Membangun Narasi Persaudaraan Dalam Perbedaan

Membangun Narasi Persaudaraan Dalam Perbedaan

- in Suara Kita
153
1
Membangun Narasi Persaudaraan Dalam Perbedaan

Politik tahun ini menjadi sesi paling berat dalam sejarah Indonesia. Ganasnya Hoax, hingga fitnah yang digunakan oleh kelompok tertentu telah memporak-porandakan keberagaman bangsa. Indonesia yang terkenal dengan toleransinya, kini seakan tinggal nama. Yang tersisa hanya hujat-menghujat bahkan saling mengintimidasi satu sama lain.

Masih lekat dalam ingatan kita, pada bulan Januri lalu dua kuburan di di Desa Toto Selatan, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo dibongkar karena beda pilihan calon legislatif. Kepada Desa Toto Selatan Taufik menjelaskan bahwa hal itu dilakukan karena beda pandangan pilihan calon legislatif (Kompas.com, 13/01/19).

Kejadian tersebut mengggambarkan kepada masyarakat bahwa beda pandangan politik menjadikan satu dengan yang lainnya musuh. Mereka patut disingkirkan, bahkan orang yang sudah dikebumikan sekalipun.

Bila hal ini terus dibiarkan, Indonesia akan hancur. Terlebih bangsa ini terdiri dari bermacam suku, agama dan ras. Jika masyarakat sudah tidak menerima perbedaan, bagaimana mereka bisa menghargai bahkan saling menyayangi sesama warga?

Bahaya Politik Identitas

Phobia akan perbedaan ini semakin meruncing dengan adanya politik Identitas menjelang Pemilihan Presiden 17 April 2019 mendatang. Di media-media bahkan di masjid, kampanye provokatif terus digaungkan. Mereka yang tidak memilih calon A akan di cap pendukung calon B, begitu pun sebaliknya. Bahkan, label yang digunakan oleh kedua pendukung merupakan nama hewan. Sehingga sangat wajar bila perilaku mereka jauh dari kata manusiawi.

Baca juga : Agama, Pancasila, dan Amanat Perdamaian

Mantan Ketua Mahkamah, Konstitusi Mahfud MD, menegaskan bahwa politik identitas tahun 2019 begitu mengancam persatuan bangsa. Dia menjeaskan bahwa negara dipaksa menjadi beberapa kelompok yang saling menyerang. Dan isu agama menjadi senjata paling ampuh untuk melancarkan hal itu. Hingga masyarakat Muslim sebagai mayoritas penduduk di Indonesia ikut terpecah belah (Tempo.co, 09/01/19).

Agnes Heller memberikan pengertian bahwa politik identitas sebagai konsep dan gerakan politik yang fokus perhatiannya adalah perbedaan (difference) sebagai suatu kategori politik yang utama (Abdilah S, 2002: 16). Sehingga tentu saja negara multikultural seperti Indonesia sangat mudah untuk dipengaruhi dengan hal itu.

Tidak heran bila Doktor Filsafat dari Univeritas Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München Jerman, Rizal Watimena, pernah menyinggung dalam salah satu artikelnya bahwa seluruh dunia saat ini sedang dirobek oleh politik identitas. Indonesia pun sama.

Rizal menggambarkan bahwa politik Identitas sangat berbahaya karena ia begitu tertutup dan sangat mementingkan kepentingan kelompok. Jika dibiarkan, hal ini akan menjadi konflik berkepanjangan, keluarga akan saling bermusuhan, teman akan saling menuduh, hanya karena perbedaan identitas primordial.  Sehingga perpepacahan bahkan kehancuran bisa saja terjadi.

Indonesia Dibangun Atas Keberagaman

Apa yang terjadi dewasa ini telah mengkhiatanti perjuangan para pendiri bangsa. Karena Indonesia merdeka bukan hanya peran dari satu orang atau satu kelompok saja. Semua agama, suku, dan ras, ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan itu. Hal itu bisa kita lihat dari pahlawan di Indonesia yang tidak hanya beragama Islam, ada Hindu, Katolik, bahkan Agama Penghayat (kepercayan Kuno). Dilansir dari Tirto.id (10/11/17), Dari 173 nama pahlawan nasional, sejumlah 134 orang adalah Islam, 22 beragama Kristen, 8 orang Katolik, 6 beragma Hindu, dan 3 lainnya kepercayaan nenek moyang.

Masyarakat keturunan Cina Pun ikut andil dalam kemerdekaan Indonesia. Bahkan dia dijuluki sebagai “Hantu Selat Malaka”, John Lie alias Daniel Dharma. Ketika perang John Lie berhasil menyelundupkan senjata untuk para pejuang bangsa dalam melawan kolonial. Pengalamannya yang pernah bekerja di maskapai pelayaran membuat ia bisa bergabung dengan ALRI sebagai kelas III. Hingga tepatnya pada tahun 1947, ia dipercya untuk mempimpin kapal cepat Out Law, dan dengan risalah tersebut ia berasil menyelundupkan senjata api untuk para pejuang tanah air.

Lalu, jika ada orang yang masih mempermasalahkan ras, suku, atau bahkan agama dalam kepentingan negara, tentunya dia meruapakan orang yang tidak paham sejarang bangsa. Atau bisa jadi dia bukanlah orang Indonesia.

Kita Semua Saudara

“Negara ini, Republik Indonesia, bukan milik kelompok manapun, juga agama, atau kelompok etnis manapun, atau kelompok dengan adat dan tradisi apa pun, tapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!” [Ir. Soekarno]

Pesan yang dikatakan Soekarno ini menjelaskan bahwa Indonesia bukanlah milik suatu kelompok, atau etnis tertentu. Indonesia rumah bersama, dan harus diperjuangkan oleh setiap warga yang hidup dari Sabrang sampai Merauke. Soekarno begitu memahami bahwa bangsa Indonesia dibangun dari masyarakat yang multikultrural, sehingga tolerasni dan rasa persaudaraan sesama masyarakat harus dijaga.

Soekarno pun tidak pernah pandangan bulu terhadap warga negaranya, entah itu orang Jawa atau bukan, ia tetap mendengarkan aspirasi rakyatnya. Dasar inilah yang sebaiknya dipelihara oleh masyarakat Indonesia. Di mana, mereka bisa memahami bahwa sesama warga negara adalah saudara. Tidak boleh saling menyakiti, atau bahkan saling membunuh satu sama lainnya.

Soekarno juga berpesan kepada masyarakatnya, “Itulah konsep nasionalisme yang didirikan Indonesia. Bukan orang Jawa, bukan orang Sumatera, bukan orang Kalimantan, Sulawesi, Bali atau lainnya, tapi orang Indonesia, yang bersama-sama menjadi fondasi satu kesatuan nasional.”

Mari, renungkan bersama. Sebagai Warga Negara Indonesia!

Facebook Comments