Selasa, 16 Oktober, 2018
Informasi Damai
Archives by: Mohammad Sholihul Wafi

Mohammad Sholihul Wafi

Mohammad Sholihul Wafi Posts

Membangun Keluarga Pancasila, Memutus Mata Rantai Radikalisme!

Membangun Keluarga Pancasila, Memutus Mata Rantai Radikalisme!
Suara Kita
Akhir-akhir ini tema penguatan Pancasila menjadi diskursus yang ramai diperbincangkan setelah banyak terjadi tindakan-tindakan kekerasan yang menunjukkan sikap intoleran yang marak terjadi belakangan ini. Perlu dipahami, menyeruaknya spirit kembali ke Pancasila, sebenarnya adalah bagian dari antithesis terhadap narasi propaganda radikalisme dan terorisme. Kita pahami, perilaku radikal dan terorisme di Indonesia telah memasuki stadium akut sehingga mengancam fitrah kebhinnekaan bangsa Indonesia. Agama sebagai ‘pesan Tuhan’ sebagaimana yang diungkapkan Audifax dalam bukunya, ...
Read more 0

Mengimplementasikan Pesan Pancasila, Mengubur Ideologi Terorisme!

Mengimplementasikan Pesan Pancasila, Mengubur Ideologi Terorisme!
Suara Kita
Meski kita telah menyatakan diri memiliki Pancasila sebagai ideologi kita bersama, nyatanya situasi kehidupan beragama di Indonesia masih jauh dari kenyataan tersebut. Kita hari ini, masih sering menyaksikan ujaran kebencian, dan tindakan mengatasnamakan ideologi terorisme. Ironis memang, mereka bahkan tak segan-segan mengangkat narasi agama untuk melegalkan tindakan pembiadapan tersebut, yang sebenarnya diharapkan mampu mewujudkan peradaban. Tentu saja, kenyataan tersebut tidak boleh berlarut-larut terjadi. Hal ini karena, fenomena ini jelas sangat ...
Read more 0

Pancasila: Pondasi Spirit Piagam Madinah di Indonesia

Meski Pancasila hingga kini secara de facto dan de jure masih diakui sebagai dasar negara yang sah, tapi masih saja ada pihak-pihakyang menggugatnya. Terutama sekelompok orang yang mengaku beragama Islam yang suka mengkafir-kafirkan dan menyalahkan. Menganggap Pancasila dan Islam adalah dua hal yang berbeda secara diametral. Tak hanya itu, ia juga menganggap Pancasila, NKRI dan demokrasi adalah thaghuut yang tidak layak dianut. Padahal, jika kita mau menyelami sejarah Nusantara secara lebih jauh, antara Islam dan Pancasila sebenarnya sudah menyepakati kata ‘kompromi’. Lalu, masih bijakkah kita menghadapkan secara vis a vis antara Pancasila dan Agama? Secara substansi, Pancasila adalah nilai-nilai filosofis, sementara Islam adalah way of life yang mela­hirkan tata hukum se­luruh aspek kehidupan manusia. Pancasila secara subyektif hanya diberlakukan di Indonesia, sementara Islam adalah rahmat bagi alam semesta. Pancasila adalah kreatifitas intelektual manusia yang nisbi, sementara Islam adalah dinul haq dari Allah swt, pencipta alam semesta. Islam diturunkan Allah untuk menjadi rahmat bagi manusia dan seluruh alam semesta, sementara Pancasila -meminjam istilah Salahuddin Wahid-masih terjadi kesenjangan antara cita dan fakta. Membandingkan Islam dan Pancasila ibarat membandingkan volume air laut dengan volume setetes air. Islam dan Pancasila dari berbagai perspektif bukanlah dua hal yang bisa dibandingkan. Namun bukan berarti Pancasila salah, tidak ada yang salah dengan Pancasila. Sebagai seorang muslim, meski Islam belum diterapkan secara kaffah dalam sebuah negara, namun tertancap keyakinan kuat bahwa Islam akan menjadi solusi atas segara permasalahan manusia. Berbeda dengan pancasila, meski telah 72 tahun diterapkan di negeri ini, masih menyisakan kesenjangan antara cita dan realita yang hampir tak berujung. Sebagai contoh, kita sering melihat kaum beragama yang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara mendiskrimasi saudara sebangsanya, hanya karena berbeda. Tentu ini menjadi fenomena pahit yang tidak mencerminkan laku Pancasilais dalam diri masyarakat Indonesia. Pondasi Utuh Pancasila adalah seperangkat filosofi hidup (set of philosophy) yang sifatnya terbuka. Setiap orang dengan mudah bisa mengatakan bahwa dirinya adalah seorang pancasialis berdasarkan tafsiran masing-masing secara subyektif. Bahkan setiap orang juga bisa menilai orang lain tidak pancasilais dengan tafsiran yang subyektif pula. Di negeri ini agama yang jelas-jelas memiliki ‘tuhan banyak’ pun tetap bisa menyebut agamanya pancasilais (Ahmad Sastra, 2016). Maka begitu juga, mengatakan bahwa Islam itu Pancasilais adalah tidak sepenuhnya benar. Sebaliknya, mengatakan bahwa Islam tidak Pancasilais juga menjadi kekeliruan yang besar. Dalam kondisi ini, kita perlu memahami bahwa nilai-nilai yang termaktub dalam Islam dan nilai-nilai yang tercantum dalam Pancasila adalah saling bertemu tanpa tudung aling-aling sedikitpun. Jadi, sebenarnya, Islam dan Pancasila adalah pondasi kokoh mewujudkan harmoni kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama. Lihat saja Piagam Madinah yang pernah dibuat oleh Nabi Muhammad ketika hijrah ke Yatsrib, ia adalah bentuk nilai-nilai yang sama dengan Pancasila yang dilaksanakan di bumi Timur Tengah. Dengan demikian, Islam dan Pancasila merupakan pondasi utuh mewujudkan spirit Piagam Madinah di Indonesia. Pasalnya, di dalamnya tidak ada hasrat untuk menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain, bahkan bagi umat Islam sendiri. Sabagaimana Piagam Madinah, Pancasila juga menghendaki adanya penaungan hak dan kewajiban dalam masyarakat plural sehingga tidak terjadi tindakan pecah-belah. Piagam Madinah membuka mata kita untuk dapat melihat dan belajar bahwa spirit Islam menghendaki sebuah asas kebebasan beragama, kerukunan, keadilan, perdamaian, musyawarah, persamaan hak dan kewajiban. Begitu juga dengan Pancasila, yang merupakan terobosan filosofis, ideologis, dan historis sebagai ideologi pemersatu bangsa yang dilahirkan melalui proses negosiasi serta partisipasi yang diikuti perwakilan komunitas suku, agama, ras dan antargolongan yang ada di Indonesia, sebagai sebuah landasan kehidupan sosial politik Indonesia yang plural dan modern. (Rachman, 2006). Karena itu, Piagam Madinah maupun Pancasila bukan didesain untuk menonjolkan satu golongan saja, misalnya, dengan mencantumkan “syariat Islam” secara eksplisit,—akan tetapi dibuat dan dirancang sebagai sebuah cita-cita dan semangat bersama untuk mewujudkan kehidupan ber-Bhineka Tunggal Ika: Berbeda-beda tetapi tetap satu jua, dengan berpedoman pada prinsip demokrasi atau syura; musyawarah untuk mufakat. Pada titik inilah kita perlu bersama-sama merenungkan kembali bahwa spirit Piagam Madinah dan Pancasila ialah sebagai platform bangsa yang pluralistik. Bahkan setiap sila dalam Pancasila merupakan obyektifikasi—dalam istilah Kuntowijoyo dari nilai-nilai universal dalam setiap agama dan kepercayaan. Walaupun berbeda-beda dari segi syariat dan aqidah, ada nilai-nilai yang diyakini bersama sebagai nilai-nilai luhur. (Kuntowijoyo, 1997). Nilai-nilai bersama itu menurut Nurcholish Madjid, dalam al-Qur’an disebut dengan kalimatin sawa. Pancasila adalah kalimatin sawa—common ground. (Madjid, 1991). Dari itu, marilah sebagai warga pemeluk agama Islam agar sama-sama menjunjung tinggi Pancasila dan mengubur segala hasrat membenturkan Islam dan Pancasila. Sebab, keduanya tidaklah saling bertentangan. Justru saling menguatkan. Sebab, keduanya merupakan entitas yang harus tetap ada dalam diri umat Islam di Indonesia sebagai pondasi kokoh mewujudkan spirit Piagam Madinah yang pernah digaungkan Rasulullah berabad-abad lalu. Wallahu a’lam bish-shawaab.
Suara Kita
Meski Pancasila hingga kini secara de facto dan de jure masih diakui sebagai dasar negara yang sah, tapi masih saja ada pihak-pihakyang menggugatnya. Terutama sekelompok orang yang mengaku beragama Islam yang suka mengkafir-kafirkan dan menyalahkan. Menganggap Pancasila dan Islam adalah dua hal yang berbeda secara diametral. Tak hanya itu, ia juga menganggap Pancasila, NKRI dan  demokrasi adalah thaghuut yang tidak layak dianut. Padahal, jika kita mau menyelami sejarah Nusantara secara ...
Read more 0

Pancasila sebagai Piagam Madinah NKRI

Suara Kita
Perihal Pancasila sebagai ideologi NKRI merupakan konsensus yang sudah mapan sejak awal mula NKRI mendeklarasikan diri menjadi bangsa yang merdeka. Awalnya, terjadi sebuah perdebatan panjang terkait diterapkannya konsep negara-bangsa sebagai konstruksi NKRI dan Pancasila sebagai idelogi negara pada awal perumusannya. Dua kubu besar, yakni kubu Islam dan nasionalis, keduanya pernah mengalami dialektika yang sangat dinamis dalam tubuh Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) saat menjelang kemerdekaan. Kubu pertama diwakili oleh ...
Read more 0

Pilkada Selesai, Saatnya Merajut Kembali Silaturahmi

Pilkada Selesai, Saatnya Merajut Kembali Silaturahmi
Suara Kita
Pilkada serentak telah selesai dihelat pada tanggal 27 Juni 2018. Patut disyukuri, tidak ada konflik destruktif yang turut mewarnai Pilkada kali ini. Hanya saja, umumnya sentimen politik dukungan belum tentu sudah berakhir. Para calon kepala daerah yang kalah bersaing dalam hajatan demokrasi ini beserta pendukungnya bisa jadi belum menerima atas kekalahan yang dideritanya. Tentu saja, hal tersebut sangat tidak dapat dibenarkan. Pilkada bukan sekadar kontestasi demokrasi. Pilkada ialah untuk mencari ...
Read more 0

Semua Warganet Bersaudara

Semua Warganet Bersaudara
Suara Kita
“Semua manusia bersaudara”, Mahatma Gandhi Rasanya, agama apa pun pasti akan bersepakat bahwa setiap manusia bersaudara tanpa terkecuali. Maka, segala perilaku yang dapat membahayakan persaudaraan layak untuk dikecam dan dijauhi. Begitu juga, di era internet seperti sekarang, apa yang diungkapkan Gandhi tersebut tetap masih relevan. Di era ini, ungkapan itu bisa berubah menjadi “semua warganet bersaudara”. Itulah keniscayaan yang harus kita pegang sekarang ini dan tidak boleh berubah. Termasuk di ...
Read more 0

Memupuk Solidaritas Virtual, Hindari Perpecahan!

Memupuk Solidaritas Virtual, Hindari Perpecahan!
Suara Kita
Pepatah pernah mengatakan, “mulutmu harimaumu!”. Sungguh luar biasa mulut kita ini, dia dapat lebih mengaung daripada harimau, menerkam dan membahayakan orang lain dan bahkan diri kita sendiri. Kini, tak hanya mulut yang mampu menjadi harimau. Bahkan, jempol juga. Tak ayal, ada istilah baru yang muncul: “jempolmu, harimaumu!”. Di era virtual seperti sekarang, jempol tak ubahnya sama bahayanya dengan mulut/lisan. Jika jempol digunakan secara bijak, maka tidak akan membahayakan diri sendiri ...
Read more 1

Ramadan: Ajarkan Toleransi, Hindari Ujaran Kebencian!

Ramadan: Ajarkan Toleransi, Hindari Ujaran Kebencian!
Suara Kita
Hari Kamis, tanggal 19 Mei 2018 kita resmi akan memasuki bulan Ramadan tahun 1439 H. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, bulan Ramadan tahun ini terlihat istimewa karena tidak ada perbedaan dalam penentuan awal Ramadan. Baik Ormas Islam maupun pemerintah yang sering mengalami perbedaan penentuan awal Ramadan, keduanya sama-sama menetapkan tanggal tersebut sebagai permulaan diwajibkannya umat Islam untuk berpuasa. Hal ini memberikan iklim positif betapa meski berbeda pun, kita masih bisa bersatu. ...
Read more 0

Kartini, Perempuan, dan Literasi Dunia Maya

Suara Kita
Bulan April selalu menjadi bulan yang istimewa bagi kaum perempuan Indonesia. Tepatnya setiap 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Biasanya, hari tersebut selalu diperingati dengan aneka lomba, yakni lomba memasak, memakai pakaian tradisional, cerdas cermat bertema emansipasi perempuan, dan kegiatan lain sejenis. Banyak cara mengenang jasa-jasa Kartini. Sayangnya kenangan akan Kartini sebatas kegiatan yang sifatnya seremonial yang selalu diulang-ulang dari tahun ke tahun. Sebagai putri Bupati Jepara, ternyata Kartini juga ...
Read more 0

Isra’ Mikraj: Ajarkan Keselamatan dan Cinta, Kalahkan Egoisme!

Isra’ Mikraj: Ajarkan Keselamatan dan Cinta, Kalahkan Egoisme!
Suara Kita
Pada dasarnya, peristiwa Isra’ Mikraj yang dialami oleh Nabi Muhammad Saw. merupakan salah satu kado istimewa yang pernah diberikan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad berikut seluruh umat Islam. “Kado Istimewa” yang dimaksud tersebut adalah perintah melaksanakan ibadah shalat. Perlu dipahami, shalat bukan semata untuk menguatkan konstruksi relasi spiritual antara manusia dengan Tuhannya (hablumminallah), tetapi juga menguatkan relasi sesama manusia, lintas etnis, dan bangsa (hablumminannas). Konstruksi yang “diamanatkan” melalui shalat ini ...
Read more 1
Translate »