Pemuda, Perdamaian, dan Indonesia Raya

Pemuda, Perdamaian, dan Indonesia Raya

- in Suara Kita
147
0

“Hai pemuda dan pemudi! Engkau pembina hari kemudian. Orang mengatakan bahwa engkau itu adalah pupuk hari kemudian. Jangan terima! Kita ini bukan sekedar pupuk. Kami lebih dari pupuk. Di dalam jiwa kami tumbuh pula masyarakat yang baru itu. Dan dalam jiwa kami tumbuh segala apa yang menjadi cita-cita bangsa kami” (Bung Karno, 1958)

Pernyataan Bung Karno ini sangat tepat dalam refleksi Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2017, sekaligus menggugah kaum muda agar selalu berani menjadi penggerak yang menumbuhkan generasi masa depan untuk merealisasikan cita-cita bangsa. Sebagaimana tegas dinyatakan dalam Pembukaan UUD 1945, cita-cita bangsa bangsa ini adalah: ”Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan Rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.” Cita-cita tentu saja menjadi tanggungjawab semua elemen bangsa, tetapi kaum muda harus berani di garda terdepan untuk mewujudkan cita-cita bangsa ini.

Selain itu, kaum muda juga harus menyatakan diri sebagai pelopor bagi perdamaian. Ini juga tegas dinyatakan dalam Pembukaan UUD 1945, “…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial …” Jelas sekali, kaum muda menjadi pelopor perdamaian sudah diamanatkan para pendiri bangsa. Jangan sampai mundur satu langkah pun menjadi pelopor perdamaian, karena itu sudah menjadi takdir sejarah yang harus dilakukan.

Bung Karno menjadi salah satu inspirasinya. Sejak muda, Bung Karno selalu bersentuhan dengan persoalan kebangsaan yang menyentuh hatinya untuk bergerak dan berjuang untuk masa depan bangsa. Sejak umur 14 tahun, ia sudah bertemu dengan HOS. Tjokroaminoto, guru politiknya sekaligus mertuanya. Sejak bersama dengan HOS. Tjokroaminoto, Soekarno sudah bertemu dengan Alimin, Musso, H. Agus Salim, dan Abdul Muis. Soekarno juga aktif dalam organisasi pemuda Tri Koro Darmo, bentukan Budi Utomo, yang kemudian berganti nama menjadi Jong Java.

Kemudian ketika berumur 19 tahun, ia tinggal di Bandung untuk studi tehnik sipil di Technische Hoge School (sekarang ITB).  Saat di Bandung, Soekarno bergerak intensitas gerakannya. Ia sudah akrab H. Sanusi, anggota Sarekat Islam (SI), Ki Hadjar Dewantara, Tjipto Mangunkusumo, dan Doewes Dekker, yang ketiganya saat itu menjadi pemimpin organisasi National Indische Partij. Ketika usianya mencapai 24 tahun, Soekarno menjadi aktivis politik yang selalu bergerak aktif menentang penjajah. Umur 25 tahun, ia mendirikan Alegeme Studie Club. Umur 26 tahun ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Kala menjadi Presiden RI pertama, ia berumur 44 tahun.

Kiprah Soekarno di masa muda menjadi ilham tersendiri bagi kaum muda sekarang ini untuk bergerak maju dalam menyongsong masa depan bangsa. Kaum muda di masa pergerakan nasional, dimana Soekarno termasuk di dalamnya, menjadi penggerak perjuangan dan memimpin perjuangan dengan segenap tumpah darahnya. Kaum muda tak gentar dengan penjajah yang memecah-belah persatuan. Tekad mereka teguhkan dan gerakan mereka satukan. Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Jenderal Soedirman, bukanlah sosok menua pada jamannya. Mereka adalah kaum muda energik yang teguh berani menegakkan kebangsaan Indonesia.

Krisis Sosial

Energi pergerakan kaum muda sebagaimana ditorehkan Bung Karno dan generasi pada jamannya sekarang ini sedang mengalami kemacetan. Kaum muda tersingkir dalam barisan pergerakan kebangsaan. Beberapa survei belakangan ini memperlihatkan bahwa kaum muda makin miskin nasionalisme, tersungkur dalam barisan teroris, dan jauh dari spirit NKRI.

Menurut Ismed Hasan Putro (2012), ada dua faktor yang menyebabkan kaum muda menjauh dari kepemimpinan bangsa. Pertama, sebagian pemimpin muda yang potensial enggan masuk politik praktis karena khawatir terjebak dalam politik transaksional yang korup. Kedua, banyak pemimpin muda yang gagal berkembang karena terjebak perilaku korup, sehingga sulit menjadi negarawan.

Macetnya regenerasi kepemimpinan, setidaknya, bisa ditilik dari suksesi kepemimpian di berbagai daerah yang belum menjanjikan harapan lebih baik di masa depan. Justru, suksesi seringkali menghadirkan konflik horisontal baru yang semakin memperkeruh krisis kebangsaan yang masih menumpuk.

Menggugah Kaum Muda

Kini, momentum sumpah pemuda harus dijadikan sebagai ruang pergerakan dalam menggugah kesadaran kaum muda untuk membagun masa depan bangsa. Terlepas dari kontroversi yang menyelimuti pribadi Bung Karno, etos negarawan begitu tercermin dalam dirinya. Terbukti, ketika ia memimpin, gerak kemandirian begitu kuat terpatri dalam benak bangsa. Pidato-pidatonya bukan saja menggugah semangat bangsanya, tetapi juga membuat nyali dunia internasional semakin ciut kala berhadapan dengannya. Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955 membuktikan Soekarno sangat dihormati di dunia internasional. Ketika pidato dalam sidang PBB, Soekarno memperlihatkan kualitas bangsa Indonesia yang tak kalah dengan negara maju pada jaman itu.

Jalan kepemimpian yang ditasbihkan oleh Bung Karno dan para founding fathres telah menitahkan mereka sebagai manusia yang, dalam istilah Gede Prama, mendapatkan berkah agung: ”memandang perbedaan sebagai keindahan, melindungi diri dengan perisai kesabaran, kekayaannya adalah rasa kecukupan, hidupnya diterangi matahari kesabaran, dan kalau terpaksa mengeluarkan pedang, ia mengeluarkan pedang kebijaksanaan”.

Para pemimpin besar adalah mereka yang secara total lebur ke dalam dinamika masyarakatnya. Totalitas ini menuntunnya merumuskan secara tepat apa yang dibutuhkan bangsanya. Itu pun harus diwujudkan ke dalam satunya kata dengan perbuatan. Mahatma Gandhi menjadi pemimpin besar India walau dia tidak pernah menduduki jabatan apa pun di jajaran pemerintahan. Dia merumuskan nilai-nilai kemasyarakatan bangsa India sambil menyelaraskan penampilan dengan filosofi ajaran-ajaran itu. Pakaiannya hanya dua helai kain, kakinya bersandal jepit. Demikian pula Ho Chi Minh untuk Vietnam yang bersepatu sandal dari ban bekas. Bila pergi keluar negeri, dia naik pesawat komersial kelas ekonomi.

Dari sinilah kaum muda harus diajak bangkit. Kaum muda harus diajak berguru kembali, sehingga menemukan etos dirinya dalam merealisasikan cita-cita bangsa di masa depan.

Facebook Comments