim. Kesadaran diri sebagai warga Desa Klepu seperti ini pada gilirannya akan mempertemukan mereka. Sehingga sikap-sikap reflektif akan kebersamaan tumbuh dengan sendirinya. “Gesekan itu untuk apa?” tanya Harwan seolah mewakili sikap reflektif mayoritas warga Klepu.

Saya pun terkadang takjub, bagaimana masyarakat Klepu sudah sedemikian majunya dalam soal toleransi yang secara kultural bersumber dari kearifan lokal dan secara sosial-politik tumbuh dari kesadaran tentang citizenship, padahal jarang atau bahkan tak pernah ada aktifis-aktifis lintas agama terjun ke desa Klepu untuk memberdayakan masyarakatnya?

Kearifan-kearifan lokal dan kesadaran sebagai warga desa Klepu tersebut pada akhirnya akan menempatkan manusia pertama-tama bukan sebagai sesama umat, namun sebagai sesama bangsa, sesama warga desa Klepu. Begitulah keberagaman dalam persatuan warga desa Klepu yang teranyam bahkan sampai sepekuburan.

Facebook Comments