Dialog sebagai penangkal radikalisme di Indonesia

Dialog sebagai penangkal radikalisme di Indonesia

- pada Suara Kita
253
0

Era reformasi yang ditandai jatuhnya rezim orde baru membawa iklim baru bagi kehidupan demokrasi di Indonesia. Reformasi memberikan ruang untuk perbedaan dan kebebasan dalam menyampaikan pendapat. Kebebasan berpendapat yang dibangun digunakan oleh kelompok radikal untuk menyebarkan pemahamannya ke ranah publik. Sebagai ‘penumpang gelap’ demokrasi, paham radikalisme menebarkan ide-ide yang mengekang kebebasan beragama dan memaksakan truth claim (klaim kebenaran) versi mereka sediri.

Paham radikal bisa menjadi pemicu perpecahan dalam bermasyarakat karena mengusung truth claim yang menegasi keberadaan yang lain. Truth claim dalam radikalisme menjadikan persepsi bahwa hanya kelompoknya lah yang paling benar dan semua yang di luar kelompoknya salah. Cara pandang ini membuat masyarakat saling memusuhi dan merasa benar sendiri. Pada akhirnya, truth claim yang dibawa dalam radikalisme berpotensi memunculkan konflik horisontal maupun vertikal dalam masyarakat Indonesia.

Kemunculan Jihad Cyber

Dengan meningkatnya penggunaan internet, tiap individu dan masyarakat di berbagai sudut dunia bisa saling berinteraksi. Fenomena ini memunculkan apa yang disebut sebagai global village (desa buwana). Dengan komunikasi yang tanpa batas, sang buwana menyusut seakan menjadi sebuah desa di mana tiap individu bisa saling menyapa. Selain berbagai kemudahan yang ditawarkan internet, terdapat dampak negatif yang tidak bisa dihindari. Massifnya informasi membuat pengguna enggan melakukan crosscheck dan verifikasi berita yang diterimanya. Oleh karena itu, berita sesat atau hoax bisa menyebar dengan cepat.

Kemunculan era teknologi informasi juga dimanfaatkan oleh gerakan radikalisme untuk mengepakkan sayapnya. Dengan komunikasi yang menembus batas-batas negara, kelompok radikal membentuk jejaring internasional. Mereka menyebarkan gagasan radikalisme melalui sosial media yang bisa diakses oleh setiap orang. Ruang publik internet diubah menjadi medan jihad. Dengan konsep jihad cyber ini, mereka berusaha merekrut simpatisan baru, melakukan cyber war dan juga menanamkan benih-benih radikalisme.

Tidak jarang gagasan radikalisme disebarkan melalui berita-berita hoax. Berita yang sesat dan menyesatkan tersebut terkesan boombastis, sehingga membuat banyak orang tertarik untuk membacanya. Namun, berita tersebut tidak memiliki landasan fakta yang jelas dan hanya melakukan provokasi untuk menyudutkan pihak tertentu. Hoax juga bekerja dengan melakukan ‘play victim’ untuk menarik simpati. Dalam berita sesat tersebut, mereka berperan seolah-olah didzalimi dan perlu tindakan pembelaan dan pembalasan dari pembaca.  Dengan melakukan blaming (penyalahan pihak lain) dan play victim inilah pembaca digiring untuk membenci kelompok tertentu.

Dialog sebagai panangkal virus radikalisme

Membangun dialog yang dialogis bisa menanggulangi perpecahan yang disebabakan oleh berita radikalisme dalam hoax. Berbagai virus radikalisme seperti klaim kebenaran dan strategi blaming serta play victim yang bisa membelah kesatuan masyarakat bisa diobati melalui dialog yang berkesinambungan antar personal. Melalui dialoglah, suatu berita bisa diuji kebenarannya. Dengan dialog pula suatu kebenaran bisa ditemukan. Suatu kebenaran tidak diperoleh hanya dengan melakukan klaim, namun secara santun berdialog dan terbuka akan pendapat.

Dialog yang bisa membendung redikalisme bukan sekedar dialog yang dialektis, namun dialog yang dialogis. Dialog yang dibangun bukan dialog untuk mendebat dan mencari kesalahan orang lain. Seperti yang didengungkan  Raimundo Panikkar, dialog yang dialogis adalah dialog yang memandang partner dialognya bukan sekedar it (benda) berupa ide dan gagasan, namun sebagai you (subjek), personal yang memiliki kepribadian. Tujuan dialog ini adalah untuk belajar dan mengenal. Seperti dalam dialog antar agama. Dalam dialog yang dialogis, apa yang diselami dan dialogkan bukan hanya sekedar doktrin dan ajaran, namun mengenali sosok personal yang menganut agama tersebut. Ide, gagasan dan ajaran agama bisa dipahami tidak hanya memalui ide atau doktrin tersebut, namun individu yang mengimanai dan mempercayai ide dan doktrin tersebut.

Pannikar hendak mengajak kita berdialog sebagai manusia, bukan kesekedar tubuh sebagai wadah penampung ide dan iman. Dalam dunia maya, hendaklah pula berlaku sebagai manusia. Berdialoglah secara dialogis. Tiap tulisan dalam blog, ocehan twitter atau status di facebook bukan sekedar muncul dari sebuah akun, namun di balik itu ada persona, manusia yang memiliki rasa dan karsa. Berdialog bukan hanya memahami ide, namun mengenali manusianya. Marilah jadikan jejaring sosial sebagai wahana untuk berdialog, mengakui keberadaan yang lain dan belajar dari yang lain. No Man is an island, manusia tidak hidup sendiri di dunia ini, kita saling bergantung dan membutuhkan satu sama lain.

Komentar Dengan Facebook