Zakat dan Praktek Berbagi Kasih

Zakat dan Praktek Berbagi Kasih

- in Keagamaan
1627
0

Apabila ingin mempertimbangkan sejauhmana keberpihakan Islam terhadap kaum miskin dan lemah maka zakat adalah ibadah yang representatif untuk menjawab hal tersebut. Melalui zakat, Islam tidak hanya menganjurkan umatnya untuk berbagi kasih dengan sesama terutama mereka yang tidak mampu, tetapi zakat juga proses pelembagaan nilai-nilai empatik sekaligus solidaritas terhadap problem keumatan.

Keseriusan Islam dalam persoalan berbagi kasih ini nampak jelas tidak hanya dari sekedar himbauan untuk memperhatikan dan memberi makan orang miskin, tetapi upaya mendekatkan spiritualitas kita kepada Tuhan. Dalam satu hadis Qudsy Allah bahkan mengangkat penderitaan kaum miskin seolah sebagai bagian dari Tuhan. Allah berkata : Wahai anak Adam, saya meminta makanan kepada mu tetapi kamu tidak memenuhi. Hamba itu menajwab: bagaimana aku dapat memberi makan sedangkan Engkau adalah penguasa alam semesta. Tidakkah kamu ingat bahwa hambaku meminta makanan kepadamu sedangkan kamu enggan memenuhinya, tahukah engkau seandainya engkau memberikan makanan terhadap hamba tersebut maka engkau telah memberikan makan padaKu. (HR Muslim).         

Pada prinsipnya sebagaimana disinggung dalam surat Adz Dzariyat : 19-20 “Dalam kekayaan mereka tersedia hak peminta-minta dan orang-orang yang hidup berkekurangan“. Ayat ini mengandung pengertian pemerataan kekayaan agar harta dan kekayaan tidak hanya dimonopoli oleh satu orang atau kelompok saja. Umat Islam harus menyadari bahwa kekayaan yang mereka miliki bukan semata milik mereka sendiri, di dalamnya terdapat hak-hak orang lain yang membutuhkan.

Sementara hikmah yang bisa diambil oleh para pemberi zakat adalah menanamkan semangat solidaritas dan empatik terhadap penderitaan kalangan bawah. Berzakat tidak sekedar menunaikan kewajiban semata, tetapi karena ada dorongan keprihatinan terhadap kaum yang lemah. Untuk hal ini Islam memberikan latihan bagi umat Islam melalui ibadah puasa.

Dalam ibadah puasa umat Islam dari status sosial manapun dapat merasakan penderitaan kaum lemah dengan menahan lapar dan haus selama siang hari. Tentu saja harapannya latihan ini akan menumbuhkan empati terhadap penderitaan orang yang tidak mampu. Tidak sekedar latihan saja, dalam bulan itu pula umat Islam diajarkan untuk melakukan tindakan praksis empati dan solidaritas sosial melalui zakat fitrah.

Zakat fitrah memang tergolong unik dibandingkan dengan zakat yang lain. Seluruh umat Islam baik dewasa maupun anak-anak dibebankan kewajiban untuk menunaikan ibadah ini. Tentu saja mengharapkan pengentasan kemiskinan melalui zakat fitrah adalah hal yang mustahil. Paling tidak melaui zakat ini fakir miskin dapat merayakan hari kemenangan, Idul Fitri dengan wajar sebagaimana dirasakan oleh masyarakat pada umumnya.

Zakat fitrah lebih bermakna apabila diartikan sebagai mengentaskan kemiskinan spiritual, menyucikan jiwa umat Islam dari sifat kikir, sombong, dan rakus agar bisa berbagi dengan masyarakat yang lain. Zakat fitrah adalah latihan untuk mengentaskan kemiskinan setelah selama bulan puasa umat Islam merasakan betapa menderitanya dan perihnya penderitaan yang sehari-hari dihadapi masyarakat yang tidak mampu.

Karena itulah, praksis yang sesungguhnya akan diuji pada bulan selanjutnya. Mampukah umat Islam mengambil hikmah dari Ramadhan dengan selalu merasakan penderitaan orang lain dan berbagi kasih dengan sesama pasca-Ramadhan? Dan muslim yang benar-benar bertakwa dan memiliki sikap empatik terhadap sesama mustahil akan memberikan bencana kekerasan apalagi terror terhadap yang lain. Berbagi kasih dan damai adalah bagian integral dari muslim yang dilatih penuh dalam bulan suci ini.

 

 

Facebook Comments