Pandemi, Provokasi dan Kapitalisasi Ketakutan

Pandemi, Provokasi dan Kapitalisasi Ketakutan

- in Narasi
1214
0
Pandemi, Provokasi dan Kapitalisasi Ketakutan

Format pemberitaan mengenai wabah Corona di Indonesia menjadi masalah tersendiri selain dari virus Corona itu sendiri. Tidak sedikit informasi mengenai Corona disertai dengan provokasi, hoax, rumor, dan opini yang tak bisa dipertanggungjawabkan.

Mulai dari Corona adalah tentara Allah, Corona hanya seperti flu biasa, sampai viralnya berita di masyarakat tentang rumor telor penangkal Corona. Pemerintah sendiri sudah menyatakan bahwa ribuan hoax mengenai Corona dan masyarakat dihimbau agar tidak terprovokasi dan mudah menerima informasi begitu saja.

Ketakutan dan kecemasan yang diakibatkan oleh Corona merupakan sesuatu yang biasa. Demikian kata para psikolog. Akan tetapi, kita jangan sampai mengkapitalisasi ketakutan dan kecemasan publik itu sebagai bisnis, demi meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.

Mengkapitalisasi ketakutan sering kita dilakukan media dengan membuat judul yang provokatif, bombastis, clickbait, dan sensasional. Berita-berita model ini tak jarang menabrak batas-batas kemanusiaan. Tak ada rasa empati, peduli, dan solidaritas. Media tak obahnya robot yang siap mengkhabarkan apa saja tanpa mempertimbang apakah berita itu benar atau tidak.

Kapitalisasi pemberitaan tentang Covid-19 menjadi masalah tersendiri. Isu mengenai asal muasal Covid-19, metode penyembuhan, dan hal-hal yang irasional yang belum tentu kebenarannya melenggang mulus di media sosial kita saat ini. Simpang siur apakah informasi tersebut benar atau hanya hoaks terasa sulit untuk dibuktikan.

Baca Juga : Melawan Corona Sejak dalam Pikiran! #janganmudik

Masyarakat akhirnya terkecoh dengan rumor, hoaks, dan opini yang bukan dari ahlinya. Ada pernyataan selebriti langsung ekspos; ada pernyataan politisi langsung diberitakan; ada ceramah tokoh agama langsung diwartakan, padahal mereka belum tentu mempunyai kompetensi pengetahuan tentang Corona.

Profesionalisme dan kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik mulai hilang. Ini belum lagi situasi media sosial yang memprihatinkan. Di dalamnya hilang kepakaran. Semuanya mau ngomong dan berpendapat.

Selain kapitalisasi ketakutan, dunia virtual menyuguhkan ragam informasi mengenai Covid-19 dengan beraneka rasa. Mereka yang mendapatkan rasa legit akan memiliki semangat untuk terus berjuang melawan Covid-19 dengan cara yang diserukan oleh pemerintah. Mereka yang mendapatkan rasa getir akan menumbuhkan rasa menyerah, bahkan pada level tertentu akan memantik panik dan amarah.

Ketika seseorang sudah terjerembab dalam arus getir dalam sistem jaringan informasi baik, terutama di media sosial, mereka akan kesulitan mendapatkan informasi yang legit rasanya. Inilah yang disebut Eli Pariser sebagai Filter Bubble.

Filter Bubble menyediakan ruang berdasarkan hasrat manusia untuk mendapatkan informasi yang mereka inginkan. Hasrat itu dimanifestasikan dalam bentuk klik, like, comment, dan share dalam media sosial yang menjadi bahan baku terciptanya Filter Bubble.

Secara kebetulan dan mengejutkan, pengguna media sosial seolah-olah disuguhkan informasi dengan rasa yang mereka sukai. Misalnya saja si tukang pancing yang menyukai hobi memancing ikan, mereka akan mencari informasi melalui media sosial dengan klik, like, comment, dan share terkait bagaimana memancing yang benar, informasi tentang alat memancing, umpan apa yang digemari ikan, dan kapan waktu yang tepat untuk memancing.

Secara ajaib, algoritma sistem akan dengan mudah mengetahui hobi si tukang pancing dan secara cepat menghujaninya kembali informasi memancing dengan berbagai saluran media sosial. Hal ini pun terjadi dalam jaringan pemberitaan wabah Corona. Jika kita sering meng-klik, mengomentari, serta men-share berita hoax tentang Covid 19, maka berita yang sama akan muncul selalu di beranda medsos kita.

Dalam kondisi ini kita masuk dalam lingkaran kutukan sosial media. Hasil dari kapitalisasi pemberitaan itu menjadi ladang subur bagi oknum-oknum nakal untung meraup keuntungan di tengah musibah wabah Corona.

Di sinilah penting media social distancing. Selain menjaga jarak di dunia sosial, kita perlu menjaga jarak di dunia virtual. Kita harus keluar dari lingkaran hoax sebagai hasil dari filter bubble yang tak mengenal kerja-kerja kemanusiaan dan empati. Social media distancing adalah self control atau kontrol pribadi pengguna media sosial untuk berjarak dan mengurangi interaksi dengan infomasi negatif Covid-19. Melakukan puasa media adalah salah satu cara efektif dalam memilih dan memilah mengenai infomasi yang harus dikonsumsi.

Facebook Comments