Gerakan Radikal dan Sikap Anti Sosial

Gerakan Radikal dan Sikap Anti Sosial

- in Wacana
2636
2

Kekuatan kelompok radikal makin membayangi masyarakat. Agitasi dan propaganda mereka lakukan secara massif, mulai dari pendekatan personal hingga ke dunia maya. Dari yang sekedar perlawanan etik individu terhadap realitas sampai tabuhan genderang perang.

Apa yang dilakukan kelompok radikal ini diakui mulai meresahkan sejumlah kalangan. Dari mulai skala negara hingga skala keluarga merasa berkeberatan dengan perkembangan gerakan ini. Para agamawan pun resah, mengingat ajaran yang mereka dengungkan justru bertolak belakang dengan konsep rahmatan lil ‘alamin yang selama ini diterima secara umum. Sebuah kebenaran agama yang mengajarkan umatnya untuk hidup harmoni dalam perbedaan.

Dr. Inger Furseth dan Dr. Pal Repstad menyebut bahwa landasan utama bagi sebagian orang menjadi radikal adalah apa yang disebut dengan ‘deprivasi’, yaitu sebuah kondisi dimana kualitas hidup berada dibawah dari apa yang diharapkan. Dalam buku berjudul an Introduction to the sociology, mereka menjelaskan bahwa deprivasi memiliki tiga bagian.

Pertama, deprivasi psikis, yakni sebuah kondisi dimana seseorang gagal memiliki pemahaman yang baik atas dirinya terhadap dunia di sekelilingnya. Orang dengan deprivasi psikis cenderung merasa bahwa dirinya berbeda, atau bahkan tertolak dari orang-orang yang ada di sekelilingnya. Tidak jarang orang dengan deprivasi jenis ini cenderung ingin keluar dari lingkungannya dan pindah ke lingkungan yang menurutnya tepat untuk dirinya.

Kedua, deprivasi etis. Adalah kondisi dimana sistem nilai personal bertentangan dengan nilai yang dianut oleh masyarakat setempat. Apa yang ia anggap benar bertolak belakang dengan anggapan masyarakat umum. Sehingga apa yang ia yakini sebagai nilai utama tertolak oleh masyarakat di sekitarnya. Ketika mengalami deprivasi etis, alih-alih bersedia untuk ‘berdamai’ dengan anggapan umum yang diterima masyarakat, ia justru semakin kuat meyakini kebenaran ‘versinya’ itu. Sehingga ia resisten terhadap kebenaran umum yang dianut oleh masyarakat setempat.

Ketiga, deprivasi eksistensial. Ialah sebuah kondisi dimana seseorang merasa tidak bahagia dengan kehidupannya tatkala ia masuk dalam proses pemaknaan kehidupan. Orang dengan kondisi ini cenderung resah dan gampang marah. Ia memiliki bayangan utopis tentang kebahagiaan yang akan ia capai.

Dari ketiga deprivasi di atas, terdapat satu kesamaan utama yang membuat ketiganya tetap serupa meski tak sama, yakni sikap anti sosial. Delusi tentang nilai utama yang mereka bayangkan membuat mereka buta terhadap realitas sosial. Apa yang ada di kepala mereka hanyalah dorongan untuk segera keluar dan melakukan hal-hal besar yang akan membuat mereka merasa menemukan diri mereka yang sesungguhnya. Aroma ‘balas dendam’ terasa sangat kuat dalam setiap hal yang mereka lakukan.

Jika ditarik pada konteks dorongan untuk bergabung dengan kelompok radikal teroris seperti ISIS, maka dapat dipastikan bahwa siapapun yang bergabung dengan ISIS adalah orang-orang yang tidak memiliki kepedulian sama sekali dengan lingkungan sekitar, sehingga mereka tidak akan segan untuk melakukan berbagai tindakan onar.

Pandangan bahwa masyarakat menolaknya membuat orang dengan deprivasi merasa bahwa masyarakat layak untuk diberi pelajaran, termasuk pelajaran dengan jalan kekerasan. Oleh karenanya mereka akan sangat jarang merasa bersalah, sebab dalam kacamata mereka yang paling bersalah justru masyarakat. Bom bunuh diri bukan kejahatan, karena menurut mereka hal tersebut hanyalah salah satu cara untuk memberikan pelajaran dan teror mereka anggap sebagai cara untuk membuat masyarakat sadar.

Facebook Comments