Indonesia Islam bukan Islam Indonesia

Indonesia Islam bukan Islam Indonesia

- in Keindonesiaan
1870
0

Tulisan ini bertujuan menguatkan komitmen bahwa kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam dan bukan sama sekali orang Islam yang ada di Indonesia; hanya datang dan tinggal dengan aksesoris yang tidak mencerminkan pribadi dan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Sepintas serupa tapi tidak sama, kelihatan tidak memiliki perbedaan yang esensi karena hanya memutar kata saja. Persamaannya adalah berkenaan dengan negara Indonesia yang mengakui keberadaan umat Islam sebagai jumlah komunitasnya yang paling besar, yang berhubungan pula dengan agama Islam yang sudah eksis sejak awal terbentuknya negara Indonesia yang sarat dengan nilai-nilai agama yang hidup di dalam masyarakat Indonesia sebagai cerminan bangsa yang memiliki watak dan jati diri tersendiri.

Istilah tersebut dimunculkan oleh komunitas generasi muda Nahdlatul Ulama (NU) yang tergabung dalam gerakan kebangsaan menumpas ancaman radikalisme agama yang menamakan diri sebagai organisasi ‘densus 99’. Serupa tapi tidak sama dengan kekuatan negara yang dibentuk Kepolisian Republik Indonesia yaitu satuan tugas ‘densus 88’ anti teror, yang berhasil menumpas semua aksi teroris, mulai dari kategori bom bunuh diri, bom buku, bom sepeda, bom pipa hingga pada bom yang menggunakan zat kimia, mematikan tetapi secara fisik bangunan tidak ada yang rusak.

Gerakan pemuda Anshor memunculkan istilah dan gerakan massa bernama Densus 99, gerakan ini bertujuan menjaga keutuhan negara Kesatuan Republik Indonesia terutama dari ancaman ideology. Karena jika ancaman fisik terhadap terotori negara kesatuan republik Indonesia ditumpas oleh militer, maka ancamana ideologi Pancasila tentu tidak dapat dilawan dengan kekuatan fisik dan persenjataan modern sekalipun, itulah dasar lahirnya Densus 99.

Serangan ideologi baik yang berhaluan kiri maupun kanan setiap saat dapat menyerang keutuhan Indonesia. Penanaman doktrin Pancasila bagi seluruh warga negara Indonesia harus diperkuat dan ditingkatkan secara terus menerus, sesuai dengan kebutuhan, tantangan dan problematika setiap generasi yang memiliki dinamika yang sangat tinggi.

Hal itu adalah tugas dan tanggung Jawab bersama seluruh lapisan masyarakat beserta segenap komponen bangsa dalam menguatkan jati diri anak bangsa dalam memahami eksistensi dan keberadaan mereka di Indonesia. Jati diri sebagai bangsa Indonesia yang kini mulai terkikis menyebabkan tidak adanya daya saing; daya kompetisi dalam mengisi kemerdekaan dan pembangunan di segala sektor mulai menurun, sehingga berimbas pada posisi bangsa Indonesia di mata dunia.

Tidak sedikit generasi muda yang mengalami galau dan risau, utamanya dalam memahami posisi agama dan negara. Hal ini setidaknya ditunjukkan dengan masih adanya anggapan yang menyangka bahwa Arabisasi sama dengan Islamisasi. Anggapan semacam ini bahkan melebar dengan mengira bahwa semua yang berasal dari negeri Arab sudah pasti Islam. Fenomena ini bahkan kini telah mewabah di banyak masyarakat Islam Indonesia.

Hal ini tentu berimbas langsung pada model pemaknaan terhadap symbol, dahulu bila orang-orang menyaksikan seorang santri yang berbusana laiknya orang Arab, mereka pasti akan bertanya “Akan memberi pengajian dimana, Ustadz? Tapi kini, kalau ketemu orang yang berbusana Arab di tengah perjalanan, orang bias dengan mudahnya usil dan bertanya, “Mau mengebom dimana, nih?” hal ini adalah salah satu tanda kriminalisasi atas budaya dan kebiasaan suatu masyarakat. Karenanya harus  dikikis sebelum tambah miris. Opini yang benar harus dibangun, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa semua yang berbau Arab pasti terkait dengan pengeboman, tetapi jangan pula mengira bahwa semua yang khas Indonesia akan mencegah kita masuk surga.

Karenanya mempelajari Islam harus dilakukan secara utuh. Ada banyak bidang keilmuan yang umum digunakan masyarakat Indonesia untuk memudahkan dalam mempelajari sumber utama syariat Islam, seperti; bahasa arab, ilmu tafsir, ilmu hadist, ilmu ushul fiqh, ilmu mantiq, ilmu tarikh dan ilmu balagah, dst. Kesemuanya merupakan bidang keilmuan yang sangat menunjang dalam memahami dasar dan cabang ilmu agama terkait dnegan aqidah, syariah dan akhlak.

Tradisi mempelajari dan mendalami aneka macam keilmuan tersebut wajib terus dijaga dan dikembangkan, agar masyarakat dapat menafsirkan dan memahami ajaran agama yang sesuai dengan watak Indonesia, membumi di atas persada nusantara. Namun setelah memahami onderdil keilmuan yang digunakan mengkaji Islam dari sumber aslinya, harus pula dilibatkan ilmu penunjang lainnya yang dapat menyempurnakan wajah Indonesia yang Islami. Di antara ilmu tersebut adalah sosiologi, sejarah, antropologi dan psikologi.

Integrasi keilmuan di atas dapat menumbuhkan produk pemikiran yang tetap mencerminkan wajah Indonesia yang Islami. Mereka tetap menjadi orang Indonesia yang Islam, bukan sebaliknya, menjadi orang Islam yang hanya ada dan numpang di Indonesia. Kita semua adalah orang Indonesia yang beragama Islam, namun bukan orang Islam yang ada di Indonesia.

About the author

Irfan Idris
Alumnus salah satu pesantren di Sulawesi Selatan, concern di bidang Syariah sejak jenjang Strata 1 hingga 3, meraih penghargaan dari presiden Republik Indonesia pada tahun 2008 sebagai Guru Besar dalam bidang Politik Islam di Universitas Islam Negeri Alauddin, Makasar. Saat ini menjabat sebagai Direktur Deradikalisasi BNPT.

Related Posts

Facebook Comments