Agama dan Kekerasan: Charless Kimball vs ISIS

Agama dan Kekerasan: Charless Kimball vs ISIS

- in Keagamaan
3843
0

 Nurani publik kembali terhentak oleh kasus bom bunuh diri dan serangan brutal yang menewaskan tidak kurang dari 130 orang di Paris, Perancis. Dalam sebuah laporan media, ISIS menyatakan bertanggungjawab atas penyerangan di kota cinta tersebut. Sebagaimana diketahui, beberapa tahun terakhir ini ISIS telah menjadi fenomena global yang mengerikan. Kelompok yang mengatasnamakan Negara Islam Iraq dan Suriah ini seringkali menampakkan kekejamannya melalui penyerangan, penculikan dan pembunuhan sadis terhadap kelompok-kelompok yang mereka anggap sebagai musuh. Pertanyaannya, mungkinkah agama dapat menjadi energy untuk terorisme yang mengancam manusia?

 Memahami Agama dan Kekerasan

Charles Kimball menulis buku “When Religion Become Evil” (2003). Dalam buku tersebut, Kimball sedikitnya menyebutkan lima fenomena agama yang dikategorikan berpotensi menjadi jahat (evil), yakni; (1) mengajarkan truth claim atau klaim yang meyakini bahwa hanya kelompoknya/agamanya saja yang memegang kebenaran mutlak (2) mengikuti seruan pemimpin agama tanpa reserve (sikap kritis), atau yang sering disebut sebagai taklid buta (3) menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya (4) mengidealkan masa lalu untuk dikembalikan ke zaman ini (5) terus menerus menyerukan perang suci baik dalam pengertian “holy war” maupun dalam “jihad“ yang dipahami sangat sempit.

Jika dicermati dengan seksama, kelima fenomena di atas melekat erat pada kelompok ISIS yang membabibuta itu. Selain mengklaim sebagai Islam sejati yang mereka ekpresikan melalui serangkaian penyerangan dan pembunuhan kepada siapa saja yang tidak mengikuti mereka –meskipun sesama Islam apalagi non-muslim–, ISIS juga mengklaim sebagai kelompok yang menghadirkan kembali bentuk negara khilafah sebagaimana yang pernah ada pada abad 8 hingga awal-awal abad 20 M. Selain itu, mereka juga menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan serta tanpa intrupsi terhadap pimpinannya, dan yang terpenting mereka juga mendeklarasikan “jihad” melalui tindakan terorisme yang mereka lakukan. Dengan merujuk pada kriteria ala Kimball dan bukti adanya kriteria tersebut pada kelompok ISIS, maka terlihat jelas bahwa kelompok pimpinan Abu Bakar al Baghdadi itu adalah evil.

Persoalan berikutnya adalah bagaimana menganalisis kaitan antara agama dengan tindak terorisme? Dalam studi agama, khususnya terkait dengan kekerasan dan konflik, terdapat setidaknya tiga kategori respon yang ditunjukkan oleh peneliti dan pengamat agama bila dikaitkan dengan agama dan kekerasan. Pertama, kelompok substansialis. Kelompok ini berpendapat bahwa agama itu memang menjadi sumber atau akar kekerasan. Menurut pendapat ini memang agama melalui kitab sucinya memiliki ajaran untuk memusuhi atau bahkan memerangi kelompok lain yang mereka kategorikan sebagai kafir/musuh. Kedua, kelompok instrumentalisme, menurut mereka agama bukanlah sumber konflik dan kekerasan. Mereka yakin bahwa agama hanyalah alat atau instrument dalam kekerasan berbasis agama. Ketiga, konstruktivisme, mereka percaya bahwa agama bukan sumber kekerasan, meski agama juga tidak pernah sepenuhnya absen ketiga terjadi konflik bahkan kekerasan atas nama agama (Varsne, 2003).

Kelompok terakhir mengamati bahwa agama yang mendasarkan diri pada sumber wahyu atau teks keagamaan yang dianggap suci memang memiliki ciri khas ambigu. Di satu pihak agama menyiarakan kedamaian, keadilan, solidaritas dan kemanusiaan sejati, namun pada saat yang bersamaan juga ditemui teks-teks keagamaan, termasuk wahyu, yang dapat dikategorikan mengandung enigma kekerasan dan kebencian atas nama yang lainnya, atau yang mereka kategorikan sebagai “goyim” atau kafir, dan istilah lainnya.

Tidak bisa dipungkiri, agama-agama telah memainkan peran dalam membangun peradaban manusia, agama juga menjadi sumber moralitas bagi manusia serta menjadi alat pemersatu dan bahasa solidaritas bersama ketika manusia tidak berdaya menghadapai fenomena keganasan alam. Namun pada saat bersamaan, agama juga menjadi alat yang paling efektif untuk memobilisasi masa dalam melakukan tindakan kekerasan terhadap kelompok yang diketgorikan sebagai musuh. Agama akan sangat efektif digunakan untuk menyerang orang lain jika ada aktor yang dengan fasih mengutip ayat-ayat kitab suci yang sifatnya ambigu tersebut. Saat ini kita tengah menyaksikan sebuah fenomena keagamaan yang menunjukkan seakan semakin shaleh seseorang maka semakin ia anti terhadap sosial kemanusiaan.

Memperkuat energi positif agama

Jika teori konstruktivisme tersebut dilihat sebagai teori yang seimbang dalam melihat hubungan antara agama, konflik dan kekerasan, maka sebenarnya kehadiran agama perlu direkayasa sedemikian rupa sehingga kehadiran agama mampu menjadi modal sosial dalam membangun perdamaian bagi seluruh umat manusia di dunia ini. Hal ini berangkat dari kesadaran bahwa menjadikan agama sebagai modal sosial bukanlah sesuatu yang sudah given atau terberikan, melainkan harus terus diupayakan dan direkayasa.

Salah satu bentuk rekayasa itu adalah pendidikan karakter dengan membentuk prilaku dan karakter masyarakat, yakni dengan menanamkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dipraktikkan atau dalam bentuk moral yang dibatinkan untuk mengatur prilaku sehari-hari. Energi positif agama harus ditularkan secara massif dari generasi ke generasi, jika tidak maka pengaruh negative agama yang diajarkan secara indoktrinasi akan mendominasi.

Facebook Comments