Berpuasa dari Kebencian

Berpuasa dari Kebencian

- in Suara Kita
188
2
Berpuasa dari Kebencian

Sekalipun sepanjang hari umat Islam melaksanakan ibadah puasa, namun penyebaran ujaran kebencian dan hoaks tampaknya belum ada tanda segera surut. Puasa dilaksanakan, penyebaran hoaks dan ujaran kebencian pun dijalankan. Keduanya tampak seakan tak bertentangan.

Semburan hoaks dan ujaran kebencian ini diduga oleh sebagian orang terjadi karena tiga hal. Pertama, masifnya media sosial sehingga para konsumennya tidak memiliki keleluasan waktu untuk menyaring informasi yang diterimanya. Hoaks dan ujaran kebencian ibarat bola liar yang bisa menyapa dan meresap ke setiap penerimanya.

Kedua, peristiwa politik yang terjadi terutama karena pemilu diyakini menjadi faktor pembentuk hoaks dan ujaran kebencian yang diduga dilakukan secara sengaja untuk kepentingan politik. Ia diyakini akan surut dengan sendiri seiring selesainya pergelaran pesta demokrasi tersebut.

Ketiga, lemahnya literasi rakyat Indonesia yang menjadikan ia berada dalam lumpur informasi, sehingga miskin kemampuan dalam memilih dan memilahnya. Dengan asumsi peningkatan literasi, maka secara perlahan hoaks dan ujaran kebencian akan reda dengan sendirinya.

Ketiga asumsi di atas benar satu sisi, namun melupakan faktor utama terjadinya hoaks dan ujaran kebencian. Benar bahwa dengan adanya media sosial, hoaks dan ujaran kebencian akan bergerak secara massif. Produsennya pun bisa dengan mudah tercipta dan diciptakan.

Baca juga : Ramadan dan Pendidikan Jihad Melawan Kebencian

Begitu pula dengan peristiwa politik, ia hanya menjadi momentum untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hoaks dan ujaran kebencian. Benar pula bahwa rendahnya literasi juga menjadi kontributor terjadinya hoaks dan ujaran kebencian. Namun perlu diingat, bahwa tidak sedikit kalangan terdidik yang menjadi korban dan bahkan pelaku dari penyebaran dan ujaran kebencian.

Mensucikan Hati

Faktor utama terjadinya hoaks dan ujaran kebencian, menurut saya, karena kotornya hati seseorang. Peristiwa politik, masifnya media sosial dan lemahnya literasi tidak akan berujung pada produksi dan penyebaran ujaran kebencian jika hatinya bersih, penuh prasangka baik, selalu bersyukur. Sebaliknya, orang-orang yang berhati kotor selalu melihat segala sesuatu penuh dengan kebencian, buruk sangka.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad S.A.W yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim, Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula jasad tersebut, dan sebaliknya apabila ia buruk maka jasad itu akan menjadi buruk pula. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah kalbu (hati).

Hati yang kotor selalu dapat melihat kesalahan dan kelemahan orang lain dan terbuta dari kesalahan dan aib dirinya. Dampaknya, ia merasa lebih baik, lebih suci sembari menuding orang lain penuh dengan kekotoran dan dosa. Yang keluar dari hati dan lisan adalah ungkapan-ungkapan penuh kebencian, yang pada hari ini terfasilitasi oleh media sosial.

Padahal, nabi sendiri pernah berujar, sebagaimana yang dituturkan oleh Imam Ahmad, bahwa “tidak akan lurus iman seorang hamba hingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya, sehingga lurus lisannya. Dan seseorang tidak akan masuk surga apabila tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan lisannya.”

Hadist di atas memberikan ketegasan perihal pentingnya mensucikan hati karena hal itu merupakan syarat lurusnya iman. Bahkan, Nabi sendiri mengaitkan kesucian hati seseorang dengan rasa aman tetangga. Ini artinya, kesucian hati bukan perkara yang ghaib, tetapi dapat termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari.

Puasa Sebagai Momentum

Nah, melalui ibadah puasa inilah, kiranya umat Islam dapat melatih diri untuk mensucikan diri. Karena itulah, pada bulan Ramadhan ini disarankan untuk memperbanyak ibadah, bacaan Qur’an, taraweh, dan beragam sholat sunnah lainnya harus segera dibarengi dengan kesalehan sosial. Ini persis seperti rangkaian puasa Ramadhan yang dilakukan selama sebulan yang diakhiri dengan pemberian zakat sebagai cara untuk mensucikan diri dan harta.

Dengan berpantang tidak makan-minum dan berhubungan seks selama menjalankan puasa diharapan dapat melatih mata batin seseorang sehingga dapat melihat segala sesuatu dengan mata yang jernih, prasangka baik, dan penuh syukur. Karena, kata nabi, tak bisa disebut berpuasa sekalipun tidak makan dan minum jika serangkaian dosa yang mengotori hatinya tak segera dihentikan.

Latihan pengendalian nafsu selama berpuasa tentu bukan semata-mata nafsu biologis berupa makan-minum-seks, melainkan juga nafsu-nafsu yang mengajak kepada kejahatan (QS. Yusuf: 53) yang akan menjadi penghalang seseorang untuk diterima Allah S.W.T.

Semoga amal ibadah yang dilaksanakan sepanjang bulan suci Ramadhan ini tidak sekedar menjadi rutinitas belaka, melainkan menjadi instrument untuk mensucikan hati, sehingga ia berdampak pada kehidupan kita sebagai bangsa dan negara.

Facebook Comments