Menyelami Gagasan Moderasi Beragama Kartini

Menyelami Gagasan Moderasi Beragama Kartini

- in Narasi
25
0
Menyelami Gagasan Moderasi Beragama Kartini

Selama ini, pembahasan tentang Kartini selalu difokuskan pada ide emansipasi perempuan. Hal itu tidak salah. Namun, menganggap Kartini hanya berbicara emansipasi perempuan tentu dengan mereduksi gagasan besar Kartini.

Selain bicara emansipasi, ia juga menulis tentang kebangsaan dan keagamaan. Profil Kartini cenderung menarik. Di satu sisi, ia merupakan produk pendidikan Eropa yang modern dan fasih berbahasa, bahkan menulis dalam bahasa Belanda. J. Abendanon yang mengkodifikasi surat-surat Kartini dan membukukannya menuebur bahwa pemilihan frase dan kata Kartini menandakan bahwa ia adalah seorang yang berpikir ala Eropa.

Di sisi lain ia juga seorang muslim taat. Ia belajar Islam di pesantren K.H. Soleh Darat. Ia bahkan menjadi santriwati kesayangan ulama besar tersebut. Hal itu karena Kartini kerap mendebat sang kiai ihwal penafsiran Alquran. Bahkan, ia sempat ingin kabur dari pesantren karena menolak konsep poligami ala Islam.

Posisi itu membuat gagasan Kartini tentang agama sangat Kritis. Merujuk artikel yang ditulis oleh Lilis Muchoiyyaroh di Jurnal Indonesian Historical Studies berjudul “Rekonstruksi Pemikiran Kartini tentang Keragamaan untuk Memperkuat Integrasi Nasional”, pemikiran kritis Kartini tentang agama bisa dilihat dari sejumlah gagasannya.

Pertama, Kartini menuliskan dalam surat kepada sahabatnya di Belanda bahwa di lingkungannya kerap terjadi penistaan dan kekerasan yang dilakukan umat agama lain. Penistaan dan kekerasan itu terjadi karena ada orang yang menganggap agamanya sebagai yang paling benar lalu merendahkan agama lain. Menyikapi hal itu, Kartini menganggap bahwa perbedaan agama seharusnya tidak menjadi alasan untuk terpecah-belah dan berkonflik.

Ia pun mengutip ajaran K. H. Sholeh Darat yang mengatakan bahwa Islam adalah agama keselamatan dan agama perdamaian. Islam tidak menoleransi perilaku menghina agama lain apalagi tindakan kekerasan terhadap agama lain.

Gagasan Universalitas Agama Kartini

Ketiga, Kartini mengkritik praktik keislaman di kalangan bangsawan atau priyayi yang menurutnya terlalu dipengaruhi mistisisme. Kartini menyebut, para bangsawan Jawa yang mengamalkan ajaran mistisme cenderung memakai ajaran “manunggaling kawula Gusti” secara harfiah. Alhasil, tidak sedikit yang menganggap dirinya setara dengan Tuhan. Pemaknaan yang seperti itu menurut Kartini justru akan menodai kesucian Islam itu sendiri.

Keempat, Kartini mengkritik keras program Zending alias Kristenisasi di Jawa yang cenderung memaksa muslim meninggalkan agamanya dan memeluk Kristen. Kartini tidak membenci agama Kristen. Bahkan ia menyebutnya sebagai agama humanis. Namun, ia menolak misi Zending yang disponsori pemerintah Belanda. Kartini berpandangan bahwa seharusnya anak-anak muslim di Jawa diberikan kesempatan untuk mengaji dan belajar Islam. Begitu juga umat Islam di Jawa sebagainya dilindungi kebebasan beragamanya oleh pemerintah Belanda.

Kelima, Kartini memandang penting gagasan tentang universitas agama. Yakni bahwa hakikatnya semua agama itu mengajarkan kebaikan, meski secara ritual berbeda-beda. Kartini meyakini bahwa hakikat agama adalah mempersatukan umat manusia, alih-alih memecah-belah. Dalam suratnya untuk Nelli ban Kohl, Kartini menulis “Ia tidak seagama dengan kita, tapi tak mengapa. Tuhannya kita, Tuhan kita semua“.

Dalam suratnya yang lain, Kartini menulis “Kami merasa bahwa inti semua agama adalah hidup yang benar, dan bahwa semua agama itu baik dan indah. Akan tetapi, wahai umat manusia, apa yang kalian perbuat dengannya?“.

Terkahir, Kartini meyakini bahwa Islam adalah agama yang mendukung kesehatatan antara laki-laki dan perempuan. Islam bukan agama yang membenci perempuan (misoginis), melainkan mengakui bahwa perempuan memiliki kedudukan yang mulia.

Kontekstualisasi Gagasan Moderasi Bseshaam Kartini

Jika dipahami, gagasan Kartini tentang agama itu cenderung melampaui zamannya kala itu. Pemikirannya tentang Islam dan isu keagamaan menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang moderat. Dalam artian, meyakini dan setia pada ajaran agama sendiri (Kartini adalah sosok yang taat beribadah dan fasih membaca Alquran), namun tetap toleran dan inklusif pada perbedaan.

Pernyataan tentang “semua agama mengajarkan kebaikan” atau “Tuhannya kita, Tuhan kita semua” menggambarkan ide besar tertantang pluralisme agama. Pluralisme tidak menganggap semua agama sama, bahkan sebaliknya pluralisme mengakui bahwa semua agama itu unik dan berbeda.

Namun, pluralisme berkeyakinan bahwa perbedaan agama tidak lantas membuat manusia terpecah. Sebaliknya keanekaragaman agama idealnya justru mendorong manusia untuk saling mengenal dan menghormati. Kartini sudah mengusung gagasan pluralisme jauh sebelum abad modern datang, dan pemikiran itu muncul bahkan di usianya yang masih sangat muda.

Kini, seabad lebih Kartini wafat. Namun, gagasannya sampai sekarang masih relevan. Termasuk tentang moderasi beragama. Gagasan moderat ala Kartini yang berbasis pada universitas agama tentu relevan dan kontekstual di era sekarang. Era ketika fanatisme dan konservatisme agama kian menjadi-jadi dan membuat relasi antaragama kerap diwarnai aksi intoelransi bahkan persekusi.

Gagasan moderasi beragama ala Kartini harus eeus digaungkan. Karena sejatinya, isu emansipasi itu tidak sekadar soal pembebasan perempuan dari ketertindasan dan ketidakadilan. Lebih dari itu, emansipasi adalah tentang memastikan bahwa setiap individu bisa bebas mengaktualisasikan hak dan kebebasannya termasuk dalam beragama.

Facebook Comments