Radikalisme dan Ukuran Kaping IV

Radikalisme dan Ukuran Kaping IV

- in Narasi
549
0
Radikalisme dan Ukuran Kaping IV

Ada seorang yang sama sekali tak peduli mana yang benar dan mana yang salah. Sementara orang yang lainnya sibuk membahas yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Adapula orang yang perlu mencari pembenaran atau penyalahan dengan merujuk pada ustadz atau kitab-kitabnya.

Dalam kearifan Jawa orang yang pertama hidup laiknya seorang bayi dimana kesadaran akan panasnya api ataupun dingginnya es belum tumbuh. Ia hidup dalam ukuran yang pertama (Ukuran Kaping I). Sementara orang yang kedua hidup seperti halnya remaja yang sudah tahu bahwa api itu panas dan air es itu dingin, namun ia tetap saja menyentuh api dan es itu. Orang ini, dalam spiritualitas Jawa, hidup dalam kuran yang kedua (Ukuran Kaping II). Adapun orang yang ketiga hidup dengan nalar yang karena api itu panas dan es itu dingin, maka ia kemudian memakai sapu tangan atau alat pengaman lainnya untuk menggunakannya. Orang yang demikian dikatakan telah hidup dalam ukuran yang ketiga (Ukuran Kaping III).

Kehidupan beragama pun tak luput pula dari perkembangan tingkat kesadaran tersebut. Tersebab sebuah kesadaran, maka faktor usia bukanlah sebuah faktor yang menentukan. Adakalanya orang yang muda usia sudah hidup dalam Ukuran Kaping III dan bahkan Ukuran Kaping IV. Sementara orang yang tampaknya sudah berumur justru hidup laiknya bocah dalam ukuran yang pertama. Oleh karena itulah Mangkunagara IV dalam Serat Wedhatama pernah mengukur tingkat kasepuhan berdasarkan minimalisnya hawa nafsu (Liring sepuh sepi hawa) dan bukannya pada tingkat usia.

Ukuran kasepuhan yang tak berdasarkan tingkat usia inilah yang juga manjadi ukuran dalam estetika Jawa dimana gerak pada seni tari, rupa pada seni rupa, dan suara pada seni musik, akan semakin tinggi dan luhur ketika semakin minimalis geraknya, rupanya, dan suaranya–yang bahkan sampai mengalir diam, tak berbentuk superti stupa tertinggi di Borobudur, dan halus serta hening laiknya lenguhan nafas.

Dalang terang salah seorang pemikir Jawa, R. Soedjanaredja, yang pernah dipercaya oleh Tan Khoen Swie untuk membuat sarah Serat Wedhatama, keempat ukuran kesadaran itu dapat dilambangkan dengan titik, garis, bidang, dan ruang. Orang yang hidup laiknya bayi dalam Ukuran Kaping I akan senantiasa mentok sehingga tak akan dapat ke mana-mana. Sementara ketika orang itu beranjak dalam kehidupan Ukuran Kaping II, ketika mentok, akan hidup dalam suasana garis yang hanya memiliki alternatif maju atau mundur. Pada orang yang hidup dalam Ukuran Kaping IIIalternatif yang dimiliki akan semakin plural laiknya hidup dalam bidang dimana selain maju dan mundur, ia akan dapat pula berbelok.

Ketika ditautkan dengan kehidupan beragama, maka kesadaran beragama yang terbentuk akan mengacu pada fenomena radikalisme beragama yang jelas-jelas adalah bentuk kesadaran terendah yang berkubang di Ukuran Kaping I. Kehidupan beragama orang dengan kesadaran seperti itu jelas adalah sebentuk kehidupan yang kering dan monoton laiknya menunggu ajal. Maka outputyang ditumbuhkan adalah bagaimana memuaskan diri sendiri tanpa peduli pada kepuasan orang lainnya. Aksi-aksi intoleran, radikalisme dan bahkan terorisme, tak ayal lagi, akan menjadi satu-satunya opsi yang diambil tersebab mentok-nya kesadarannya sebagai manusia normal yang ternyata tak mungkin hidup dalam satu dimensi kehidupan belaka. Taruhlah kesadaran yang tak sekedar sebagai hamba Tuhan yang mesti ber-amar ma’ruf nahi munkar, pada dasarnya akan berjalin-kelindan dengan kesadaran sebagai seorang anak, bapak, suami atau isteri, Pak RT, lelaki atau perempuan, dst.

Fakta-fakta kehidupan sebagai seorang anak, bapak, suami atau isteri, lelaki atau perempuan, Pak RT, dst., adalah sebuah fakta kehidupan lainnya yang mesti disadari dimana tak urung ukuran kesadarannya akan dapat pula beranjak pada Ukuran Kaping II dan bahkan Ukuran Kaping IV. Ketika ukuran kesadarannya berkembang, maka akan tampak bahwa kehidupan dan dunia akan terasa sulit dan senantiasa berkelit ketika hanya dikerangkeng dengan ukuran, misalnya, shalat atau tak shalat, Islam atau kafir, dsb.

Dalam bahasa agama, kearifan Jawa dimana idealnya Ukuran Kaping IV yang mesti diupayakan dan dijadikan pegangan dalam rangka memayu hayuning rat itu adalah ketika orang telah sampai pada maqam ridha dimana konon Tuhan pun akan ridha kepadanya. Dalam ungkapan Jawa ridha itu disebut dengan istilah “legawa”yang berkonotasi pada fenomena fisiologis pada kelegaan atau kelapangan dada. Demikianlah akar dari radikalisme dan bahkan terorisme dalam hacamata kearifan Jawa.

Facebook Comments