Dongeng dan Pencegahan Radikalisme Sejak Dini

Dongeng dan Pencegahan Radikalisme Sejak Dini

- in Suara Kita
364
0

Setiap tanggal 20 Maret diperingati hari Dongeng Sedunia. Meskipun dongeng adalah sebuah tradisi kuno, namun ia selalu relevan untuk direfleksikan di era kekinian. Terlebih manfaat dongeng sangat siginifikan bagi seseorang, tanpa terkecuali anak-anak, yang notabene memang adalah objeknya.

Hasil penelitian Puspita (2009) menyebutkan bahwa dongeng merupakan aktivitas tradisional yang dapat mempengaruhi emosional dan polah-tingkah anak. Lebih jauh lagi, ia menegaskan bahwa secara psikologis, dongeng bagi kanak-kanak sangat mudah sekali terpengaruh paradigma. Jika yang ditanamkan nilai-nilai postif melalui dongeng, maka akan berdampak positif bagi anak itu sendiri.

Menurut Santrock (2009:36), anak adalah insan yang selalu tumbuh berkembang dan masa perubahan sebagai akibat proses biologis, koginitif dan sosioemosional. Proses koginif melibatkan perubahan pemikiran, dan kecerdasan. Sementara Harpatika (dalam Mukmin, 2010) menjelaskan bahwa usia 2-12 tahun merupakan periode terpenting bagi perkembangan anak bagi pembentukan dan pertumbuhan. Pada masa ini masa ini anak-anak membutuhkan kematangan emosi, fantasi dan imajinasi. Karena itulah, masa-masa ini anak gemar dongeng.

Mendongeng merupakan aktivitas yang ringan dan terbilang murah. Sebab, hanya bermodalkan pengetahuan saja, seseorang atau orang tua dapat leluasa mendongengkan apa saja yang ia inginkan.

Dalam kondisi seperti ini, orang tua sangat menentukan masa depan anak. Hampir bisa dipastikan jika anak tersebut lahir dari lingkungan atau keluarga teroris, maka kelak ia akan meneruskan apa yang dicita-citakan oleh orang tua tersebut. Hal ini tercermin dari pelaku BOM Bali, yang pelakunya adalah kakak-adik.

Sungguh sangat berbanding lurus apa yang diceritakan orang tua kepada anak, jika cerita itu terkait kekerasan, maka memori anak akan merekamnya. Terlebih doktrin dendam yang harus dibayar lunas seorang anak, menjadi satu faktor utama lahirnya radikalisme. Jadi, yang bersemayam diotak anak tersebut adalah; bagaimana membalas dendam untu keluarganya yang mati sia-sia ditangan aparat kepolisian itu. Maka, dalam praktik beragama, bermasyarakat dan bernegara, tindakannya tidak akan jauh-jauh dari ideologi kekerasan dan intoleransi serta fanatisme terhadap pemerintah.

Benar, sebagaimana yang diulas dalam rubrik editorial Jalan Damai minggu ini (20/3), bahwa beberapa waktu lalu tersebar rekaman video anak yang dilatih berperang oleh ISIS.

Optimalkan Peran Keluarga

Berangkat dari fenomena diatas, penulis hendak menegaskan beberapa poin kaitannya dengan dongeng dan doktrin kekerasan. Pertama, orang tua harus pandai memilih dan memilah konten sebuah dongeng. Dongen memiliki banyak manfaat; media menanam akhlak mulia, memperkenalkan emosi, merangsang daya imajinasi dan lain sebagainya. Jadi, orang tua harus benar-benar selektif dalam memilih tema atau konten dongeng. Cerita-cerita bernuansa peperangan dan perjuangan memang sangat baik untuk perkembangan mental seorang anak terutama mental pemberani, akan tetapi yang demikian itu harus diimbangi dengan ideoloagi-ideoloagi toleransi dan perdamaian agar anak tidak condong pada radikalisme.

Tegasnya, dongeng berkonten radikalisme sama saja mem-fram otak anak dan anak akan mengira bahwa kekerasan adalah satu-satunya jalan sebagaimana tokoh dalam dongeng. Sekali lagi, orang tua macam ini hendak memberi kesan bahwa manusia sejati adalah yang melakukan jihad di jalan Allah sekalipun caranya salah-kaprah. Maka, waspada dan filterlah konten dongeng, baik melalui lisan maupun tulisan.

Kedua, tanamkan jiwa moderat. Di tengah menjulangnya jurang perbedaan, membangun dan mencetak generasi moderat adalah langkah cerdas dan sangat bermanfaat bagi eksistensi bangsa Indonesia. Salah satu caranya adalah menceritakan keragaman dan keberagaman masyarakat Indonesia. Ideoloagi dan nilai-nilai yang disebar adalah sebagaimana yang digagasa oleh organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama (NU) dengan “Islam Nusantara”. Islam yang menampilkan jiwa toleransi, rahmatan lil alamin dan sebagainya. Banyak cerita yang mendukung ideoloagi ini, misalkan dakwah Walisongo. Selain itu ada cerita Patih Gajah Mada yang mempersatukan Indonesia.

Ketiga, melakukan kontra deradikalisasi. BNPT dalam hal ini patut dipresiasi. Sebab, selain melakukan deradikalisasi untuk para nara pidana teroris, juga melakukan kontra deradikalisasi bagi mereka yang belum terverivikasi melakukan tindakan teror, yakni keluarga (anak dan istri). Dan inilah yang disebut dengan pendekatan lunak (soft Approach).

Dalam kondisi dimana istri dan anak teroris, pembinaan yang intens sesungguhnya menjadi tanggung jawab negara. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak tertarik untuk melakukan tindakan yang sama oleh ayahnya atau agar tidak “dicaplok” kelompok atau jaringan teroris untuk kemudian didik menjadi ekstrimis karena doktrin yang ditancapkan.

Nah, tentu anak teroris seperti ini sangat berpotensi untuk meneruskan perjuangan ayahnya. Maka, siklus ini harus diputus. Caranya, dengan melakukan kontra indroktinisasi. Cerita-cerita terkait kematian ayahnya harus dibungkus sedemikian rupa agar tidak menumbuhkan bara dendam, melainkan menjadi pelajaran yang berarti bagi anak agar tidak melakukan kesalahan yang sama.

Inilah urgensinya dongeng atau cerita guna mencegah radikalisme di kalangan anak. Dan keluarga yang telah taubat dan kembali ke jalan lurus,  masyarakat harus menerima, jangan dimarjinalkan. Pemarjinalan terhadap mereka akan berdampak pada kembalinya mereka kepada kelompok atau lingkungan sebelumnya.

Facebook Comments