Media Sosial, Industri Dan Nasionalisme

Media Sosial, Industri Dan Nasionalisme

- in Suara Kita
626
0

Dalam buku Cracking Zone, (Rhenald Kasali) menjelaskansebuah studi dari lembaga riset Ericsson yang isinya bahwa salah satu alasan masyarakat Indonesia begitu gandrung dengan teknologi mobile adalah bahwa teknologi ini digunakan sebagai sarana untuk menguatkan bisnis. Jika dulu banyak perusahaan yang antipati terhadap adanya media sosial (Medsos), karena dianggap dapat menurunkan produktifitas perusahaan, maka akhir-akhir ini trennya justru sebaliknya, banyak perusahaan mulai mengikuti arus perubahan ini.Hal ini tentunya untuk menjalin persaudaraan antara pihak industri dalam perusahan dengan masyarakat publik.

Alasan yang mendasari beberapa perusahaan mulai masuk ke dalam sosial media. Pertama medsos mampu meningkatkan hubungan antara perusahaan dengan  konsumen.Seperti dikatakan diatas, sosial media mampu merubah gaya komunikasi menjadi lebih interaktif dan partisipatif, hal ini menyebabkan hubungan antara perusahaan dengan konsumennya menjadi lebih intens, lebih personal dan setara (horizontal). Media sosial memungkinkan konsumen untuk berkomentar langsung dengan apa yang sedang dilakukan atau yang sedang terjadi dengan perusahaan tersebut. Dengan menciptakan satu akun atau fanpages di Facebook atau bisa juga dengan sebuah akun Twitter, sebuah brand bisa berkomunikasi dengan konsumen dengan mudah dan dekat.

Kedua, Medsos mampu mempercepat proses pembuatan keputusan.Dengan melemparkansebuah topik atau survey akan sesuatu, maka konsumen dapat memberikan pendapatnya akan sesuatu tersebut dengan cepat, sehingga memudahkan untuk dapat membuat keputusan secara cepat.

Mata Rantai

Menurut Boediono definisi industrialisasi adalah proses percepatan pertumbuhan produksi barang industri yang dilaksanakan didalam negeri, yang diimbangi dengan pertumbuhan yang serupa di bidang permintaannya (yang berasal dari dalam negeri sendiri maupun luar negeri). Industrialisasi akan terhambat apabila aspek produksinya atau aspek permintaanya atau keduannya terhambat pertumbuhannya. (Ekonomi Internasional 1990). Industrialisasi bisa berjalan apabila adanya sikap nasionalisme antara pihak industri dengan masyarakat publik.

Nasionalisme yang tercermin pada Pancasila sila ke-3, dengan makna mencintai bangsa dan tanah air Indonesia, rela berkorban, bangga sebagai warga negara Indonesia, dan menempatkan kepentingan bangsa diatas kepentingan pribadi atau golongan. Oleh karena itu, kita sebagai warga negara Indonesia yang baik, mulailah dari hal yang kecil agar menumbuhkan sikap nasionalisme yang kemudian mungkin akan berujung pada sikap patriotisme. Sebagai masyarakat Indonesia harus cintailah produk dalam negeri adalah salah satu cara menumbuhkan rasa nasionalisme. Bagaimana masyarakat bangga terhadap produk dalam negeri tentunya hal ini menjadi tugas pokok sektor industri untuk meningkatkan kualitas pelayan yang membuat costumer puas.

Implementasi Supply Chain Management (SCM) merupakan salah satu bagian penting untuk memperbaiki kemampuan kompetisi organisasi bisnis. SCM menjadi suatu strategi kompetitif untuk menjembatani pemasok dengan pemakai (Gunasekaran, editorial EJOR 159, 2004). Hal inilah yang menjadi dasar terwujudnya nasionalisme karena adanya persaudaran dalam mata rantai antara pihak industri dan masyarakat. Penghubung mata rantai ini tentunya membutuhkan pihak ketiga yaitu media sosial.

SCM ini mengelola perjalanan hulu-hilir produk dari tangan industri ke tangan konsumen. Perjalanan ini dapat berjalan dengan baik dengan bantuan medsos sebagai media publikasi mampu mempertemukan keduanya. Medsos disini berfungsi sebagai alat kontrol perjalanan produk dari bahan mentah, produksi, hingga pendistribusiannya dalam ruang lingkup mata rantai.

Nasionalisme

Pada umumnyaCostumer Relationship Management (CRM), memiliki fungsi untuk mempererat hubungan atau relasi pihak industri dengan masyarakat yang interaktif. Tujuannya untuk menjamin kepuasan dan loyalitas pelangan terhadap dunia industri.

Prinsip CRM pertama perusahaan harus memperhatikan setiap pelanggan sebagai seorang individu yang unik, dengan membangun relasi one-to-one.Kedua, prinsipCRM perusahaan harus dapat menjangkau pelanggan dimanapun dan kapanpun pelanggan berada, tanpa memperhatikan batas-batas waktu dan ruang. Dengan kata lain perusahaan harus memiliki kanal distribusi (acces channel) yang beragam baik yang bersifat on-line maupun off-line.

Nasionalisme didunia industri sekarang ini dibangun bukan berdasarkan suku tetapi dibangun hanya dalam lingkup industri itu sendiri. Suatu contoh perusahaan mengadakan program donor darah, mudik bareng dan lainnya hanya dilakukan dilingkungan karyawan. Dengan adanya CRM nasionalisme industri terhadap kesukuan juga harus dijangkau supaya tumbuh rasa cinta tanah air.

Bentuk rasa cinta tanah air antara industri dan masyarakat terwujud adanya kebanggaan mengunakan, mengembangkan dan merawat produk dalam negeri. Persaudaraan ini terjalin dengan baik dengan adanya medsos sebagai katalis (penghubung) keduanya. Sebagai katalis medsos dalam publikasinya harus memberi keuntungan pihak masyarakat dan industri. Alhasil, dari kedua pihak terciptalah rasa kebangsaan, persatuan dan perdamaian. Tentunya persaudaraan ini akan berbuah kesejahteraan bangsa dimana masyarakatnya dapat menikmati kemakmuran.

Facebook Comments