“Agama” Pancasila

“Agama” Pancasila

- in Narasi
233
1
“Agama” Pancasila

Pasca kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan, hal yang paling penting dalam menjaga keutuhan bangsa adalah sejauh mana kesetiaan anak-anak bangsa dan para elitnya terhadap budaya, keragaman, dan kesamaan yang telah menjadi warisan luhur. Jika ditelusuri secara mendalam, budaya dan tradisi sarat akan pesan-pesan luhur berbagai agama yang kemudian membadan melalui Pancasila.

Para bapak bangsa pun meyakini bahwa Indonesia harus dibangun tidak hanya di atas satu agama saja, dan dengan pemahaman agama dan spiritual yang mendalam mereka mengedepankan agama tidak hanya sekadar kemasan namun masuk ke dalam esensi syari’ah yang terkandung dalam Pancasila.

Esensi syari’ah tersebut tercermin dalam Pancasila sebagaimana pengakuan ketuhanan yang monoteistik seperti tertuang dalam sila pertama; penghargaan pada nilai-nilai kemanusian dalam kerangka keadilan dan peradaban (sila kedua); penolakan terhadap separatism dan mendahulukan kebersamaan atau jamaah (sila ketiga); kepepimpinan yang bijaksana (hikmah) dengan sistem musyawarah dan perwakilan (sila keempat); jaminan kesejahteraan rakyat, keadilan dan perlindungan untuk semua tanpa terkecuali  dalam sila kelima (Wahid, 2009).

Ekspansi gerakan Islam tarnsnasional yang terafiliasi dengan Wahabi secara terstruktur masuk ke dalam badan-badan organisasi Islam terbesar di Indonesia seperi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Salah satunya adalah pertikaian yang terjadi antara Muhammadiyah dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada 2006. Kala itu Muhammadiyah mengeluarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat (SKPP) Muhammadiyah Nomor: 149/Kep/I.0/B/2006.

Salah satu yang tertunag dalam sukar keputusan tersebut adalah menyelamatkan Muhammadiyah dari infiltrasi dari organisasi lain yang memiliki paham, misi, dan kepentingan yang berbeda dengan Muhammadiyah. SKPP tersebut menyebut PKS sebagai parpol yang telah memanfaatkan Muhammadiyah untuk meraih kekuasaan politik dan Muhammadiyah menyerukan kepada para anggota dan pimpinan agar membesakan diri dari PKS.

Dalam buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia (2009), Ketua Umum Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Muzadi menyebut bahwa masjid-masjid yang dibangun dan dikelola oleh warga NU beserta takmir dan tradisi ritual peribadatannya telah diambil alih oleh kelompok Islam eksrim. Salah satu aksi dari kelompok Islam kestrim adalah dengan membid’ahkan bahkan mengkafirkan warga NU. Kelompok itu menurut KH. Hasyim Muzadi adalah para pengusung wacana Khilafah Islamiyah seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). KH. Hasyim Muzadi bahkan dengan tegas menginstruksikan seluruh pengurus NU seluruh Indonesia untuk menjaga masjid agar tidak disusupi kelompok garis keras. “Meraka adalah kelompok yang ingin mendirikan negara Islam,” tegas KH. Hasyim Muzadi.

Tak terkecuali pihak-pihak yang terafiliasi secara langsung dengan kelompok terorisme transnasional seperti Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Jamaah Ansharut Khilafah (JAK), Jamaah Ansharusy Syariah (JAS), Negara Islam Indonesia (NII), Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang masih aktif di Indonesia secara terang-terangan melakuka aksi terror demi memecah belang bangsa dan ideologi Pancasila.

Sumber ideologi yang mendominasi pengalaman teror di Indonesia adalah mempertentangan antara agama dengan negara dan antara ideologi Pancasila dengan ideologisasi agama. Narasi anti Pancasila, demokrasi dan nasionalisme menjadi salah satu doktrin yang mudah meradikalisasi dan merekrut generasi muda. Sedangkan untuk mengembalikan paham nasionalisme dan setia pada NKRI tidak mudah dan membutuhkan waktu panjang.

Abu Bakar Ba’asyir (ABB) pentolan terorisme di Indonesia yang terlibat dalam aksi Bom Bali I hingga pelatihan militer teroris di Aceh bahkan tetap menentang Pancasila meski telah menjalani hukuman penjara. Ia sempat menolak keringanan hukuman yang diberikan oleh Presiden hanya karena tidak bersedia bersumpah kembali dan mencintai NKRI. Namun setelah melalui pendekatan deradikalisasi yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan berbagai pihak, ABB kembali mengakui Pancasila dan NKRI.

Menurut ABB, Pancasila sudah berlandaskan tauhid atau Ketuhanan yang Maha Esa. Dalam sebuah video ABB yang menyatakan menerima Pancasila ia mengatakan bahwa tak mungkin ulama menerima Pancasila jika ada kesyirikan di dalamnya. Kembalinya ABB pada pemahaman Pancasila yang sejalan dengan agama bukanlah hal yang mudah, dengan begitu kita mesti menjaga dan menjadi benteng terdepan mencegah siapa saja terjerat dalam pemahaman anti NKRI dan Pancasila.

Pancasila sebagai keyakinan bersama sebagai benteng NKRI perlu dijaga dengan ketat dari kelompok radikal dan intoleransi. Agama dan Pancasila harus seiring sejalan dalam membangun akhlak anak bangsa yang nasionalis dan memiliki kesadaran bersama untuk menjaga dan membangun Indonesia jaya dihari ini dan dimasa depan.

Facebook Comments