Mengimbangi Propaganda Radikalisme di Dunia Maya

Mengimbangi Propaganda Radikalisme di Dunia Maya

- in Suara Kita
615
0

Massifnya propaganda radikalisme di dunia maya terbukti telah menghasilkan benih-benih permusuhan di antara “kita”.Umat Islam yang mestinya menjadi pilar persatuan justru terpecah belah lantaran berbeda kepentingan. Dan, media maya adalah lahan paling ampuh untuk mensukseskan kampanye kekerasan yang dilakukan oleh kelompok radikalis.

Saat ini, media maya bukan lagi menjadi kebutuhan sekunder, apalagi tersier, bagi masyarakat Indonesia. Hampir setiap orang memiliki telepon genggam yang menyediakan aplikasi media sosial (medsos). Masyarakat kita dengan mudah dan murahnya menggunakan media ini. Hanya dengan modal pulsa sedikit dan waktu senggang, mereka dapat dengan mudah menikmati informasi dari orang lain dan ganti memberikan komentar ataupun menyebarkan (share).

Sayangnya, mayoritas masyakat kita bukanlah pencetak informasi positif yang mampumewarnaikeadaamenjadinyaman.Justru, denganmenggunakan media maya, mereka menjadi korban atas informasi negatif yang dicetak dan sebarkan oleh kelompok radikalis secara terorganisir dan massif. Di satu sisi, kelompok radikalis mem-frame berita-berita yang ada sehingga terkesan benar. Padahal, yang terjadi adalah, mereka memutar balikkan fakta dengan cara yang halus sehingga mudah menyedot kepercayaan publik. Sementara, masyarakat kita yang menerima informasi ini kurang memiliki filter, sehingga dengan cepatnya mempercayai informasi yang ada. Lebih lanjut, masyarakat kita men-share informasi yang ia terima kepada khalayak media maya. Alhasil, dengan memviralnya informasi ini, maka masyarakat pun dengan mudah dikendalikan oleh kelompok radikalis.

Bagi para akademisi ataupun kaum intelek, mestinya realitas yang terjadi saat ini mampu menggugah mereka untuk mempertanyakan kejadian yang sesungguhnya. Berita-berita yang ada di media maya, termasuk medsos, sekilas terkesan ada sekelompok orang orang akan memperjuangkan agama Allah. Namun, dalam kenyataannya, mereka justru membuat onar, merusak fasilitas publik, bahkan sampai menciderai sesama. Sementara, agama Allah merupakan jalan untuk menuju ketenteraman bersama, baik di dunia maupun di akhirat. Allah tidak pernah mengajak umat Islam untuk mencari “kesuksesan” akidah dengan mengorbankan orang lain. Justru yang diajarkan dalam agama adalah ukhuwah (persaudaraan).

Pun begitu, sampai saat ini masih banyak akademisi dan kaum intelektualis yang belum tersentuh pikirannya untuk mempertanyakan kejanggalan-kejanggalan di lapangan. Justru, mereka menjadi perpanjangan tangan dari kelompok radikalis. Mereka memberikan sumbangsih berupa pikiran, tenaga, bahkan dana dalam rangka menyukseskan kampanye anti perdamaian di dunia maya. Hanya saja, mereka tidak sadar bahwa apa yang dilakukan sebenarnya tidak bias dibenarkan dalam agama. Mereka menganggap bahwa agama yang dianutnya mengajarkan hal-hal sebagaimana yang ia lakukan. Sehingga, karena pedomannya adalah agama, larangan dari agama maupun social akan dengan mudah diterjang.

Kenyataan ini semakin memperkuat kampanye kekerasan kelompok radikalis di dunia maya. Sehingga, masyarakat kita pun akan dengan mudah terpikat kedalam gagasan-gagasan mereka. Alhasil, dalam waktu sekejap, virus-virus kebencian dan perpecahan antara pengguna media satu dengan yang lain pun sudah menjadi akut. Bukan saja mereka sulit disembuhkan namun juga sudah menyebarkan virus kepada orang lain.

Berangkat dari sinilah, propaganda radikalisme di dunia maya sudah saatnya diberantas bersama-sama. Caranya tidak sekadar menutup website atau memberhentikan akun medsos yang nyata-nyata terbukti menyebarkan virus kekerasan. Hal yang juga mesti dilakukan adalah menyatukan kekuatan antara pemerintah, agamawan, dan masyarakat luas untuk mengimbangi propaganda radikalisme di dunia maya dengan narasi yang bersifat ajakan untuk selalu mencintai kepada sesama.

Konten media maya yang saat ini sudah mayoritas bernada radikalisme harus diimbangi dengan konten positif. Medsos negative harus dinetralkan dengan konten positif. Cara ini harus dilakukan secara baik dan berkesinambungan. Jangan sampai konten yang ada kalah menarik dan kalah banyak dengan yang diciptakan kelompok radikalis. Dalam penyebarannya, jangan sampai medsos didominasi kelompok radikalis.

Selain itu, masyarakat kita juga mesti disadarkan bahwa agama dan negara Indonesia selamanya menjunjung tinggi persautan dan persaudaraan. Perpecahan yang bersifat negative tidak pernah di”legal”kan. Justru, kerukunan merupakan pilar menuju kesuksesan bersama. Perbedaan biarlah terus berlangsung namun tidak harus menjadi sumber perpecahan. Perbedaan yang ada mesti menjadi bahan pendewasaan dan sifat toleran.

Cara ini apabila dilakukan secara bersama-sama, insyaallah akan membuahkan hasil yang memuaskan. Hanya saja, siapkah kita melakukan. Karena, untuk melaksanakan membutuhkan kekompakan dan nafas yang panjang. Wallahua’lam.

Facebook Comments