Membedah Fitnah Propaganda Pasca Aksi Terorisme

Membedah Fitnah Propaganda Pasca Aksi Terorisme

- in Editorial
1011
0

Seorang remaja inisial SA (22 tahun) mengejutkan kita semua atas serangan nekatnya terhadap aparat kepolisian di Tanggerang. Meski sempat dilumpuhkan, remaja ini sempat melukai 3 anggota polisi. Aksi tersebut mengingatkan kita pada aksi yang serupa yang dilakukan remaja dengan inisial IAH (18 tahun) di salah satu Gereja di Medan. Banyak pengamat mengatakan aksi SA tersebut masuk dalam kategori “Lone Wolf” yakni aksi tunggal tanpa perintah dan terikat jaringan secara langsung. Serupa dengan kejadian di Medan. Keduanya tergolong masih belia untuk mengambil jalan pintas memutus masa depannya yang masih cerah dengan aksi yang brutal dan nekat.

Dalam setiap kejadian teror dipastikan kelompok radikal akan memainkan propaganda dengan membingkai isu dari sudut kepentingannya. Dalam kasus aksi di Medan dan Tanggerang dengan pola lone wolf yang sama, tetapi mendapatkan respon berbeda. Aksi IAH di Medan banyak dikatakan gagal, sehingga kelompok radikal di dunia maya memilih framing isu dengan menyebut aksi tersebut dengan “konspirasi intelijen” “fitnah terhadap Umat Islam” dan penggiringan opini lainnya yang ingin melepaskan aksi IAH sebagai bagian yang sering mereka klaim amaliah. Meskipun secara terang-terangan IAH telah terbukti melakukan bai’at terhadap pemimpin ISIS melalui video, tetapi kegagalan aksinya tak satupun mendapatkan pengakuan dan pembelaan dari kelompok radikal di dunia maya.

Hal ini sangat berbeda dengan kejadian SA di Tanggerang. Aksi tersebut bisa dikatakan cukup berhasil  karena sudah melukai target. Hanya sedikit website radikal yang mencoba mengambil framing isu penyangkalan aksi tersebut. Beberapa website misalnya mengatakan hal tersebut sebagai pengalihan isu Ahok. Narasi konspirasi intelijen juga ditemukan di media sosial, tetapi masih tergolong isu minor. Selebihnya, propaganda massif di dunia maya sangat didominasi sanjungan dari akun-akun radikal terhadap aksi tersebut hingga labelisasi “syahid” terhadap SA.

Nampaknya kita hampir menemukan pola propaganda mereka khususnya teror yang dilakukan para “serigala tunggal”. Jika aksi tersebut gagal akan ada penyangkalan besar-besaran dengan teori lama konspirasi dan fitnah. Namun, apabila aksi tersebut berhasil, propaganda akan mengarah pada sanjungan, dukungan dan kesyahidan. Rumusnya begini: jika aksi dikatakan gagal propaganda menjurus pada mencari narasi penyangkalan, jika berhasil menguatkan dengan narasi pembenaran.

Pola ini hampir sama mereka gunakan ketika membingkai isu luar negeri. Dalam kasus Aleppo atau yang paling terkini Mosul, jika kelompok ISIS menguasai daerah tersebut, maka yang muncul adalah narasi kegagahan dan kemenangan pasukan Tuhan yang telah dijanjikan. Namun, ketika kelompok ISIS di Aleppo dan Mosul mulai terdesak, propaganda yang dikembangkan adalah menggunakan isu kemanusiaan, semisal selamatkan Aleppo dan Mosul dari kebiadaban, pelanggaran HAM, dan isu lainnya yang mencoba mencari simpati.

Mari kita kembali membahas lebih detail aksi SA yang mereka katakan berhasil. Dalam sekejap dukungan terhadap aksi SA di Tanggerang begitu massif di dunia maya. Secara sepintas isunya memang sporadis, tetapi propaganda mereka sistimatis dan terhubung antar satu dan lainnya. Apalagi setelah mendengar SA tewas, narasi jihad, syahid, bidadari, dan lainnya mengalir deras sebagai upaya pembenaran aksi. Beberapa akun radikal bahkan mengkampanyekan ajakan aksi kekerasan yang sama sebagaimana dilakukan SA.

Sebagaimana rumus propaganda mereka, apabila aksi teror dapat dikatakan berhasil propaganda yang dikuatkan adalah mencari pembenaran. Narasi thaghut aparat pemerintah ramai dikembangkan pasca aksi SA. Seolah mereka ingin menanamkan kepada semua khalayak bahwa mereka pantas diserang karena termasuk kelompok thaghut. Pembenaran berikutnya bahwa pelaku aksi adalah pejuang, mujahid dan akan mati syahid. Kalau sudah begitu, turunannya akan muncul cerita-cerita fiktif dan lebay; jasadnya harum, mulutnya tersenyum dan bermimpi melihat pelaku di surga bersama bidadari.

Pola-pola ini sudah menjadi karakter lama dan masyarakat sudah menyadari itu semua sebagai upaya pembodohan opini. Namun, kelompok radikal akan selalu dan konsisten melakukan hal yang sama. Mereka tidak akan pernah bosan untuk menyebarkan propaganda-propaganda tersebut, karena mereka menyadari tidak semua masyarakat memiliki tingkat kecerdasan yang sama. Sasaran mereka adalah kelompok masyarakat yang labil, kedangkalan berpikir, emosional dan mudah terhasut.

Dari kejadian IAH dan SA dengan pola lone wolf ada satu kesamaan yang patut diperhatikan. Keduanya sama-sama nekat tanpa persiapan yang matang. Kecakapan terhadap amunisi dan perakitan bom meskipun banyak dipelajari di dunia maya, tetapi masih sangat terbatas. Sehingga pilihannya adalah senjata tajam seperti pisau, golok, badik dan lainnya. Pola serangan dengan kategori “nekat” menggunakan senjata tajam ini seperti menjadi tren baru sebagaimana juga terjadi di Amerika.

Apabila kita cermati di samping panduan dan tutorial membuat bom, di dunia maya saat ini begitu ramai disebarkan cara melakukan aksi dengan menggunakan senjata tajam. Ini seakan menjadi tren baru peralihan kelompok teror dari serangan besar ke kecil dan dari serangan bom ke penyerangan langsung menggunakan senjata tajam.  Kecakapan perakitan bom dan akses memiliki amunisi dan senjata mulai sulit didapatkan. Dan tentu saja membutuhkan waktu yang agak lama. Dibutuhkan keahlian dan percobaan-percobaan sebagaimana dilakukan IAH di kamarnya. Resikonya dengan pelatihan online kemungkinan gagal sangat besar sebagaimana gagalnya bom rakitan baik yang dimiliki IAH maupun SA.

Sehingga pilihan taktisnya, kelompok radikal memilih ajakan dan panduan penyerangan yang gampang dan instan melalui benda-benda tajam asal aksi dapat dilakukan dan memenuhi sasaran.  Ajakan ini senada dengan salah satu video yang disebarkan oleh ISIS Asia Tenggara yang menamakan diri Khatibah Nusantara yang mengajak anak-anak muda untuk melakukan kekerasan dengan pisau, benda tajam dan apapun asal dapat menyerang target.

Pola propaganda, fitnah, hasutan dan ajakan kekerasan tersebut patut menjadi concern bersama. Pemerintah melalui aparat intelijen dan penegak hukum tentu saja akan menemui tantangan besar dari pola lone wolf yang sulit dideteksi. Sementara, kelompok radikal terorisme dengan design radikalisasi online semakin massif mengajak para korban untuk segera gelar aksi kekerasan dengan modal senjata apapun. Karena itulah, lingkungan sekitar dan keluarga khususnya merupakan garda depan untuk melakukan deteksi dini dan pencegahan. Mari jaga anak kita dari pencucian otak di dunia maya.

Facebook Comments