Tasawuf dan Wabah Covid 19

Tasawuf dan Wabah Covid 19

- in Narasi
3350
3
Tasawuf dan Wabah Covid 19

Wabah penyakit yang terkena positif virus corona di Indonesia terus bertambah setiap harinya. Pemerintah merilis adanya kasus tambahan yang terjadi dalam 24 jam terakhir. Sehingga, jumlah kasus positif hingga saat ini mencapai 6.575 kasus. Meninggal 582 kasus. Virus Corona merupakan teror yang mematikan dan semua orang harus selalu waspada dengan cara berdiam diri dirumah.

Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), DKI Jakarta msih merupakan daerah dengan jumlah kasus Covid-19 tertinggi. Selain itu, ada sejumlah daerah lain yang mencatat jumlah kasus penularan cukup tinggi, seperti Jawa Barat (641 kasus), Jawa Timur (555 kasus), Sulawesi Selatan (343 kasus) dan Jawa Tengah (329 kasus).

Tatkala tasawuf dikaitkan di tengah bencana seperti Covid-19, cara pandang tasawuf biasanya berbeda. Menurut ilmu tasawuf bahwa bencana berupa ketakutan (al-khauf), karena wabah virus Corona atau bencana alam seperti, kelaparan, krisis ekonomi, ancaman keselamatan jiwa serta krisis pangan, tak lebih dari sekadar ujian yang hanya perlu direspon manusia dengan bersikap sabar, tidak panik, apalagi menciptakan masalah baru.

Itulah protokol bencana berdasarkan ilmu tasawuf, tentu tanpa mengesampingkan ikhtiar. Ikhtiar itu sama pentingnya dengan berdoa. Berdoa itu sama pentingnya dengan ikhtiar. Dengan adanya Virus Corona yang membuat heboh sebagaian penghuni bumi ini, Allah mengingatkan kita terhadap kematian yang merupakan fase historical necessity,keniscayaan sejarah sebagaimana ziarah kubur juga diharapkan sebagai media pengingat kematian.

Kita hadapi corona dengan ikhtiar doa dan Mahabbah Cinta kepada Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Kita jadikan wabah virus corona-19 ini sebagai pemantik untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas yang lain. Halawatal iman (manisnya iman) hanya bisa dirasakan dengan Cinta Allah dan Rasul-Nya.

Baca Juga : Menyambut Bulan Suci saat Pandemi: Tetap Di Rumah, Fokus Ibadah

Selain itu, wabah pendemi Covid-19, dalam artian tasawuf sangat penting ditengah pandemi ini, ada beberapa tafsiran mengenai arti penting tasawuf itu sendiri, seperti dengan adanya pandemi ini kita diharuskan mensucikan diri secara lahiriah seperti berwudhu atau membersihkan cuci tangan namun juga membersihkan secara bathiniah dari penyakit bathin, mensucikan ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah sebagai pengatur batas waktu pandemi ini akan berakhir, kita juga dituntut untuk senantiasa berprasangka baik kepada Allah mengenai turunnya pandemi ini, artinya mungkin saja Allah ingin kita lebih mengingatnya, lebih mendekatinya dengan cara menurunkan wabah yang menghentikan sejenak kegiatan kita

Sementara itu, tasawuf dalam tradisi sufi dikenal istilah uzlah (mengasingkan diri) dan khalwat (menyendiri) Tujuan beruzlah ini agar umat manusia selalu bertafakur kepada Allah. Oleh karena itu, di tengah wabah pendemi Virus Corona-19., makna Uzlah dan khalwat dapat dimaknai menjauhkan diri tempat-tempat keramaian, kerumunan yang dapat membahayakan nyawa sendiri, karena di tengah keramaiaan itu terdapat sumber penyakit lahir maupun penyakit bathin. Khalwat yang dilakukan dalam dalam waktu yang panjang maka disebut uzlah.

Perilaku inilah yang saat ini dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia. Tidak ada langkah yang lebih baik dan lebih tepat dalam berjihad melawan terjangan pandemi Covid-19 kecuali uzlah dan khalwat. Dalam konteks ini, bisa ditegaskan bahwa uzlah dan khalwat adalah cara paling efektif dalam memutus mata rantai penularan Covid-19. Uzlah dan khalwat dalam konteksi ini dimaknai isolasi social distance maupun jika diperlukan lockdown. Inilah khalwat dan uzlah, doktrin tasawuf yang mesti harus dipraktikkan dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Dengan melakukan berkhalwat dan beruzlah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah sesungguhnya kita sedang melakukan hal-hal yang ilmiah yang diterima akal sehat. Kita bisa beribadah dan taqarrub kepada Allah di bilik rumah.

Sementara itu, dalam prespektif tasawuf akhlaqi, umat Islam harus tetap tenang dan patuh terhadap ulama-ulama dan pemerintah di Indonesia, ini adalah suatu hal yang harus kita patuhi, ini termasuk akhlaq yang mematuhi sama ulama. Dan yang terakhir dalam prespektif tasawuf amalih adalah kita harus terus berdoa dan Istiqomah terhadap ibadah kita sehingga virus yang sedang besar ini tidak masuk terhadap tubuh kita, dan kita harus berdoa supaya wabah ini cepat diangkat dan dihilangkan dari dunia ini. Karena itu, makna terapi melalui tasawuf ditengah wabah virus Corona-19 ini sangat diperlukan bagi umat Islam di Indonesia, karena tasawuf mengajarkan kita untuk mengolah jiwa serta menenangkan diri, tidak panik, tidak galau dengan cara lebih mendekatkan diri kepada Allah. Pada saat seperti sekarang ini ketenangan jiwa sangat diperlukan, karena dengan jiwa yang tenang, lebih efektif untuk meningkatkan daya tahan tubuh lahir maupun bathin untuk menangkal virus corona agar tidak terpapar dan dijauhkan dari penyakit corona. Semoga

Facebook Comments