Ramadan: Mengendalikan Emosi, Membangun Rekonsiliasi

Ramadan: Mengendalikan Emosi, Membangun Rekonsiliasi

- in Editorial
777
0
Ramadan: Mengendalikan Emosi, Membangun Rekonsiliasi

Marhaban ya Ramadan. Demikian ungkapan dari jutaan umat Islam di seluruh dunia menyambut tamu agung, Ramadan, dengan penuh gembira dan suka cita. Ungkapan ini menilik dari arti marhaban, menurut Quraish Shibab, merupakan luapan kata yang mengandung arti penyambutan dengan lapang dada, penuh kegembiraan, kerelaan dan penuh ketenangan dan kenyamanan.

Kenapa umat Islam sangat bergembira dengan hadirnya bulan suci ini? Selain bulan suci yang penuh dengan luapan rahmat, ampunan, berkah dan pahala berlipat ganda, Ramadan menjadi ruang suci bagi umat Islam untuk menyucikan diri. Selama sebulan, Ramadan memberikan kesempatan besar bagi umat Islam untuk melakukan berbagai ibadah, menahan diri dari perbuatan jelek dan mendorong aktifitas yang bermanfaat.

Artinya, Ramadan memang disiapkan oleh Tuhan terhadap umat Islam sebagai ruang untuk mengevaluasi diri, melatih diri dan mendekatkan diri kepadaNYa. Ramadan adalah wahana tempaan umat Islam melalui latihan menahan lapar dan haus yang merefelksikan latihan yang sesungguhnya, yakni menahan nafsu. Nafsu merupakan dinding tebal yang menghalangi kedekatan manusia dengan Tuhan. Dengan mengalahkan nafsu, umat Islam membongkar dinding pemisah antara dirinya dengan Tuhan.

Karena itulah, Ramadan bagi umat Islam harus dimaknai sebagai bulan mengendalikan dan mengolah emosi. Umat Islam tidak boleh kalah dan tunduk dengan emosi negatif yang dapat mengganggu hubungan spiritualnya dengan Tuhan dan hubungannya sosialnya dengan masyarakat.

Baca juga : Puasa Mengakrabkan Pergaulan Siber

Makna esensial Ramadan adalah mengajarkan dan melatih umat Islam mengendalikan nafsu dan emosinya. Dengan pengertian ini sesungguhnya Ramadan merupakan ibadah spiritual yang mempunyai dampak sosial yang besar. Menahan lapar dan haus mengajarkan empati dan simpati, shalat tawarih berjama’ah mengajarkan kerekatan sosial, menunaikan zakat fitrah mengajarkan solidaritas sosial, dan kembali fitri di hari raya Idul Fitri mengajarkan saling memaafkan.

Dengan hamparan hikmah sosial tersebut, Umat Islam di Indonesia harus mampu membumikan makna puasa tidak sekedar memupuk kesalehan spiritual-individual, tetapi juga menanamkan kepekaan dan empati sosial. Puasa harus mempunyai nilai lebih dalam sikap umat Islam untuk menyelesaikan persoalan kebangsaan. Lalu, apa makna yang perlu dikontekstualisasikan dalam kondisi bangsa saat ini.

Bangsa ini baru saja melewati proses panjang dari kontestasi politik melalui Pemilu 2019. Sebagai sebuah kontestasi, pesta demokrasi ini telah mempertemukan banyak kontestan yang bertanding. Pemihakan, pembelaan dan dukungan merupakan pilihan yang niscaya diambil oleh masyarakat. Berbeda pilihan tentu saja wajar, asal tidak jatuh pada kebencian dan perpecahan yang berlarut-larut.

Proses dan hasil pesta demokrasi harus disikapi secara dewasa oleh semua pihak sebagai ruang kontestasi politik untuk memperbaiki negeri. Karena itulah, pasca kontestasi sudah tidak perlu lagi mengumbar emosi. Tidak perlu saling memaki, membenci atau pun saling mengadili. Bangsa ini harus bangkit melalui titian rekonsialisasi.

Dalam momentum memasuki Ramadan, umat Islam dan masyarakat harus memaknai bulan suci ini sebagai kesempatan membangun rekonsiliasi (islah) dan menahan emosi yang tidak produktif. Indonesia harus bangkit dan keluar dari kebiasaan saling membenci, saling mencaci, dan saling mencurigai sebagai dampak negatif dari kontestasi dalam demokrasi.

Makna esensial puasa adalah menahan diri dan melatih kesabaran. Puasa berarti menahan amarah, menahan lisan dari perkataan jelek, melatih hati untuk tidak selalu memupuk curiga, benci dan dengki yang dapat merusak tatanan bermasyarakat dan berbangsa.

Dari Sahabat Abu Hurairah Nabi Saw bersabda: Apabila salah seorang dari kalian dalam keadaan berpuasa pada suatu hari, maka janganlah ia berbuat keji dan jangan pula berbuat hal yang sia-sia. Lalu apabila ada yang mencelanya atau menantangnya, maka hendaklah ia mengatakan, “sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR Muslim).

Puasa, dengan demikian, merupakan benteng diri dari berbagai pikiran, perkataan dan perbuatan keji. Indonesia harus berpuasa dari mengumbar emosi, amarah, perilaku dan perkataan keji yang dapat menyakiti. Indonesia juga harus berpuasa dari menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi. Mari jadikan momentum Ramadan untuk merajut rekonsiliasi (islah) untuk persatuan negeri.

Facebook Comments