Mo Salah, Ramadan, dan Pendekatan Kultural Melawan Islamofobia

Mo Salah, Ramadan, dan Pendekatan Kultural Melawan Islamofobia

- in Tokoh
71
0
Mo Salah, Ramadan, dan Pendekatan Kultural Melawan Islamofobia

Fenomena Islamofobia kini tidak hanya subur di Barat, bakun juga merambah ke kawasan Asia. Termutakhir, pemerintah India dibawah Presiden Narenda Modi, seorang Hindu ultra-konservatif mengeluarkan aturan yang diskriminatif terhadap warga muslim.

Islamofobia menemukan momentumnya pada tragedi teror 11 September 2011. Sejak saat itu, sentimen kebencian terhadap ajaran dan simbol Islam kian menguat. Hal itu diperparah dengan pemberitaan media massa Barat yang cenderung bias dan menyudutkan Islam. Di Barat dan belahan bumi lainnya, Islamofobia telah menjadi semacam industri. Isu ini dimanfaatkan oleh media massa hingga politisi untuk tujuan pragmatistik.

Alhasil, gejala Islamofobia muncul di nyaris semua ranah kehidupan sosial masyarakat dunia. Mulai dari industri budaya populer (film, musik, dan sejenisnya), politik praktis, hingga sepakbola. Di ranah sepakbola, fenomena Islamofobia ini menyasar sejumlah pemain keturunan muslim atau Arab yang bermain di klub-klub Eropa.

Namun, di saat yang sama, sejumlah pemain muslim atau keturunan Arab justru bisa menjadi semacam duta dunia Islam untuk melawan fenomena Islamofobia. Salah satunya adalah Mo Salah. Ia merupakan pemain muslim asal Mesir yang berkarir di klub Liverpool.

Sebagai pemain berlatar identitas minoritas, Salah kerap mengalami perlakuan diskriminatif, bahkan rasisme. Namun, melalui prestasinya, ia mampu mematahkan sentimen kebencian dan membuktikan bahwa Islam adalah agama perdamaian, bukan agama kekerasan.

Salah merupakan sosok pemain yang menjadi representasi Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Ia jarang menunjukkan permainan kasar di dalam lapangan. Di luar lapangan ia juga dikenal ramah pada fans maupun media masa.

Mo Salah dan Menurujnnya Islamofobia di Eropa

Penelitian dari Stanford University menemukan fakta bahwa banyaknya pemain muslim atau keturunan Arab di klun sepakbola Eropa, serta masuknya sejumlah nama penguasaan Arab-muslik sebagai investor bahkan pemilik klub, telah menurunkan angka kejahatan rasial dan Islamofobia di sejumlah negara di Eropa, terutama Inggris, Perancis, Jerman, dan Italia.

Mengapa bisa demikian? Penelitian itu mengungkapkan adanya sejumlah faktor. Antara lain, pertama bergabungnya pemain muslim-Arab di klub sepakbola Eropa mematahkan stereotipe bahwa Islam adalah agama primitif dan tidak cocok dengan peradaban Barat. Apalagi ketika sejumlah pemain muslim menunjukkan performa yang cenderung istimewa, simpati publik Barat pun mengalir pada Islam.

Kedua, melalui pemain bola muslim-Arab yang bergabung di klub Eropa, masyarakat Barat bisa mengenal Islam lebih dekat. Perilaku Mo Salah di dalam dan di luar lapangan misalnya, menjadi fenomena yang menarik perhatian anak muda di Inggris.

Gestur sujud syukur atau minum sambil duduk (jongkok) dan gaya hidup anti hedonisme menginspirasi banyak anak muda di Inggris untuk mengenal Islam secara lebih jauh. Bahkan, tidak sedikit anak muda Inggris yang menjadi muslim lantaran terinspirasi sosok Mo Salah.

Fenomena seperti Mo Salah ini tentu tidak bisa dianggap sepele. Salah merupakan duta Islam bagi masyarakat Barat saat ini. Salah, dalam caption-nya di Instagram pernah berkata bahwa masyarakat Barat itu melihat Islam yang dari perilaku pemeluknya.

Artinya, mereka tidak membaca Alquran, atau belajar hadist, tapi langsung melihat perilaku muslim. Jika muslim berperilaku baik, maka masyarakat Barat akan percaya bahwa Islam itu agama yang baik. Demikian pula sebaliknya.

Melawan Islamofobia Melalui Pendekatan Kultural

Pesan Mo Salah ini wajib diamplifikasi ke seluruh umat Islam. Bahwa melawan Islamofobia itu bisa dilakukan dengan pendekatan kultural. Selama ini, masyarakat Barat cenderung punya sentimen negatif terhadap Islam lantaran menyaksikan sendiri bagaimana oknum-oknum Islam terlibat dalam gerakan terorisme global. Itu artinya, fenomena Islamofobia tidak lahir dari ruang hampa, melainkan ada konteks yang melatarinya.

Sebagai pemain sepakbola, Mo Salah tentu punya masanya sendiri. Ketika karirnya meredup, otomatis popularitasnya juga menurun. Dengan begitu, pengaruhnya terhadap isu sosial dan keagamaan pun juga akan melemah.

Pelajaran penting yang bisa dipetik dari fenomena Mo Salah adalah bahwa kontribusi seorang figur publik itu sangat penting untuk membangun citra positif Islam di mata dunia Barat dan global secara umum.

Peran pengaruh, entah itu atlet, musisi, pembuat film, penulis, desainer, ilmuwan, dan sebagainya dalam membangun narasi positif Islam di mata Barat itu sangat krusial. Maka, kita umat Islam harus melahirkan Mo Salah-Mo Salah baru yang membawa misi mengenalkan Islam moderat ke dunia Barat.

Masyarakat Barat dan internasiobam harus tahu bahwa Islam tidak hanya Al Qaeda, Taliban, atau ISIS. Bahwa Islam tidak melulu soal perempuan yang mengenakan burqa atau lelaki yang memakai celana gombrong kumal. Umat Islam harus membasuh praktik Islamofobia dengan menunjukkan wajah Islam yang moderat dan anti-kekerasan.

Ramadan kiranya menjadi medium diplomasi yang tepat untuk mengenalkan budaya Islam ke masyarakat Barat dan internasional. Stigma negatif terhadap Islam harus dilawan dengan menunjukkan wajah Islam yang rahmatan Lil alamin.

Puasa Ramadan adalah sarana yang tepat untuk membentuk perilaku keagamaan yang moderat. Dalam puasa, kita diajarkan untuk bersimpati dan berempati pada penderitaan liyan. Puasa adalah terapi spiritual untuk membakar sifat negatif dan hasrat kebinatangan yang ada dalam diri kita. Termasuk nafsu kebencian, amarah, dan hasrat kekerasan.

Facebook Comments