Puasa: Memupuk Solidaritas di Dunia Maya

Puasa: Memupuk Solidaritas di Dunia Maya

- in Editorial
3712
1
Puasa: Memupuk Solidaritas di Dunia Maya

Ramadhan adalah bulan istimewa, tempat seluruh umat Islam berlomba-lomba meraih rahmat, ampunan dan keberkahan. Ramadhan juga istimewa karena sebagai bulan umat Islam menempa diri untuk menjadi insan yang bertakwa dan layak menyandang titel kembali ke fitri (idul fitri). Tempaan dan latihan umat Islam dalam bulan ini dijalani melalui berbagai amalan puasa seperti menahan lapar dan haus, shalat tarawih, tadarus, zakat fitrah dan ibadah lainnya.

Salah satu tempaan di bulan ini adaah umat islam belajar menahan diri sebagaimana arti shiyam yang berarti menahan. Menahan tidak hanya dari lapar dan haus tetapi menahan ego, amarah, dan tindakan yang dapat menuju keburukan. Hikmah lain dari puasa adalah melatih umat Islam agar mampu merasakan penderitaan orang lain. Merasakan apa yang orang lain rasakan merupakan tempaan agar umat Islam memiliki empati. Dan sikap empati akan melahirkan sikap solidaritas terhadap sesamanya.

Setiap orang yang berpuasa akan melatih dirinya untuk membangun solidaritas dalam kehidupan sehari-hari baik dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa. Sikap solidaritas ini juga penting disemai tidak hanya di lingkungan sosial nyata tetapi juga di dunia maya (cyber solidarity). Solidaritas di ruang maya menjadi penting digalakkan dengan semakin renggangnya interaksi sosial di dunia maya yang diwarnai dengan solidaritas dan kebersamaan.

Puasa mempunyai dua dimensi, yakni dimensi transendental (hablum min allah) dan dimensi sosial (hablum min al-nas). Dalam menjaga hubungan dengan manusia ini penting untuk ditanamkan tidak hanya di lingkungan sosial sehari-hari, tetapi di ruang maya yang tak terbatas. Semangat puasa harus mendorong orang tidak hanya menjaga kerukunan dan bekerjasama dalam kebaikan di ruang sosial tetapi juga di ruang maya. Semangat puasa tidak hanya mendidik perkataan dan tindakan baik di lingkungan masyarakat tetapi sesama nitizen.

Hiruk-pikuk persoalan sosial hari ini banyak digerakkan dengan gelombang aktifitas di ruang maya. Artinya, pergaulan di dunia maya menyumbang pengaruh penting dalam ruang sosial yang nyata. Banyak kejadian di lingkungan sosial seperti konflik, kekerasan, dan percekcokan yang dimulai dari gesekan dan provokasi di dunia maya. Di ruang maya memang tidak ada kontak fisik, tetapi kekerasan verbal kerap terjadi dalam bentuk fitnah, hasutan, provokasi dan ajakan kekerasan.

Beredarnya berbagai konten negatif yang berpotensi memecah belah persaudaaan membuat berbagai kalangan kewalahan untuk mengatasinya. Negara-negara termasuk Indonesia banyak mengandalkan pendekatan penegakan hukum melalui berbagai regulasi untuk mengatasi penyebaran konten tersebut. Namun, tentu saja pendekatan struktural itu tidak cukup efektif karena penyebaran konten dimulai dari kesadaran individual untuk menjaga lingkungan media sosial.

Dalam hal ini masyarakat tidak hanya butuh landasan peraturan formal, tetapi keyakinan kultural tentang pentingnya menjaga lingkungan media sosial. Agama adalah landasan penting dalam mempengaruhi perilaku manusia. Dalam konteks inilah, puasa dalam ranah media sosial harus menjadi semangat bagi umat Islam untuk dua hal.

Pertama, puasa memberikan semangat bagi umat Islam untuk menahan diri untuk menyebarkan konten negatif di dunia maya. Puasa tidak sekedar menahan haus dan lapar atau menjaga diri dari perkataan yang tidak baik di lingkungan nyata, terpenting hari ini puasa mampu mengendalikan umat agar mampu mengontrol diri di dunia maya.

Kedua, puasa memupuk rasa solidaritas dan persaudaraan di duni maya. Puasa harus mendorong umat Islam untuk memiliki semangat persaudaraan baik persaudaraan keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan di dunia maya.

Facebook Comments